Ruang untuk Jesus

Selebrasi Gabriel Jesus. Foto: @dejesusoficial.

Ada ruang besar bagi Gabriel Jesus untuk tampil memesona usai Pep Guardiola memainkannya sebagai penyerang sebelah kanan.

Pep Guardiola bukan pelatih gegabah. Ia selalu menimbang ini-itu sebelum mengambil keputusan. Selain statistik dan hal-hal matematis, ia juga mempertimbangkan hasil dialog dengan pemain.

"Saya sudah berbicara dengan Gabriel Jesus."

Itu adalah sebagian pernyataan Guardiola untuk menjawab pertanyaan wartawan mengenai keputusan memainkan Jesus sebagai penyerang sebelah kanan saat Manchester City melawan Norwich City pada laga kedua Premier League 2021/22.

Selain itu, Guardiola melontarkan banyak penjelasan. Pertama-tama, ia memaparkan perbedaan ruang dan waktu antara penyerang tengah dan penyerang sayap dalam skema yang ia terapkan.

Penyerang sayap, kata Guardiola, memiliki ruang lebih luas untuk bergerak. Waktu si pemain untuk mengambil keputusan pun lebih panjang dari penyerang tengah.

Sementara penyerang tengah, selain wajib memiliki insting mencetak gol yang buas, juga harus punya kepekaan luar biasa dalam mengambil keputusan. Sebab, ruang dan waktu yang dimiliki si pemain hanya sepersekian detik sebelum bek lawan menekan dari segala sisi.

Jesus jelas mengantongi insting mencetak gol. Ia juga jago mencari ruang-ruang kosong di kotak penalti lawan. Tapi, respons Jesus saat menguasai bola di kotak penalti tidak lebih baik dari Ferran Torres.

"Jesus lebih suka bermain di posisi dengan ruang lebih luas ketimbang saat berada di tengah. Dan Torres memiliki kepekaan yang besar untuk mencetak gol. Saya akan mengatakan bahwa Torres sedikit lebih baik dari Jesus ketika bermain di posisi tengah," kata Guardiola sebagaimana mengutip The Athletic.

Dalam penilaian Guardiola, Jesus merupakan pemain yang dapat memanjakan rekannya dengan umpan-umpan silang. Pergerakan Jesus yang kerap turun ketimbang mendekati gawang menjadi salah satu alasannya. 

Jesus tidak menampik penilaian-penilaian terbaru Guardiola kepadanya. Selama kesempatan bermain ia dapatkan, apa yang dikatakan pelatihnya bukanlah hal rumit yang harus ia pikirkan dalam-dalam. Yang perlu ia lakukan hanya bersalin rupa.

"Saya mengakui, saya perlu meningkatkan penyelesaian akhir. Terkadang, saya melakukan operan ketika saya seharusnya menendang bola," kata Jesus dilansir The Guardian.

Performa Jesus sebagai penyerang sebelah kanan saat melawan Norwich sungguh memesona. Ia merangkum dua asis dalam laga tersebut. Gol bunuh diri Norwich pun bersumber dari umpan silang Jesus dari sisi kanan.

Intuisi Jesus sebagai penyerang sayap meletup-letup. Ia tahu kapan harus berlari ke ruang kosong atau mendekati pemain yang menguasai bola ketika menyerang. Kecepatannya pun beberapa kali membuat bek sayap Norwich, Dimitris Giannoulis, kelimpungan.

Untuk mengadang kecepatan Jesus, pelatih Daniel Farke menarik keluar Giannoulis dan memasukkan Bali Mumba pada awal babak kedua. Kendati begitu, Jesus sulit terbendung. Ia masih mampu menusuk dan mengirim umpan silang ke depan gawang lawan.

Koneksi Jesus dan Kyle Walker di sisi kanan tergolong oke. Kedua pemain itu saling memahami. Walker tahu kapan harus menyodorkan terobosan ke belakang bek sayap. Pun demikian dengan Jesus. Ia paham betul kapan waktu berlari cepat mengejar bola.

Foto: The Athletic

Tengok proses gol kedua City. Walker-Jesus saling menatap. Mereka tampak berkomunikasi melalui gerakan tubuh. Ketika Jesus sudah siap berlari, Walker menyodorkan umpan terobosan.

