Sepuluh Sentimeter dari Surga

Gol Maurizio Turone ke gawang Juventus yang dianulir karena offside sepuluh sentimeter. (YouTube)

10 Mei 1981, Maurizio Turone mencetak gol untuk membawa Roma unggul atas Juventus. Namun, karena offside sepuluh sentimeter, gol Turone dianulir. Roma pun gagal menjadi juara Serie A.

Cuma sepuluh sentimeter. Itulah jarak Roma dengan surga bernama Scudetto yang mestinya bisa mereka rengkuh di akhir musim 1980/81. Meski cuma sepuluh sentimeter, jarak itu tetap ada dan tak pernah bisa ditutup. Roma pun mesti menerima bahwa itu bukan musim milik mereka.

Roma punya tempat tak biasa dalam persepakbolaan Italia. Kebesaran mereka sangat bisa diperdebatkan. Jika acuannya adalah titel juara, klub-klub macam Genoa, Torino, Bologna, bahkan Pro Vercelli masih lebih baik dari mereka. Sejak dibentuk lewat merger tiga klub (Roman FC, SS Alba-Audace, dan Fortitudo-Pro Roma) pada 1927, Roma baru punya koleksi tiga Scudetti.

Ini agak aneh, sebenarnya, mengingat Roma hampir selalu bermain di Serie A kecuali pada musim 1951/52. Mereka pun memiliki banyak sekali pemain legendaris, mulai dari Amedeo Amadei, Giuseppe Giannini, Francesco Totti, sampai Daniele De Rossi. Dengan kata lain, Roma sebetulnya bisa meraih lebih dari tiga gelar juara Serie A, tetapi entah mengapa itu tak pernah terjadi.

Inilah yang membuat kebesaran Roma jadi perdebatan. Popularitas Roma tidak perlu diragukan. Mengacu data Statista pada musim 2019/20, Roma adalah klub dengan jumlah pendukung terbanyak kelima di Italia. Cuma Napoli, Milan, Inter, dan Juventus yang punya suporter lebih banyak. Karena hal ini, ditambah seringnya mereka bercokol di papan atas, Roma disebut sebagai klub besar. Namun, bagaimana mereka bisa disebut klub besar jika koleksi juaranya saja baru tiga?

Ya, kira-kira begitulah keunikan Roma dalam persepakbolaan Italia. Selama belum bisa menambah gelar juara, keabsahan mereka sebagai klub besar akan senantiasa diperdebatkan. Namun, sebenarnya, pada musim 1980/81, Roma punya peluang sangat besar untuk menjadi juara Italia. Gelar itu semestinya bakal menjadi titel Scudetto kedua bagi I Lupi. Namun, harapan itu mati di Torino pada 10 Mei 1981.

Pada musim 1980/81 itu Serie A cuma diikuti oleh 16 klub. Sampai pekan ke-30, Roma masih menjadi kandidat kuat juara. Mereka ada di posisi kedua dengan selisih satu angka dari pemuncak klasemen, Juventus. Waktu itu, satu kemenangan masih dihargai dengan dua poin sehingga tambahan satu angka pun bakal sangat, sangat berharga.

Sebetulnya, Roma punya jadwal menguntungkan. Di dua pertandingan pemungkas, lawan yang kudu mereka hadapi cuma Pistoiese yang sudah terdegradasi dan Avellino yang tak lagi punya kepentingan di Serie A lantaran sudah meraih salvezza. Permasalahannya, pada pekan ke-30, Roma harus bertandang ke Torino untuk menghadapi Juventus.

Juventus boleh saja unggul satu poin di klasemen. Akan tetapi, pada dua pertandingan terakhir, mereka masih harus berhadapan dengan Napoli dan Fiorentina. Juventus tidak boleh kalah karena dua lawan terakhir mereka sangat kuat, sedangkan Roma perlu menang untuk memangkas jarak poin yang ada.

Bagi Juventus maupun Roma, laga di Stadio Comunale itu merupakan laga hidup-mati. Siapa pun yang kalah di pertandingan tersebut hampir pasti akan gagal meraih gelar juara. Maka, mereka pun menunjukkan permainan keras yang tercermin dari jumlah kartu kuning.

Total, delapan kartu kuning melayang dari saku wasit Paolo Bergamo. Dua di antaranya ditujukan pada seorang pemain Juventus, Giuseppe "Beppe" Furino. Kartu merah untuk Furino itu sendiri terjadi di babak kedua dan, setelah itu, Roma yang unggul jumlah pemain tak henti-hentinya menggempur pertahanan Juventus.

