Sebelum Generasi Emas Belgia Melewati Batas

Foto: @belgianreddevils.

Sepak bola Belgia tidak dibangun seperti Rakai Pikatan membangun Candi Prambanan. Sepak bola Belgia adalah hasil dari proses panjang. Permulaannya berupa kesadaran bahwa yang mereka alami sudah kelewat memalukan.

Michel Sablon menyebut Belgia berada di titik terendah usai Euro 2000 yang berakhir menyedihkan. Kendati berstatus tuan rumah bersama Belanda, De Rode Duivels tak kuasa berbuat banyak. Belgia tersingkir dengan hanya menempati peringkat tiga lewat raihan tiga poin di babak grup.

Emile Mpenza dan kolega sebetulnya punya peluang besar untuk lolos. Soalnya, perolehan poin mereka dengan Turki yang duduk di peringkat dua amat tipis. Namun, pada laga penentuan, Belgia yang turun dengan 4–4–2 tampil buruk. Mereka pun takluk dengan skor 0–2 dari Turki.

Bagi sebagian besar orang, yang Belgia peroleh waktu itu sama sekali tak mengejutkan. Dua tahun sebelumnya, mereka mesti menelan pil pahit karena babak bingkas di Piala Dunia 1998 Prancis. Belgia waktu itu juga cuma mampu finis di urutan ketiga babak grup dengan raihan tiga poin.

Lain halnya dengan masyarakat Belgia. Jika orang-orang menganggapnya hal yang wajar, publik Belgia menilai dua torehan minor beruntun itu sebagai momen memalukan. Maka, kata Sablon, tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali berbenah sesegera mungkin.

Upaya itu penting sebab status medioker Belgia tak hanya tergambar dari hasil yang mereka raih. Di atas lapangan, penampilan mereka juga tak kalah medioker. Mereka bermain tanpa kreativitas dan agresivitas. Bahkan, kata Sablon, sama sekali tak terlihat adanya kualitas dari sisi mana pun.

Silakan lihat kembali skuat Belgia saat itu, maka kamu akan sepakat. Dari segi popularitas pun, nama-nama seperti Marc Wilmots, Bart Goor, hingga Mpo Mpenza bahkan kalah terkenal dengan aturan ‘Bosman’ yang juga bermula dari sepak bola Belgia.

“Orang-orang mulai mempertanyakan kualitas kami setelah Euro 2000. Setelah turnamen tersebut, memang muncul perasaan malu. Apalagi hubungan antara federasi sepak bola dan masyarakat Belgia mulai memanas,” tutur Sablon kepada BBC.

Beberapa saat setelah tersingkir dari Euro 2000, Michel D’Hooghe yang merupakan presiden federasi Belgia memanggil Sablon. Yang ada di benaknya sama persis. Kepada Sablon, ia berkata ingin ada perubahan radikal. Saat itu juga, Sablon ditunjuk sebagai direktur teknis.

Michel Sablon
Michel Sablon.

Sablon mengiyakan. Ia pergi dari tempat D’Hooghe, kembali ke kantornya, lalu menganalisis semua masalah. Dengan pulpen dan kertas di hadapannya, Sablon mencoret-coret, menderetkan poin demi poin, hingga berujung pada kesimpulan bahwa pembinaan level junior mereka amat buruk.

Lantas, Sablon berkelana ke berbagai negara.

Ia mendatangi Perancis yang kala itu sedang dalam masa emas. Mereka punya sederet talenta berbakat, mulai dari Thiery Henry, Didier Deschamps, Claude Makelele, hingga Zinedine Zidane. Nama-nama itu berperan penting membawa Perancis memenangi Piala Dunia dan Euro 2000.

Sablon juga berkunjung ke Jerman dan Belanda. Khusus Belanda, ia belajar banyak soal taktik. Ia mengunjungi klub-klub Eredivisie, begitu pula dengan akademi-akademinya. Dari yang Sablon lihat, semua tempat yang ia datangi itu menggunakan sistem yang relatif serupa.

Bukan kebetulan jika akhirnya Sablon turut mengadopsi sistem itu. Bersama Marc van Geersom dan Bob Browaeys yang merupakan dua asistennya, Sablon sepakat memilih skema 4–3–3. Formasi inilah yang kelak bakal menjadi pakem untuk sepak bola Belgia sejak level junior.

Itu bukan perkara gambang. Pertama-tama, Sablon mesti berpikir keras untuk mengumpulkan dan mencari calon-calon tumpuan masa depan negara mereka. Ini rumit sebab Belgia cuma memiliki 11 jutaan penduduk. Jumlah pesepak bola Belgia juga relatif sedikit ketimbang negara lain.

Kedua, menentukan skema yang cocok tak bisa dilakukan semudah menekan X saat bermain video game sepak bola. Sablon mesti meminta bantuan beberapa ahli dari universitas di Belgia terlebih dahulu untuk melakukan penelitian mendalam. Ini memakan waktu hampir tiga tahun.