Jesus berlari kencang. Giannoulis yang menempel ketat Jesus tertinggal beberapa langkah. Setelah masuk ke kotak penalti, Jesus mengirim operan silang. Bola tersebut mengenai lutut kiri Jack Grealish dan masuk ke dalam gawang.

Gol keempat City pun terjadi dengan skema yang sama. Saat memegang bola, Walker akan melihat pergerakan Jesus. Setelah semua siap, ia mengirim umpan panjang. Jesus berlari dan mengirim umpan kepada Raheem Sterling. Hanya dengan satu sentuhan, Sterling bisa menggetarkan jala gawang Norwich.

Jika City menyerang dari sisi kiri, Jesus akan bergerak mencari ruang kosong dari lini kedua. Ia tidak ikut berduel saat umpan silang disodorkan. Ia justru bersiap-siap mengambil bola muntah.

Keberadaan Walker membantu Jesus lepas dari tekanan. Walker menjadi opsi umpan terbaik Jesus. Dalam pertandingan melawan Norwich, Walker jarang sekali menyisir tepi lapangan. Ia seperti diinstruksikan untuk meng-cover Jesus.

Heatmap Gabriel Jesus saat lawan Norwich City pada laga kedua Premier League 2021/22. Foto: sofascore.com

Daya ledak Jesus turut ditopang oleh Bernardo Silva. Pergerakan tanpa bola pemain Portugal itu mampu merusak bentuk pertahanan lawan dan menciptakan ruang yang bisa dimanfaatkan Jesus maupun Walker untuk menyodorkan bola.

Silva pun tidak jarang bergerak mendekat Jesus dan berlari ke tepi lapangan. Kehadiran Silva memudahkan Jesus untuk bergerak dan menerima umpan Walker. Umpan-umpan diagonal Rodri dari tengah lapangan turut melayani Jesus.

Melihat efektivitas dan agresivitas serangan City, Sam Lee dari The Athletic mengingatkan kepada semua orang untuk tidak kaget apabila melihat Jesus akan sering berposisi sebagai penyerang sebelah kanan dalam beberapa bulan ke depan, termasuk saat City melawan Arsenal pada pekan ketiga Premier League 2021/22.

***

Telpon Jesus berdering setelah mencetak gol. Ia buru-buru berlari ke tiang sepak pojok, meletakkan tangan ke telinga, dan berkata "Alo Mae!"

Musim 2021/22, mungkin saja, Jesus akan sepi panggilan. Ibunya tidak akan sering menghubunginya. Sebab, kans Jesus untuk mencetak gol akan semakin minim apabila Guardiola konsisten memainkan Jesus sebagai penyerang sebelah kanan.

Mengacu FBref, expected goals (xG) Jesus musim lalu 0,38 per laga. Angka itu turun tajam musim ini menjadi 0,07 per laga. Meski Premier League 2021/22 baru berjalan dua laga, penurunan itu membuktikan bahwa kans Jesus mencetak gol menjadi minim atau sangat minim.

Oh, ya, xG itu diukur dari beberapa situasi, di antaranya cara si pemain menembak, jarak antara pemain dan gawang, dan sudut di mana pemain berada. Khusus untuk jarak pemain dan gawang, Jesus akan menjauh manakala terus berposisi sebagai penyerang sayap kanan.

Meski jaraknya tidak jauh-jauh amat berbeda karena sama-sama berposisi sebagai penyerang, tapi itu tetap berpengaruh dengan kans pemain mencetak gol. Musim ini, mungkin saja, Jesus akan seret gol, tetapi kran asisnya diprediksi mengalir deras.

Kembali mengacu FBref, expected assist (xA) Jesus musim lalu 0,15 per 90 menit. Sedangkan, musim ini, xA Jesus melonjak menjadi 0,57 per 90 menit.

Jika itu terjadi, sebaiknya Jesus menelpon ibunya. Ia harus berbicara bahwa gol dan asis sama-sama penting untuk kemenangan tim. Di akhir percakapan, Jesus kudu meminta ibunya tetap menelepon dirinya saat mencatatkan asis.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.