Perkara Long Ball

Foto: FC St. Pauli

Long ball terdengar kuno dan membosankan. Namun, pada kaki-kaki yang tepat, long ball bisa menjadi senjata mematikan.

Moralis selalu ada dalam sepak bola. Jika berbicara pada era setelah terbitnya sepak bola ala Pep Guardiola, moralis-moralis sepak bola muncul untuk menegasikan pelbagai hal di luar penguasaan bola dan umpan-umpan pendek.

Istilah parkir bus lantas muncul. Tim yang memutuskan bermain menunggu dan reaktif diolok-olok. Pelatih yang hanya mengandalkan strategi transisional dicap miskin taktik. Long ball menjadi sesuatu yang tak layak untuk dilakukan. Permainan direct dianggap membosankan.

Padahal, dalam sepak bola di mana yang dicari adalah kemenangan, tak ada cara main yang benar selama itu berlandaskan pada sportivitas. Persetan soal gaya, pendekatan bermain, ketika peluit akhir berbunyi yang dihitung hanyalah tim mana yang mencetak lebih banyak gol dari lawannya.

Jika ingin dilihat dari sudut pandang lain, pelbagai pendekatan sebenarnya bergantung pada apa yang dimiliki sebuah klub. Ini bukan hanya soal klub A punya skuad yang lebih baik atau mahal dari klub B, tapi soal bagaimana gaya main tertentu adalah yang terbaik yang bisa klub A miliki mengingat komposisi yang mereka punya.

Dalam hal ini saya ingin mengambil contoh soal tim yang hobi bermain long ball, direct lewat umpan-umpan jauh. Well, cara ini mungkin lebih identik dengan tim-tim yang punya skuad pas-pasan. Tak heran bila di Premier League, misalnya, tim yang palin sering melepas umpan jauh adalah Everton Di LaLiga ada Getafe.

Namun, long ball juga menjadi senjata bagi tim-tim yang secara skuad atau permainan lebih superior di liganya. Mau contoh? Real Madrid di LaLiga, Liverpool di Premier League, dan St. Pauli 2. Bundesliga. Jika pertanyaannya adalah mengapa, jawabannya adalah karena ketiga tim tersebut punya pemain-pemain yang bisa membuat long ball menjadi senjata mematikan.

Real Madrid di bawah Ancelotti memang punya penguasaan bola 60% di LaLiga. Namun, itu terjadi secara natural seiring makin reaktifnya lawan-lawan yang mereka hadapi. Madrid di era Ancelotti lebih cocok disebut tim dengan basis transisional dan direct—karenanya Ancelotti acap dicap miskin taktik. Tengok saja kiprah mereka di Liga Champions saat menghadapi tim yang relatif setara.

Jika ditengok ke dalam, sebenarnya amat masuk akal buat Madrid untuk menggunakan pendekatan direct itu. Mengapa? Karena mereka punya seorang Toni Kroos dan bek macam David Alaba atau Antonio Rüdiger. Lewat mereka, Madrid bisa leluasa mengirim umpan-umpan panjang ke depan untuk melewati lapisan pertahanan lawan yang menumpuk.

Musim ini, Madrid merupakan tim keempat terbanyak soal urusan melepaskan umpan jauh sukses per 90 menit. Catatan mereka 41,9 umpan. Madrid berkumpul di antara tim-tim macam Osasuna, Getafe, dan Rayo Vallecano dalam kategori tersebut. Namun, soal urusan akurasi, Madrid tak ada dua. Akurasi 65% umpan jauh sukses per 90 menit milik mereka adalah yang terbaik di Liga.

Kroos sebagai pemain dengan umpan lambung terbanyak di tim memiliki persentase sukses 70%. Rüdiger dan Alaba hampir menyentuh angka 60%. Bahkan Statsbomb baru-baru ini memunculkan nama Kroos sebagai pemain dengan catatan line-breaking passes (umpan membelah lapisan pertahanan lawan) terbanyak per 90 menit di top 5 liga Eropa.

