Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Sepatu Besar Romelu Lukaku

Foto: Twitter @RomeluLukaku9.

Lukaku muda pernah mengenakan sepatu ayahnya yang notabene lebih besar. Kini, ada sepatu lainnya yang tak kalah besar yang mesti ia kenakan.

Romelu Lukaku muda berada di titik terendahnya. Keluarganya bangkrut bahkan untuk membeli makan pun begitu sulit.

Bekal sekolah Lukaku hanya roti dan susu setiap harinya. Suatu hari, pria bernama lengkap Romelu Menama Lukaku Bolingoli itu pulang ke rumah, lalu menuju dapur. Di sana, ia melihat ibunya sedang mencampurkan air ke susu kemudian mengaduknya.

Lukaku sadar, bekal susu yang ia bawa setiap hari adalah campuran dengan air. Orang tuanya tak memiliki cukup dana untuk terus memberikannya susu setiap hari. Keluarga Lukaku bangkrut; bukan cuma miskin, tapi sudah masuk dalam fase fakir.

Lukaku dan keluarga sempat tak bisa membayar listrik. Mereka pernah merasakan gelap gulita di dalam rumah selama dua hingga tiga pekan.

Untuk mandi air hangat saja Lukaku dan keluarga cukup kesulitan. Lukaku harus menunggu ibunya memanaskan air dengan kompor. Lalu, saat mandi Lukaku harus menghemat karena memang persediaan airnya yang tidak banyak.

Lukaku tak menyerah. Saat kecil dulu, pemain yang kini berusia 27 tahun itu berjanji untuk membawa keluarganya ke hidup yang lebih baik. Hidup yang lebih mapan.

***

Karier sepak bola Romelu Lukaku saat muda memang mengesankan. Pada usia 12 tahun, Lukaku bisa membuat 76 gol dalam 34 pertandingan bersama tim juniornya, Lierse SK.

Lukaku membuat semua golnya menggunakan sepatu ayahnya. Ya, ayah Lukaku memang seorang pemain sepak bola. Bobot Lukaku yang besar membuat ukuran sepatu ayahnya sama dengannya.

Juli 2006, Lukaku hijrah ke klub Belgia yang lebih besar, yakni Anderlecht. Tentu saja, Lukaku lebih dulu masuk ke tim mudanya.

Lukaku mendapatkan debut di tim utama Anderlecht pada 22 Agustus 2009. Kisah unik terjadi sebelum Lukaku melakukan debutnya bersama Anderlecht.

Lukaku berjalan ke dalam ruang ganti untuk menentukan nomor punggungnya saat itu. Tanpa basa-basi, Lukaku meminta nomor 10. Sang kitman tertawa dan mengatakan Lukaku terlalu muda untuk menggunakan nomor 10. Akhirnya Lukaku memilih nomor punggung 36 saat pertama kali membela Anderlecht.

Bersama Anderlecht karier Lukaku memang menjanjikan. Sebanyak 41 gol berhasil ia buat dalam 98 pertandingan di lintas ajang.

Berkat penampilan yang memukau, klub-klub besar berhasrat meminangnya. Jadilah Chelsea jadi tempat singgah Lukaku selanjutnya.

Bersama Chelsea, Lukaku tak bisa memperlihatkan kapasitasnya. Penyerang yang lahir 13 Mei itu lebih banyak dipinjamkan. Pertama, West Bromwich Albion yang mendapatkan jasa Lukaku. Lalu, pada musim 2013/14, giliran Everton yang meminjam Lukaku dari Chelsea.

Foto: Twitter @FootyAccums.

Di Everton, Lukaku menemukan ketajamannya. Tercatat ada 87 gol dan 29 assist yang dibuatnya dalam 166 pertandingan. Usai mengubah status dari pinjam menjadi kepemilikan penuh, Lukaku semakin apik menjadi penyerang.

Lukaku tak lama-alam di Everton. Musim 2017/18, Lukaku pindah ke Manchester United. Dana sebesar 75 juta poundsterling dikeluarkan United untuk mendaratkan pemain bertinggi 191 sentimeter itu.

Bersama United, Lukaku tak begitu mengilap. Cuma ada 42 gol dan 13 assist yang dibuatnya. Kebersamaan United dan Lukaku pun cuma dua musim. Setelahnya, Lukaku hijrah ke Italia dan bergabung dengan Inter Milan sampai saat ini.

