Serie A 2010/11 ala Milan

Foto: Wikipedia.

AC Milan tampil sebagai tim yang menggila, tetapi matang pada Serie A 2010/11. Keseimbangan dan kualitas itu pula yang memantaskan mereka jadi kampiun Italia pada musim tersebut.

Sebelas tahun adalah waktu yang lama untuk bertarung melawan banalitas dan ketidakpastian.

Scudetto Serie A 2021/22 sudah di depan mata AC Milan. Musim ini menjadi periode panjang karena gelar juara ditentukan sampai laga terakhir. Milan sebenarnya hanya membutuhkan satu poin di laga terakhir untuk menjadi juara. Itu artinya, mereka tidak boleh kalah dari Sassuolo pada Minggu (22/5/2022).

Milan tidak pantas menempatkan kata "hanya" di depan syarat tersebut. Pasalnya, Sassuolo bukan lawan mudah bagi Milan. Dalam dua pertemuan terakhir, Milan tak pernah menang atas Sassuolo. Jika kali ini Milan kalah, besar kemungkinan scudetto akan melayang ke tangan Inter Milan yang mengincar gelar juara dari posisi runner-up.

Skenario terbaik bagi Milanisti, tentu saja laga yang berujung pada gelar juara Milan. Jika ini terjadi, Milan akhirnya memutus puasa gelar juara liga selama 11 tahun. 

***

Olimpico berpesta pada 7 Mei 2011. Pesta itu bukan milik si tuan rumah, AS Roma maupun Lazio. Pesta itu milik sang tamu, Milan. Meski berakhir imbang tanpa gol, laga ditutup dengan gelar scudetto ke-18 untuk Milan.

Tentu saja Gennaro Gattuso yang pertama kali menyemburkan champagne raksasa ke tubuh kawan-kawannya. Ia pula yang duluan menenggak sisa champagne dari botolnya. Sepanjang musim Gattuso bekerja keras sebagai pintu pertama pertahanan Milan. Ialah yang berlari beringas merebut bola, membikin lawan-lawan bergidik ngeri jauh sebelum berhadapan satu versus satu dengannya.

Berulang kali kepala Zlatan Ibrahimovic ditepuk kawan-kawannya. Ibrahimovic hanya tersenyum senang dengan perlakuan mereka. Ia terkekeh kepada siapa pun yang mendekatinya di akhir laga itu. Thiago Silva dipeluknya erat-erat, begitu pula dengan sang kapten, Massimo Ambrosini.

Adriano Galliani yang duduk di tribune VIP tak ketinggalan. Ia menyalami dan memeluk para koleganya sambil tersenyum lebar. Sekali lagi tangan dingin dan strategi transfernya yang membuat entah berapa banyak orang menggeleng-gelengkan kepala berhasil. Milan tak cuma menang berkali-kali, tetapi juga menjadi juara Italia.

Massimiliano Allegri bukan orang naif. Seberapa hebat pun tim asuhannya, ia tak akan menyangka bahwa musim perdananya langsung berakhir dengan gelar juara. Terlebih, Milan terjerembap di Liga Champions. Namun, ternyata cerita berjalan berbeda di kompetisi liga. Ketika musim masih menyisakan tiga pekan, Milan sudah berhasil menggamit scudetto.

Atas kerja kerasnya, Allegri digendong lalu dilempar-lemparkan ke udara oleh anak-anak asuhnya. Tangan-tangan yang menopangnya agar tak mencium tanah adalah milik mereka yang berupaya keras sepanjang musim untuk berlaga dengan siapa pun yang menjadi lawan. Milan juara. Kemeriahan pesta adalah upah yang pantas bagi siapa pun yang menolak meringkuk di hadapan lawan.

