Saatnya Menyambut Cristian Romero

Foto: @SpursOfficial

Seantero Italia sudah mengakui kehebatan Romero. Bagaimana dengan Premier League?

Berbekal syal dan jaket tebal, Fabio Paratici duduk di kursi penonton. Musim dingin sedang melanda Polandia saat itu. Suhunya di bawah nol derajat. Rumput-rumput memutih dan gundukan salju berjejal di pinggir lapangan.

Pada kesempatan yang lain Paratici bisa terlihat memakai jas kasual di wilayah tropis saat berkelana ke Quito, Ekuador. Di negara yang dibelah garis khatulistiwa itu ia mencari pemain muda potensial. Begitulah Paratici bekerja. Mengendus bakat kemudian memboyong ke klubnya.

Paratici pernah menjadi pemain sepak bola meski itu tak lama. Ia memilih pensiun muda. Setelahnya, Paratici bertugas memasok pemain berbakat ke Sampdoria. Ia bekerja sama dengan Giuseppe Marotta dalam tugasnya. Sementara Paratici berkeliling mencari pemain, bertemu agen, dan mengumpulkan informasi pendukung, Marotta mengurus keuangan dan operasional klub.

Mauro Icardi salah satu temuan pentingnya. Kita tahu, striker Argentina itu tak hanya membantu Sampdoria menghindari degradasi, tetapi juga menghasilkan uang yang banyak dari hasil penjualannya.

Kombinasi Marotta-Paratici kemudian menarik minat Andrea Agnelli. Ia memboyong tiga perangkat penting Sampdoria sekaligus: Marotta, Paratici, sang allenatore Luigi Delneri. Maklum, La Samp menjadi sensasi di musim 2009/10 itu. Mereka finis di posisi keempat, dua setrip di atas Juventus.

Setelahnya adalah sejarah. Lewat rekrutan jitunya, Paratici berperan besar dalam mengembalikan hegemoni Juventus. Bukan hanya tepat guna, tetapi juga hemat biaya. Andrea Barzagli didatangkan dari Wolfsburg dengan harga cuma sekitar 260 ribu poundsterling. Belum ditambah dengan Andrea Pirlo, Paul Pogba, Kingsley Coman, Sami Khedira, serta Dani Alves yang didapat secara cuma-cuma.

"Paratici menginginkanku dan aku akan memberikan yang terbaik," ujar Cristian Romero. Ya, Paratici menjadi alasan terbesar mengapa ia menerima pinangan Totenham Hotspur. Keduanya sudah saling berhubungan jauh sebelum sekarang.

Paratici menemukan Romero semasa masih berseragam Genoa. Dialah yang mendalangi langsung transfer bek Argentina itu ke Juventus. Well, sesaknya barisan belakang "Nyonya Tua" membuat Romero mesti rela dikembalikan ke Genoa sebagai pemain pinjaman. Semusim kemudian giliran Atalanta yang meminjam jasanya.

Jelas tak ada yang disesali. Bersama klub asal Bergamo itu Romero mendapatkan momentum. Gian Piero Gasperini tak hanya memberikannya menit bermain, tetapi juga membentuknya menjadi bek tangguh. Anugerah bek terbaik Serie A musim lalu menjadi buktinya.

Itulah kenapa Paratici menggaet Romero (lagi). Proximity sekaligus prestasi menjadi dasarnya. Terlebih, Tottenham, klub tempat Paratici sekarang bekerja, punya urgensi tinggi untuk mendapatkan bek sentral. Mereka telah resmi melepas Juan Foyth serta karang utama sejak enam tahun ke belakang, Toby Alderweireld.

***

“Cuti,” begitu Romero dipanggil. Kakak perempuannya, Aldana, menyebutnya seperti itu karena sewaktu kecil Romero tak bisa mengucap nama depannya. Ia memang anak bungsu di keluarganya. Kendati begitu, Romero jauh dari kata manja.

“Walaupun paling muda, ia selalu bisa melindungi dirinya sendiri," ujar Quito kepada Ole. Ayah Romero itu juga menggambarkan bahwa mental anaknya memang sudah tertuai sejak dini. Itulah yang kemudian membentuk Romero seperti sekarang ini. 