Roma punya Agostino Di Bartolomei, Carlo Ancelotti, Roberto Pruzzo, Bruno Conti, Paulo Roberto Falcao, dan Romeo Benetti di skuad yang dilatih oleh Nils Liedholm. Sementara, Juventus asuhan Giovanni Trapattoni memiliki Dino Zoff, Claudio Gentile, Gaetano Sciera, Antonio Cabrini, Marco Tardelli, Roberto Bettega, dan Liam Brady. Ini artinya, baik Roma maupun Juventus sama-sama bertabur bintang dan, sebelum kartu merah Furino, kekuatan dua tim berimbang.

Namun, pada akhirnya Juventus tak bisa lagi membendung agresivitas dan kreativitas Roma. Dari kaki Ancelotti, bola diarahkan kepada Pruzzo. Oleh Pruzzo, bola disundul ke arah sweeper Maurizio Turone yang entah bagaimana bisa berada di kotak penalti Juventus. Turone kemudian menyambut bola itu, juga dengan sundulan, dan membobol gawang Zoff.

Zoff benar-benar tak kuasa membendung sundulan Turone. Dia hanya terpaku menyaksikan bola meluncur masuk ke gawangnya. Dari sisi lapangan lain, kemudian terdengar peluit dari Bergamo yang menunjuk titik tengah lapangan. Bergamo menganggap gol itu sah dan Roma semestinya unggul 1-0 atas Juventus.

Ya, "semestinya" jadi kata kunci di kejadian tersebut karena, setelah Bergamo mengesahkan gol tersebut, hakim garis yang bernama Giuliano Sancini mengangkat bendera. Oleh Sancini, Turone dinyatakan sudah terjebak offside sebelum menyundul bola ke gawang Juventus. Sancini pun meminta Bergamo untuk menganulir gol tersebut dan itulah yang terjadi.

Roma dan Juventus harus berbagi angka hari itu. Celaka bagi Roma karena meski menang atas Pistoiese, mereka ditahan imbang oleh Avellino di giornata terakhir. Sementara, Juventus sukses memetik kemenangan 1-0 atas Fiorentina dan Napoli dalam dua laga terakhir. Juventus pun keluar sebagai juara Serie A 1980/81.

Seusai pertandingan di Stadio Comunale itu, hal pertama yang dilakukan Bergamo dan Sancini adalah memberi penjelasan kepada kubu Roma, termasuk sang presiden, Dino Viola. Meski pertandingan berlangsung dengan tensi tinggi, keputusan Bergamo dan Sancini dapat diterima dengan baik oleh kubu Roma. Viola bahkan secara terbuka meminta para pemain, ofisial, dan suporter I Lupi untuk ikhlas menerima keadaan.

Akan tetapi, keikhlasan Viola itu tidak membuat kontroversi berhenti begitu saja. Stasiun televisi RAI bahkan sampai membuat segmen khusus untuk menganalisis keputusan Bergamo dan Sancini. Namun, dari situ tidak bisa dipastikan apakah Sancini sudah membuat keputusan tepat. Mengapa? Karena pada pertandingan itu jumlah kamerawan dikurangi sehingga tidak ada sudut bagus untuk melihat kejadian sebenarnya.

Tak lama kemudian, analisis lebih mendalam dilakukan oleh seorang jurnalis bernama Gianfranco De Laurentiis. Dengan melambatkan gerakan dalam video, barulah De Laurentiis bisa menyimpulkan bahwa keputusan Sancini memang benar. Kata De Laurentiis, Turone memang berada dalam posisi offside, tetapi jaraknya cuma sepuluh sentimeter.

Bergamo dan Sancini sendiri selalu kukuh berkata bahwa mereka telah membuat keputusan yang benar. Kata Bergamo, "Aku sebetulnya ragu, tetapi dalam kondisi offside satu-satunya yang dapat menilai adalah hakim garis karena dia berada sejajar dengan bola."

Sementara, dalam wawancara bersama These Football Times, Sancini berujar, "Aku melihat dan meninjau ulang kejadian itu di TV dan aku yakin (Turone) memang offside. Tidak ada keraguan di dalamnya. Aku punya pandangan yang jelas: Turone sudah melewati garis bola saat Pruzzo menyundulnya."

Insiden Il Gol di Turone (Gol Turone) ini memang membuat Roma gagal menjadi juara di 1981. Namun, sepanjang paruh pertama dekade 80-an, Roma tak pernah berhenti jadi kandidat juara. Sampai akhirnya, penantian panjang sejak 1942 mereka akhiri pada 1983. Pada tahun itu, Roma menjadi juara Italia untuk kali kedua.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.