Satu Sama

Foto: SV Werder Bremen

Ini laporan saya dari laga Bremen vs Leipzig. Soal sistem Werner & Rose, soal Openda, Xavi Simons, Jens Stage, sampai Naby Keit. Soal skor 1-1.

Saya percaya bahwa setiap pelatih memiliki ide. Ide tentang bagaimana timnya harus bermain, ide perihal formasi dasar apa yang akan digunakan, ide perihal bagaimana cara menyerang, bagaimana struktur saat bertahan, seberapa tinggi garis pertahanan, dst.

Beberapa kemudian mengejawantahkan ide itu kepada sistem yang jelas. Maksudnya, kita akan bisa melihat tim yang ditangani oleh pelatih tersebut bermain dengan formasi dasar yang sama, struktur yang sama, pendekatan (reaktif atau proaktif) yang sama, dalam hampir tiap pekannya.

Yang kemudian membedakan adalah detail-detail kecil yang akan mengikuti siapa lawan yang dihadapi. Build-up dan serangan akan diarahkan ke mana, sisi mana yang akan di-overload, aspek mana dari lawan yang akan dieksploitasi, itu bisa berubah. Akan tetapi, fondasi akan tetap sama.

Jürgen Klopp, Simone Inzaghi, atau Xabi Alonso adalah dua contoh populer yang bisa saya pakai untuk menggambarkan pelatih yang selalu punya fondasi sama tiap pekannya. Selain dua nama itu, tentu masih banyak lagi. Namun, khusus di tulisan ini, saya akan menyebut dua nama: Ole Werner dan Marco Rose.

Embed from Getty Images

Silakan buka situs WhoScored dan kalian akan menemukan bahwa dua pelatih itu hampir pasti menggunakan formasi dasar dan cara main yang sama tiap pekannya.

Werner bersama Werder Bremen akan menggunakan formasi dasar 3-5-2. Hanya dalam beberapa kesempatan saja itu berubah menjadi 3-4-1-2 atau 3-1-2-4. Ide besarnya juga sama: Bremen akan bermain direct dengan umpan-umpan ke dua strikernya, kemudian dua gelandang akan masuk ke kotak dan wing-back juga akan menusuk ke dalam.

Sementara Rose dominan menggunakan 4-4-2 atau 4-2-2-2 kesukaannya, dan hanya tiga kali sejauh musim ini bermain dengan pola tiga bek. RB Leipzig kemudian akan mengandalkan pressing intens, menyerang dengan umpan-umpan vertikal cepat, dan menyerang serta bertahan dengan amat narrow.

Saya kemudian menyaksikan bagaimana kedua pelatih bersua. Di Weserstadion, kedua tim bermain persis seperti apa yang saya deskripsikan di atas. Di kubu Bremen, adjustment tercipta dari keputusan Werner bermain dengan tiga penyerang. Tujuannya adalah untuk membuat mereka menyamai jumlah tiga pemain belakang Leipzig (satu full-back Leipzig akan sedikit naik mengover half-space saat out of possession).

Di sisi lain, Rose membuat Leipzig bertahan dengan narrow, bermain vertikal. Tujuan pertama adalah guna mengarahkan serangan Bremen ke sayap dan kemudian menjebak mereka di sana melalui overload. Saat menyerang, Xavi Simons dan Emil Forsberg yang menjadi gelandang serang terus menerus mengisi half-space untuk menopang Luis Openda dan Yussuf Poulsen di depan dengan umpan maupun pergerakan vertikal.

Penyesuaian-penyesuaian taktik itu kemudian membuat duel menjadi menarik. Leipzig yang bermain narrow beberapa kali berhasil mendapat kesempatan menembak di depan kotak penalti Bremen. Sementara tuan rumah, justru berhasil menciptakan peluang via umpan-umpan silang setelah “dipaksa” Leipzig menyerang via tepi.

Di laga ini, saya melihat bagaimana Openda memang sangat menjanjikan. Ia menjadi salah satu pemain muda yang diperbincangkan musim ini, dan itu amat layak. Bukan saja karena ia mencetak gol di laga ini. Namun, kengototan, kecepatan, betapa kuat fisiknya dalam berduel, juga penyelesaiannya menunjukkan bahwa ia berbeda.

Saya juga melihat betapa eksplosifnya Xavi Simons. Pemain ini punya visi, terlihat bisa melakukan hal-hal magis. Akan tetapi, ketenangan dan pengambilan keputusannya perlu ditingkatkan—sesuatu yang juga saya rasa bisa bertambah seiring dengan banyaknya pengalaman.

Meski sebentar, Benjamin Sesko juga menunjukkan mengapa ia jadi incaran Manchester United—sebelum Rasmus Hojlund. Ia adalah penahan bola yang baik, striker yang bisa diandalkan buat tim yang mau bermain direct.

Sayangnya Timo Werner tak turun di laga itu, tapi saya melihat Fabio Carvalho, yang dipinjam dari Liverpool itu, coba memberikan alternatif buat serangan Leipzig di menit-menit akhir. Forsberg yang menjalani laga terakhirnya bersama Leipzig terlihat begitu kharismatik. Saya juga akan kaget jika Amadou Haidara tak jadi incaran klub-klub besar dalam beberapa transfer ke depan.

Di kubu Werder, saya sudah memperhatikan banyak nama sejak rutin menyaksikan tim ini berlaga dalam beberapa musim terakhir. Marvin Ducksch tentu masih saya nilai tinggi. Namun, khusus di laga ini, Justin Njinmah mencuri perhatian saya. Ia mencetak gol yang bagus dan, lebih dari itu, ia memberi warna lain pada serangan-serangan Bremen yang direct. Bahwa bola di kakinya jadi lebih sulit ditebak.

Jens Stage bukanlah penampil konsisten buat Bremen. Namun, ia bermain baik malam itu. Ia menjadi pemain tengah yang melakukan tugas apa saja: Memutus serangan lawan, mengirimkan umpan ke depan, dan terkadang coba melibatkan diri jadi opsi di kotak penalti. Pemain Denmark ini saya kira harus dicoba Werner terus bermain sebagai no. 6 seperti ini.

Sayangnya, saya tak melihat Naby Keita malam itu. Ia (seperti biasa) absen. Kali ini karena sakit. Padahal, saya berharap ia bermain karena Leipzig juga merupakan mantan klubnya. Ini harusnya jadi laga yang emosional untuk Keita. Lebih lagi karena dalam beberapa pekan terakhir ia dirumorkan tak disukai petinggi Bremen karena acap terlambat ke latihan atau rapat tim. Sesuatu yang harusnya bisa dibantah lewat permainan apik.

Bremen hujan malam itu. Cukup deras dan tentu saja berangin. Jalanan macet. Saya berjalan cukup jauh untuk tiba di stadion. Weserstadion penuh. Penonton bernyanyi, bersorak, seolah itu adalah akhir pekan. Namun, saya paham. Ini adalah laga kandang terakhir Bremen di tahun 2023. Tak akan ada laga sampai tahun depan tiba.

Lantas, jalannya laga dan hasil yang tercipta juga membuat laga penutup ini menjadi sesuatu yang manis buat mereka. Bremen dapat poin melawan tim peringkat tiga. Dan di perjalanan pulang ke Hamburg, saya tersadar bahwa saya menutup tahun dengan dua laga yang berakhir satu sama. Tak ada kekalahan, tak ada kemenangan, semua setara. Ini pertanda apa?