“Dari dulu ia sudah suka bermain di luar dan punya kepribadiannya kuat. Itu tergambar saat ini, ia berusia 23 tahun, tetapi terlihat seperti 30 tahun,” imbuhnya.

Gustavo Spallina, pencari bakat di klub Belgrano, mengingatnya sebagai bocah yang serius. Sedikit tertawa dan selalu fokus. Ia ingat betul saat Romero mengutarakan mimpinya untuk bermain di Eropa dan mentas bersama Timnas Argentina.

Pada Juli 2018, harapan Romero tercapai. Genoa meminangnya setelah melewati dua musim profesionalnya di Belgrano. Apa yang membuat Romero spesial adalah ia enggan buang-buang kesempatan. Ia tahu benar apa yang segera dilakukan untuk bersaing di kompetisi Eropa. Tak peduli itu di musim pertamanya.

Romero langsung menjadi pemain reguler Genoa. Total 27 pementasan ia mainkan di Serie A meski Il Grifone musim itu dilatih oleh tiga pelatih berbeda. Selama rentan waktu itu pula Romero menyumbang masing-masing 2 gol dan assist.

Itu baru awal padahal. Klimaksnya, ya, saat Romero direntalkan ke Atalanta musim lalu. La Dea dibuatnya mejeng di peringkat ketiga Serie A. Makin sempurna karena Romero juga sukses mempersembahkan trofi Copa America buat Argentina pada Juli lalu.

Romero bukanlah bek kalem. Tidak juga tipikal bek model modern yang menjual umpan cantik dan relatif menghindari duel. Sebaliknya, ia hobi beradu badan dengan pemain lawan. Barangkali lebih masuk akal membandingkan Romero dengan Sergio Ramos ketimbang Leonardo Bonucci. Ia juga mengingatkan kita dengan karakteristik bek klasik Argentina, Roberto Ayala. 

Fisik, kecepatan, serta determinasi yang dimiliki Romero mendukungnya untuk bermain begitu agresif. Kendati itu kemudian membuatnya sering ditegur oleh wasit. Di musim lalu, Romero rata-rata melakukan 2,3 pelanggaran di tiap pertandingan sebagaimana disitat dari Whoscored. Jumlah itu menjadi yang tertinggi di Serie A.

Akan tetapi, bukan berarti Romero cuma bek asal sruduk dan mengandalkan fisik doang. Ia juga punya kecakapan dalam membaca permainan, perkara arah bola dan ke mana lawan lawan akan bergerak. Rata-rata intersepnya yang menyentuh 3,1 per laga menjadi bukti sahih. Lebih-lebih, tak ada satu pun pemain di Serie A yang mampu mengungguli catatan itu.

Sama halnya dalam beradu bola atas. Tak ada bek Serie A yang melebihi rerata kemenangan duel udaranya di angka 3,6 per laga. Bila ditotal di seluruh posisi, hanya Andreas Cornelius, Morten Thorsby, dan Zlatan Ibrahimovic yang mengungguli Romero. Well, cukup mengesankan untuk pemain yang "cuma" 185 sentimeter tingginya.

Bahkan, untuk dibandingkan dengan statistik defensif seluruh personel bertahan Tottenham pun Romero masih lebih baik. Eric Dier yang paling jago soal duel udara pun hanya mencatatkan 3,1 kemenangan di tiap pertandingannya. Lebih-lebih soal intersep. Jangankan di Tottenham, rerata Romero menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh pemain Premier League musim lalu.

Di atas kertas, Romero bisa menjadi pengganti Alderweireld dan bahkan lebih. Catatan bertahannya di musim lalu paling mentereng di antara bek-bek Tottenham. Itu belum ditambah dengan fitur tambahannya sebagai pencetak gol.

Nilai plusnya lagi, Romero nyaman bermain dalam pakem tiga bek. Ini beririsan dengan Nuno Esprito Santo yang memang rutin mengaplikasi pakem tersebut bersama Wolverhampton Wanderers; 23 kali di Premier League musim lalu. So, apakah perekrutan Romero adalah langkah tepat Tottenham? Iya, harusnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.