Apa yang dilakukan Madrid kemudian juga dilakukan oleh Liverpool. Bahkan dalam level yang lebih masif. Liverpool musim ini menjadi tim nomor dua dalam urusan melepaskan long ball. Rerata mereka melepaskan 75,5 umpan panjang per 90 menit, hanya kalah dari Everton. Catatan umpan jauh kompletnya pun terbanyak kedua, dan persentase sukses menyentuh angka 59%.

Alasan Liverpool pun sama dengan Madrid. Mereka punya sumber daya pemain yang mampu membuat mereka mengeksekusi long ball jauh lebih baik dari kebanyakan tim. Di Liverpool, Trent Alexander-Arnold dan Virgil van Dijk adalah aktornya. Keduanya telah melepaskan lebih dari 150 umpan jauh sejauh ini. Akurasi Van Dijk bahkan mencapai angka 73%.

Untuk Alexander-Arnold sendiri, inilah alasan mengapa Jürgen Klopp memberinya peran baru untuk lebih sering masuk dan beroperasi di area tengah. Klopp ingin memaksimalkan kemampuan Alexander-Arnold dalam melepas umpan jauh untuk membuat Liverpool lebih direct. Bayangkan, rerata per 90 menit Alexander-Arnold melepas 21,3 umpan jauh (catatan terbanyak di liga buat outfield player).

Mengapa Liverpool lebih direct? Sebab, bermusim-musim mereka kesulitan membongkar pertahanan rapat dan berlapis dari lawan-lawannya melalui skema umpan-umpan pendek. Karena itu, Klopp ingin mengeliminasi lapisan tersebut dengan umpan panjang Alexander-Arnold, agar serangan lebih cepat sampai dan pemain depan bisa menerima di ruang yang lebih luas.

Buat St. Pauli, idenya pun serupa. Memang secara jumlah mereka tidak segila Liverpool. Namun, secara ide sama. Baru akhir pekan kemarin saya menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana St. Pauli menjadikan umpan jauh sebagai senjata utama dalam menyerang. Alasannya, ya, karena lawan di hari itu, FC Kaiserslautern, bermain menunggu dengan pertahanan berlapis untuk menutup akses St. Pauli berporgres melalui umpan-umpan pendek.

Pada babak kedua pertandingan itu, St. Pauli melepaskan 20 umpan jauh. Jumlah terbanyak kedua yang pernah mereka lepaskan dalam satu babak pertandingan di 18 laga yang sudah berlangsung musim ini. Dan hampir setengah (sembilan umpan jauh) pada babak kedua itu dilepaskan oleh seorang pemain. Eric Smith namanya.

Jika Real Madrid punya Kroos, Liverpool punya Alexander-Arnold, St. Pauli punya Smith. Cara mereka bermain mirip, perannya pun serupa. Mereka adalah konduktor penguasaan bola tim, penentu arah serangan. Mereka adalah pemain yang bisa melepas umpan-umpan jauh ke depan dengan akurat untuk mengeliminasi tumpukan lawan. Lurus atau diagonal, lambung atau mendatar, tak jadi soal.

Pada laga melawan Kaiserslautern itu, 7 dari 10 umpan jauh Smith sukses sampai di kaki rekannya. 70% persentase kesuksesannya. Di musim ini secara keseluruhan, persentase kesuksesannya mencapai angka 67%. Ia adalah kunci permainan direct tim, memberikan variasi ketika St. Pauli mendapati lawannya bermain menunggu, menutup ruang-ruang progresi.

Memang umpan lambung tak seluruhnya menghasilkan asis. Kroos bukanlah pemain yang mencatatkan dua digit asis tiap musimnya. Alexander-Arnold baru mengemas tiga asis sejauh ini. Smith juga tak memberi asis pada laga melawan Kaiserslautern dan baru dua yang ia buat sepanjang musim.

Akan tetapi, apa yang mereka lakukan jauh melebihi itu. Merekalah pemain-pemain yang memastikan bola sampai di depan, sehingga para pemain lainnya bisa bikin asis dan mencetak gol. Mereka adalah perancang serangan. Maka, jangan remehkan long ball. Cara ini mungkin terkesan kuno dan acap dinilai membosankan. Namun, pada kaki-kaki yang tepat, long ball bisa menjadi senjata mematikan.