Musim itu diawali dengan kekhawatiran oleh Milan. Setelah menang 4-0 atas Lecce di laga perdana, mereka malah takluk 0-2 dari Cesena di laga kedua. Hasil itu cukup ironis karena Cesena adalah tim promosi pada musim tersebut. Berulang kali Milan menciptakan manuver lewat Ronaldinho. Apes, bahkan golnya dianulir offside.

Kabar baik bagi suporter Milan, tim mereka bangkit. Dalam semusim di liga, Milan hanya menelan empat kekalahan. Penampilan prima itu pula yang mematikan langkah sang rival, Inter Milan, di kompetisi liga.

Allegri menggunakan landasan taktik Arrigo Sacchi di musim perdananya bersama Milan. Jika diingat-ingat, ia berusaha membuat lapangan jadi sekecil mungkin bagi lawan.

Ide tersebut bukan hal baru, tetapi dapat menghancurkan taktik lawan jika dilakukan dengan tepat. Allegri menggerakkan pertahanan lebih jauh ke atas ketika Milan kehilangan penguasaan bola. Dengan begitu, akan ada lebih banyak penggawa di area lawan sehingga mereka dapat menekan dengan lebih efektif. Tujuannya adalah mengikis ruang lawan untuk mengoperasikan atau menggerakkan bola.

Berhadapan dengan situasi demikian, lawan akan memainkan umpan-umpan pendek cepat dan lateral demi menjaga aliran bola. Namun, puji Tuhan Milan diperkuat oleh gelandang-gelandang perkasa seperti Gattuso, Mark van Bommel, maupun Clarence Seedorf yang begitu gigih dan cepat menggertak lawan. Allegri seperti menambahkan pengetahuan taktis segar dalam formasi klasik.

Yang dilakukan Allegri pada akhirnya memperbaiki pekerjaan pendahulunya, Leonardo. Sama-sama menggunakan formasi 4-3-3, ternyata ada perbedaan fundamental jika bicara tentang taktik Leonardo dan Allegri.

Tidak ada yang salah dengan formasi 4-3-3. Sayangnya, Leonardo lebih sering mengandalkan kualitas individu baik di sektor defensif maupun ofensif. Ketika ia terlalu mengandalkan Pirlo, misalnya. Watak itu justru sering meninggalkan lubang di belakang Pirlo yang dapat disantap oleh fullback-fullback ala perompak yang dimiliki lawan. Keberadaan tiga gelandang yang seharusnya dapat menutupi seluruh area tengah secara horizontal justru membuat mereka tampak berdiri vertikal. Akibatnya, tentu saja ada banyak ruang bagi lawan untuk menyerang.

Dalam situasi demikian, Milan sering terjebak dengan serangan lawan, terutama mereka yang dapat melesakkan serangan cepat. Kalau sudah begini, bek tengah kaliber dunia pun akan sering berada dalam posisi yang tidak menguntungkan sehingga lini pertahanan Milan jadi berantakan.

Kegigihan Allegri untuk tidak bergantung pada kualitas satu individu saja juga terlihat dari produktivitas Milan dalam mencetak gol. Jika diperhatikan, tidak ada pemain Milan yang masuk lima besar pencetak gol terbanyak liga. Ketika itu, Antonio Di Natale yang menjadi topskorer dengan 28 golnya. Sepanjang Serie A 2010/11, Milan mencetak 65 gol. Jumlah itu lebih sedikit empat gol dibandingkan sang runner up, Inter.

Dari 65 gol tersebut, 42 di antaranya dicetak dengan sama banyaknya Ibrahimovic, Pato, dan Robinho. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa Milan tak cuma tajam, tetapi juga mempunyai kolektivitas dalam daya ledak dan serangan-serangan yang tidak gampang ditebak.

Perubahan lain yang dibuat Allegri adalah efektivitas serangan. Pada musim 2009/10, Milan membuat rerata 5,87 tembakan mengarah gawang per 90 menit. Jumlahnya meningkat menjadi 6,16 tembakan mengarah gawang per 90 menit pada musim perdana Allegri.

