Pramusim Buruk, Pertanda Buruk bagi Bayern Muenchen?

Foto: @FCBayern.

Bayern Muenchen tak meraih satu pun kemenangan selama pramusim jelang 2020-21 bergulir. Tiga kekalahan dan sekali imbang, itulah catatan mereka. Lantas, apakah ini pertanda buruk?

Pramusim berakhir. Bagi Bayern Muenchen, lebih banyak tanda-tanda buruk ketimbang pertanda baik yang terlihat. Empat pertandingan mereka jalani, tak satu pun yang berujung kemenangan. Mereka kalah 2–3 saat melawan FC Koeln, takluk 0–2 dari Borussia Moenchengladbach, imbang 2–2 dengan Ajax Amsterdam, serta dihajar Napoli 0–3.

Lantas, Julian Nagelsmann yang kini menjabat sebagai pelatih jadi sorotan utama. Sorotan jadi kian kencang sebab kali terakhir Bayern sama sekali tak meraih kemenangan pada pramusim terjadi 23 tahun lalu alias sudah lama sekali, Bung dan Nona sekalian.

Sebetulnya sudah sejak pertama kali diumumkan Nagelsmann jadi sorotan. Terlepas dari catatan menterengnya di Hoffenheim dan RB Leipzig, orang-orang masih mempertanyakan kesiapan dia sebagai juru taktik. Mau bagaimana lagi, selain usianya yang masih terbilang muda, Bayern jelas berbeda dengan dua klub tersebut.

Sebelum menaklukkan semua lawanmu, kamu mesti menaklukkan apa-apa yang ada di klub terlebih dahulu: Para pemain dan manajemen. Dua-duanya mesti seiring-sejalan sebab percuma kamu disukai pemain tetapi punya hubungan buruk dengan para petinggi atau sebaliknya. Hansi Flick dan Carlo Ancelotti adalah korbannya.

Selain itu, tuntutan untuk meraih kemenangan demi kemenangan dan gelar demi gelar juga teramat besar.

Seperti itulah Bayern, seperti itulah tantangan yang Nagelsmann hadapi. Sangat wajar jika akhirnya ia jadi sorotan. Sangat wajar jika sejumlah kritik mulai berdatangan ke arahnya.

Namun, menyasarkan segala capaian buruk di pramusim kepada seorang Nagelsmann tidak sepenuhnya tepat. Betul bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi di lapangan, tetapi sebelum itu, kita mesti memahami situasinya terlebih dahulu.

Pelatih berusia 34 tahun itu tiba pada salah satu masa transisi terbesar dalam sejarah Bayern. Yang digantikan lebih dari sekadar Arjen Robben atau Franck Ribery. Mereka baru saja ditinggal dua sosok paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir: Karl-Heinz Rummenigge dan Uli Hoeness di jajaran petinggi.

Dari segi skuad, perubahan yang terjadi juga cukup kentara. Oliver Kahn yang ditunjuk sebagai CEO anyar Bayern boleh saja dengan lantang berkata bahwa timnya saat ini masih sangat bisa diandalkan sebab baru saja meraih tujuh gelar dalam dua tahun terakhir.

Yang mesti dipahami, tujuh gelar tersebut mereka peroleh dengan skuat yang berisikan Thiago Alcantara, Ivan Perisic, Philippe Countinho, Jerome Boateng, David Alaba, dan Javi Martinez. Semuanya punya peran penting dan semuanya tak lagi berseragam Bayern per musim depan.

Gerbong kepergian pemain bahkan belum rampung. Chris Richards kabarnya bakal dilepas, begitu pula dengan Corentin Tolisso dan Mickael Cuisance. Ini belum menghitung beberapa pemain lain yang dipinjamkan seperti Alexander Nuebel dan Joshua Zirkzee.

Di tengah kondisi demikian, Bayern mesti berhadapan dengan fakta bahwa pandemi tak kunjung hengkang. Dampak dari situasi ini serius karena finansial jadi bermasalah. Ujung-ujungnya, untuk mendatangkan pemain seharga 20 juta euro saja Bayern mesti berpikir setengah mampus.

Die Roten sejauh ini baru mendatangkan Dayot Upamecano dan Omar Richards serta memulangkan Sven Ulreich. Hanya Upamecano yang bisa dianggap rekrutan penting. Masuk akal bila Lotthar Matthaeus berkata bahwa eks timnya itu bakal kesulitan mengingat skuat yang terbilang tipis.

“Bayern masih menjadi favorit teratas di Bundesliga dan salah satu kandidat untuk memenangi Liga Champions, tetapi tim harus memiliki kedalaman yang lebih baik karena ada pertandingan di tengah pekan dan pertandingan internasional yang akan datang di musim gugur,” kata Matthaeus.