Dalam penelitian itu, mereka menganalisis ribuan pertandingan tim-tim junior Belgia. Detak jantung pemain dihitung sedemikian rupa, berikutnya melihat kecenderungan tiap-tiap pemain saat bertanding. Fisik para pemain juga diteliti, begitu pula dengan aspek mentalnya.

Penelitian itu akhirnya menyimpulkan bahwa 4–3–3 adalah skema yang paling cocok. Akhirnya, kurikulum taktik mulai mereka rancang berdasarkan skema tersebut. Kurikulum ini baru Belgia terapkan kepada para pemain junior saat mereka sudah memasuki level umur U-12.

“Skema 4–3–3 bisa menjadi sistem yang efisien karena kami akan memiliki empat pemain sejajar di belakang, tiga pemain yang bertuga bertahan dan menyerang di lini tengah, serta seorang penyerang tengah dan dua penyerang sayap,” ungkap Sablon.

Belgia akhirnya memulai upaya meninggalkan skema 4–4–2. Menurut Sablon, skema ini berpotensi menyisakan begitu banyak ruang dan peran yang tak berguna di lapangan. Skema ini juga hanya akan membuat sepak mereka dipenuhi para pekerja dan pelari.

Skema 4–3–3 tak seperti itu. Sablon menilai ini tak hanya efisien tetapi juga visioner. Namun, menerapkannya adalah hal rumit. Menurut Browaeys, klub-klub dan terutama akademi Belgia cenderung kolot. Mau bagaimana lagi, skema 4–4–2 dan 3–5–2 memang akrab dengan Belgia sejak dulu.

“Kami terbiasa dengan skema 4–4–2 tapi bisa juga berubah menjadi 3–5–2. Terkadang kami mendapatkan banyak hasil bagus bersama tim inti karena permainan kami sangat terorganisasi. Tapi itu sangat defensif dan mengandalkan kultur serangan balik,” kata Browaeys.

“Kami akhirnya yakin bahwa 4–3–3 akan menjadi skema terbaik untuk dipelajari para pemain. Kami pun beranggapan bahwa kami perlu lebih mengembangkan kemampuan melewati lawan sebab jantung dari visi kami adalah unggul dalam situasi satu lawan satu.”

Yang paling Sablon tekankan selama mensosialiasikan skema itu adalah mengubah mindset. Ia enggan tim-tim Belgia, terutama kelompok umur, terpaku pada hasil. Yang agak sulit, ini sudah jadi kebiasaan sepak bola Belgia sejak dulu dan bahkan terbukti lewat penelitian.

Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa terlalu berorientasi pada kemenangan akan berakibat buruk terhadap pemain. Lagi pula, kata Sablon, tak ada trofi yang penting di kelompok umur. Di usia segitu seharusnya para pemain fokus mengembangkan diri, bukan dituntut memenangi trofi.

“Sangat tidak mudah mensosialisasikannya. Saya sering diserang media dan federasi Belgia secara personal,” kenang Sablon, yang mengaku membutuhkan waktu lebih dari enam tahun untuk menyebarkan kurikulumnya ke seluruh penjuru negeri.

Kerja keras itu kini terbayar. Dalam waktu yang tak sebentar, Belgia bertransformasi menjadi kekuatan yang menakutkan di sepak bola. Yang paling membanggakan jelas saat mereka menduduki posisi pertama pada rangking FIFA. Pada banyak turnamen, Belgia juga selalu jadi unggulan.

Semua beriringan dengan munculnya para bakat yang disebut-sebut sebagai generasi emas Belgia. Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois, Dries Mertens, Toby Alderweird, hingga Axel Witsel adalah hasil perubahan radikal yang Sablon mulai dua puluh tahun lalu.

Namun, kerja keras Sablon bukan satu-satunya faktor perkembangan pesat Belgia. Dari level klub, ada kesadaran untuk berinvestasi lebih dalam membangun fasilitas. Standard Liege menghabiskan €18 juta untuk akademi mereka, lebih banyak dari banyak tim elite Eropa mana pun saat itu.

Genk juga mengeluarkan banyak uang untuk mengembangkan fasilitas akademi sendiri. Hampir €3 juta yang mereka gunakan untuk memperbaiki lapangan dan fasilitas latihan. Untuk klub seukuran Genk, angka itu terbilang sebagai pengeluaran yang besar.

Berikutnya ada Club Brugge dan tentu saja Anderlecht, yang musim ini menyumbang lima pemain hasil binaan akademi untuk Timnas Belgia. Pada Piala Dunia tiga tahun lalu, bahkan 35 persen skuad Belgia adalah para pemain lulusan akademi Anderlecht.

Singkat kata, Belgia sudah memiliki segala yang tidak mereka punya dua puluh tahun lalu: Para pemain berbakat, infrastruktur memadai, dan sistem yang mendukung.

Yang kurang? Tinggal Piala. Euro 2020 bisa menjadi permulaan bagi mereka, sebelum generasi emas Belgia melewati batas.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.