Kunci serangan Milan dipegang oleh Robinho yang diberi kebebasan penuh. Robinho biasanya memimpin serangan dalam posisi yang lebih advanced. Ialah yang biasanya berlari dari posisi lebih dalam untuk masuk ke kotak. Dibandingkan penyerang lainnya, Robinho memang menjadi yang paling mobile.

Terlepas dari peningkatan-peningkatan tersebut, musim 2010/11 adalah ironi bagi Milan. Putih dan hitam, gurih dan getir, manis dan pahit. Ini adalah musim penanda kepergian Andrea Pirlo dari Milan. Sebelum kedatangan Van Bommel, Pirlo dan Ambrosini kerap menjadi langganan line up Milan. Akan tetapi, semua berubah sejak kedatangan Van Bommel. Pemain asal Belanda ini menjadi gelandang sentral dan formasi berubah menjadi Van Bommel, Gattuso, dan Seedorf.

Ketimbang playmaker, Allegri lebih menyukai gelandang tengahnya bertugas membangun tembok pertahanan meski juga diberi tugas untuk mendikte permainan. Hal itulah yang membuatnya lebih sering memainkan Van Bommel ketimbang Pirlo. 

Dalam konsep tersebut, Seedorf dibebani pekerjaan sebagai gelandang box-to-box yang membantu pertahanan dan serangan. Dengan mobilitasnya, Seedorf akan mencari celah dan menghubungkan permainan dengan serangan. Adalah Gattuso yang menjadi tandem Seedorf di lini tengah. Pemain ini bertugas untuk memecah serangan lawan secepat mungkin. Taktik ini pula yang membuat Milan dituntut memiliki gelandang-gelandang dengan stamina tinggi.

Selain menjadi rumah bagi ironi, Milan lekat dengan julukan gerbong tua di pada Serie A 2010/11. Menghadapi musim yang baru, Milan aktif pada bursa transfer. Mendapatkan suntikan dana dari Silvio Berlusconi, Milan mendaratkan Antonio Cassano dari Sampdoria, Robinho dari Manchester City, dan Boateng dari Genoa. Selain itu, Milan mendatangkan Ibrahimovic dengan status pinjaman dari Barcelona.

Dari sejumlah pemain yang diboyong ke San Siro, terselip pemain gaek, Mario Yepes. Milan mendapatkan Yepes secara cuma-cuma karena kontraknya bersama Chievo Verona habis. Selain Yepes, pemain veteran lain yang memperkuat AC Milan pada musim 2010/11 adalah Christian Abbiati (32 tahun), Flavio Roma (36 tahun), Alessandro Nesta (34 tahun), Marek Jankulovski (33 tahun), Gianluca Zambrotta (33 tahun), Massimo Oddo (34 tahun), Andrea Pirlo (31 tahun), Gattuso (32 tahun), Seedorf (34 tahun), Ronaldinho (30 tahun), Filippo Inzaghi (36 tahun), serta Ambrosini (33 tahun).

Di satu sisi, kondisi ini memantik romantisme. Di sisi lain, situasi ini membuat Milan seperti kehilangan akal sehat ketika para veteran satu per satu meninggalkan Milan. Toh, sejak kepergian Silva dan Nesta, Milan belum memiliki pengganti setangguh mereka. Begitu pula dengan kepergian seedorf dan Gattuso yang menyisakan lubang menganga di sektor gelandang.

Terlepas dari nasib di masa depan, Milan musim itu adalah tim perkasa. Racikan taktik Allegri, si anak baru, mampu mengakomodasi kekuatan veteran dan darah muda. Hasilnya, Milan menggila, tetapi matang. Mereka menyerang dengan tajam, tetapi tidak membabi buta. Mereka taktis, tetapi juga gigih. Perpaduan kekuatan itulah yang pada akhirnya memantaskan Milan menjadi kampiun Italia di akhir musim.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.