****

Sebagai seorang penyerang, Lukaku memiliki paket yang komplet. Dengan fisiknya yang mumpuni, Lukaku jelas pilihan yang sempurna jika diberi peran sebagai seorang target man.

Meski demikian, kemampuan Lukaku tidak hanya terbatas pada menjadi seorang target man saja. Kemampuannya dalam menyelesaikan peluang membuatnya juga bisa berperan sebagai poacher.

Lukaku punya kecepatan untuk bisa melewati lawan. Tubuhnya yang kuat dan besar membantunya untuk melindungi bola dari sergapan lawan. Sudah begitu, pergerakannya juga dinamis. Cukup sering Lukaku bergerak (dan beroperasi) ke sisi sayap atau turun ke second line.

Namun, Lukaku bukannya tanpa kelemahan. First touch dan konsistensi dalam penyelesaian akhir menjadi senjata yang harus terus diasah oleh Lukaku. Well, kami paham bahwa Lukaku adalah pencetak gol ulung, tapi ada beberapa masa dalam kariernya pria bertinggi 190 cm itu mengalami paceklik.

Musim terakhirnya bersama United bisa menjadi contoh; Lukaku bisa melepaskan 32 shots on target di Premier League dari 32 penampilan --artinya, rata-rata ia hanya membukukan 1 shot on target per laga. Dari 32 shots on target itu, ia cuma mencetak 12. Expected goals (xG) Lukaku saja mencapai 13,11, masih di bawah Paul Pogba ketika itu.

Hal lain yang harus diasah Lukaku adalah faktor mental. Ini terlihat dari minimnya kontribusi Lukaku di laga-laga yang penting.

Stats Lukaku pada musim terakhirnya bersama Man United. Foto: Premier League.

Begini, kalau kita tarik sepanjang kariernya, Lukaku baru meraih dua gelar, yakni Piala FA bersama Chelsea dan juara Jupiler League bersama Anderlecht. Saat menjuarai Piala FA, Lukaku sama sekali tak membuat gol bersama Chelsea. Bahkan, ia cuma tampil sekali sepanjang turnamen.

Kala menjadi juara bersama Anderlecht, Lukaku sebenarnya moncer di fase reguler. Ada 15 gol dan 5 assist yang dibuatnya dalam 25 pertandingan. Sayang, pendarnya saat play-off penentuan juara ambyar. Tak ada gol yang dibuat Lukaku dalam delapan pertandingan Anderlecht pada babak tersebut.

Kesialannya di laga besar juga terjadi pada final Liga Europa musim lalu. Melawan Sevilla, Lukaku sebenarnya mampu membuat gol melalui tendangan penalti. Apesnya, ia juga membuat gol ke gawang sendiri. Saudara dari Jordan Lukaku itu salah mengantisipasi salto yang dibuat Diego Carlos. Sepanjang pertandingan, Lukaku juga cuma bisa membuat dua upaya.

Partai puncak Liga Europa musim kemarin, plus apa yang terjadi dengannya ketika memperkuat Anderlecht, hanyalah segelintir contoh saja. Sampel lainnya bisa kita lihat pada laga fase grup Liga Champions musim ini, ketika Inter melawan Shakhtar Donetsk.

Saat Inter membutuhkan kemenangan untuk bisa lolos ke babak gugur, Lukaku mestinya bisa menjadi opsi. Alih-alih demikian, lima upaya untuk mencetak gol yang ia buat pada laga tersebut urung menjadi gol. Problem ini terbilang aneh mengingat dalam lima laga sebelumnya di fase gugur, Lukaku sukses mencetak lima gol.

Inter bermain imbang 0-0 pada laga tersebut dan terdampar sebagai juru kunci grup. Sudah gagal lolos ke fase gugur Liga Champions, babak 32 besar Liga Europa (yang bisa mereka capai kalau finis di posisi tiga grup) pun ikut-ikutan lewat.

***

Lukaku bukan striker medioker, itu jelas. Meski begitu, perkara menjadi pemain penting pada laga-laga yang penting pula, ceritanya berbeda.

Boleh jadi, ini bukan perkara mudah. Namun, melihat perjuangannya sedari awal, bukan tidak mungkin ia melaluinya.

Lukaku muda pernah mengenakan sepatu ayahnya yang notabene lebih besar. Kini, ada sepatu lainnya yang tak kalah besar yang mesti ia kenakan. Suatu hari nanti, mungkin ia akan bertumbuh dan sepatu besar itu akhirnya benar-benar pas dengan dirinya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now