“Thomas Mueller, misalnya, yang bermain bagus dalam dua musim berturut-turut, kini kembali bersama tim nasional dan karena itu bebannya jadi lebih berat. Secara keseluruhan, skuat telah memburuk selama beberapa tahun terakhir, dan hierarki baru harus dibentuk terlebih dahulu.”

Masalah kedalaman skuat sudah jadi keluhan Flick sejak musim lalu. Perkara ini sampai membuat ia berselisih dengan Direktur Olahraga Hasan Salihamidzic. Konon, jajaran manajemen juga tak menyukai sikap Flick yang dinilai terlalu banyak menuntut.

Menurut Flick, skuatnya saat memenangi treble jauh lebih berkualitas dan komplet ketimbang musim lalu. Melihat masalah cedera yang datang menerpa, kemudian raihan yang hanya mentok satu gelar Bundesliga, apa yang Flick ungkapkan ada benarnya.

Musim ini, setidaknya sebelum semuanya benar-benar dimulai, tak ada tanda-tanda bakal berubah. Raphael Honigstein dalam artikelnya di The Athletic bahkan berkata bahwa penurunan kualitas skuat saat ini tampak lebih mengkhawatirkan ketimbang musim lalu.

Klaim tersebut semakin terasa tepat karena sejumlah pemain sudah mulai bergelut dengan cedera. Ada Lucas Hernandez, Marc Roca, Alphonso Davies, dan Kingsley Coman. Musim belum dimulai, tetapi berbagai situasi pelik terus-menerus datang ke hadapan Nagelsmann tanpa aba-aba.

Nagelsmann sendiri memulai pramusim tak lama setelah helatan Euro 2020 berakhir. Ini jadi masalah lain sebab cukup banyak pemain Bayern yang turut serta. Dengan begini, sebagian besar terpaksa bergabung ketika pramusim menyisakan beberapa pekan saja.

Nah, Nagelsmann memulai masa awal persiapan tanpa para pemain tersebut. Masa persiapan ini pun sebetulnya amat terbatas. Pertama, karena waktu yang amat sempit. Kedua, tidak ada kamp pelatihan seperti yang kerap Bayern lakukan pada musim-musim sebelumnya.

“Semua orang bisa melihat tim (Bayern) seperti apa yang kami mainkan sejauh ini. Ada banyak dari mereka yang tidak akan sering tampil di Bundesliga,” ujar Nagelsmann.

Kalau ada sedikit hal baik dari pramusim Bayern yang buruk ini, itu adalah kesan positif para pemain terhadap Nagelsmann. Banyak yang menyukai caranya berkomunikasi, juga ide-ide yang ingin ia terapkan, meski beberapa menilai butuh waktu agar semuanya bisa terlaksana dengan sempurna.

“Julian Nagelsmann memiliki banyak ide. Dia bicara dengan cepat dan mengatakan cukup banyak hal dalam waktu singkat,” tutur Coman kepada beIN Sports.

“Kami membutuhkan waktu yang agak lama agar bisa terbiasa dengan metode dan taktik Nagelsmann. Tapi, saya yakin kami akan menjadi tim yang sangat kuat ketika sudah memahami keinginan Nagelsmann."

Hal lain yang juga bisa menjadi sedikit angin segar adalah mencuatnya beberapa pemain akademi, sesuatu yang langka dari Bayern dalam beberapa tahun terakhir. Torben Rhein membukatikan bahwa omongan-omongan bagus tentangnya sangat berlasan, begitu pula dengan Armindo Sieb.

Mengingat ada kemungkinan Bayern tak bakal mendatangkan pemain baru lagi musim panas ini — kecuali ada penjualan berarti, para pemain akademi tersebut bisa menjadi cara Nagelsmann mengakali situasi pelik ini. Satu yang pasti: Ia butuh waktu untuk mengintegrasikan semuanya.

“Dibutuhkan sedikit waktu untuk membuat semuanya menyatu. Ini benar-benar normal. Ketika Anda (wartawan) kembali dari liburan selama empat pekan, terkadang Anda tidak langsung menemukan ‘L’ di keyboard. Sama halnya dengan para pemain,” ungkap Nagelsmann.

Bayern sedang dalam masa transisi. Terlalu dini menyebut semua yang mereka alami selama pramusim sebagai pertanda buruk — lagi pula cuma pramusim. Kalaupun musim buruk betul-betul mendatangi mereka, setidaknya kita akan melihat Bundesliga yang sedikit lebih menarik.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.