Siapa Berani Pakai Jersey Pink?

Ilustrasi: Arif Utama

Jersey pink tak melulu identik dengan nasib sial. Malah, ada kalanya mengenakan jersey pink membuat kamu bisa terlihat fashionable dan melek gaya.

31 Juli 2020 Real Madrid (kembali) merilis jersey pink. Ini sebuah keberanian. Pertama, pink adalah warna yang dianggap tidak maskulin. Kedua, pink merupakan musuh besar dari Madrid itu sendiri.

Sebelumnya Madrid pernah mengadopsi seragam merah jambu pada 2014/15 dan hasilnya ambyar. Terlepas dari pangkal masalah sebenarnya, Los Blancos berulang menelan hasil buruk. Misalnya, saat keok 2-4 dari Real Sociedad di La Liga. Begitu pula perjalanan mereka di Liga Champions. Di babak gugur, saat Madrid cuma sekali menang saat berlaga mengenakan jersey pink mereka.

Madrid pun gigit jari karena gagal merengkuh titel Liga Champions, La Liga, Copa del Rey, serta Piala Super Spanyol.

Sialnya, kutukan itu masih bertuah sampai sekarang. Madrid kalah dari Manchester City (2019/20), Cadiz, dan Valencia. Ya, Madrid memakai jersey pink dalam tiga laga itu.

Eh, Madrid tidak sendirian, lho! Barcelona yang mengadopsi warna pink di musim ini juga ketiban apes. Mereka takluk 0-1 dari Getafe saat mengenakan seragam ketiganya itu.

Dalam olahraga, tidak ada rumus pasti bahwa warna tertentu jadi jaminan tim buat menang. Warna merah, misalnya. Meski merepresentasikan semangat positif, belum tentu tim dengan jersey warna itu bakal dengan mudah mengalahkan lawan. Ada banyak faktor yang berpengaruh, mulai dari kualitas dan kondisi pemain hingga taktik pelatih.

Meski begitu, ada juga tim olahraga yang percaya bahwa warna bisa memengaruhi performa. The Iowa Hawkeyes, tim atletik yang mewakili University of Iowa, Amerika Serikat, bahkan sampai mengecat ruang ganti tim lawan dengan warna pink untuk membuat musuh mereka menjadi pasif dan tidak energik. Hayden Fry, pelatih Iowa yang juga menempuh pendidikan psikologi, percaya bahwa ruangan serba pink akan mengacaukan pikiran tim lawan.

***

Ngomong-ngomong soal histori, warna pink sebenarnya punya sejarah panjang dalam sepak bola. Bukan untuk melemahkan lawan, tetapi memang dari sononya sudah begitu.

Kita mulai dari Asia. Klub Jepang, Cerezo Osaka, telah mengidentikkan diri dengan warna pink sejak berdiri 63 tahun silam. Ya, sesuai dengan warna bunga sakura yang jadi identitas mereka.

Pun demikian dengan klub asal Prancis, Evian Thonon. Mereka memilih pink sebagai seragam utama meski lambang klub mereka sebenarnya terdiri dari warna merah, putih, dan emas.

Jadi jangan heran Evian kemudian dijuluki Les Roses, yang dalam bahasa Prancis berarti 'Si Pink'. Wong mereka lebih nyaman dengan warna merah jambu ketimbang merah, putih, ataupun emas.

Menyeberang ke Italia, ada Palermo yang sudah mengenakan kombinasi pink-hitam sejak 1907. Count Giuseppe Airoldi, salah satu pendiri klub, mendefinisikan pink-hitam sebagai warna-warna manis yang melankolis.

Pertimbangan lainnya karena warna biru dan merah sudah banyak dipakai oleh klub-klub Italia saat itu. Meski sempat beralih ke jersey kuning-merah di rezim Benito Mussolini, Palermo kemudian kembali ke Rosanero (pink-hitam) hingga sekarang.

Paling historis, ya, Juventus. Jangan salah, mereka pernah memakai jersey pink bahkan sejak abad 19. Sampai akhirnya klub Inggris, Notts County, memberikan jersey hitam-putih untuk 'Si Nyonya Tua' pada 1903.

Makanya dalam beberapa kesempatan Juventus mengadopsi warna pink sebagai jersey tandang mereka. Tepatnya, di musim 1987/88, 2011/12, dan 2015/16.

***

Frankly saying, warna pink begitu identik dengan perempuan. Setidaknya, menjauhkan kita dari kesan maskulin. Mulai dari era Barbie yang amat kental dengan nuansa pink sampai Blackpink yang dipuja karena talenta mereka.

Tentu label pink terhadap kefeminiman tak ujug-ujug muncul. Psikologi warna menunjukkan bahwa warna dapat berdampak pada suasana hati, perasaan, dan bahkan perilaku individu.

Meskipun tidak semua orang bereaksi sama untuk setiap warna, ada pola tertentu yang memperkuat itu. Preferensi demikian bisa dipengaruhi oleh budaya serta pengalaman dari masing-masing individu.

Ada warna-warna yang berhubungan dengan kebahagiaan dan semangat, salah satunya kuning. Warna lain seperti hitam menunjukkan emosi yang lebih gelap. Nah, pink memiliki karakteristik lembut dan penuh kasih sayang yang kemudian diasosiasikan dengan cinta, kebaikan, dan feminitas.

'Doktrin' ini semakin menjadi karena sejak dini anak-anak sudah dipaparkan karakteristik serta pengkotak-kotakan warna. Pink menjadi warna mainan untuk anak perempuan, sedangkan merah, kuning, hijau, atau biru umum dipakai dalam mainan anak laki-laki.

'Ranger Pink' dalam serial Power Rangers hampir pasti perempuan. Shizuka Minamoto nyaris selalu mengenakan setelan pink dalam setiap plot di film Doraemon.

***

Dalam perspektif lain, warna pink bisa menunjukkan hal berbeda. Valerie Steele, Direktur Museum Institut Teknologi Mode, New York, menerangkan bahwa tak ada batasan gender soal warna pink.

"Jika Anda kembali ke abad ke-18, anak laki-laki dan perempuan dari kelas atas sama-sama mengenakan warna merah muda dan biru serta warna lain secara seragam," ucap Steele.

Setali tiga uang dengan anggapan Steele, Leatrice Eiseman yang merupakan Direktur Eksekutif Pantone Color Institute mengatakan bahwa warna pink mengandung sisi maskulinitas yang kuat.

F. Scott Fitzgerald dalam novelnya berjudul ‘The Great Gatsby’ pernah membukakan mata publik soal persepsi men in pink di Amerika Serikat.

Dalam salah satu fragmen, Jay Gatsby digambarkan tengah menggunakan setelan merah jambu. Bukan, bukan untuk membiarkan Tom Buchanan mengolok Gatsby karena tak maskulin. Sebaliknya, Fitzgerald berniat untuk menegaskan kelas sosial Gatsby.

Gatsby yang merupakan salah satu karakter utama dalam novel itu digambarkan sebagai jutawan terpelajar. Fitzgerald juga memperkuat maskulinitas Gatsby lewat statusnya sebagai eks perwira militer di Perang Dunia I.

Oh, ya, ‘The Great Gatsby’ ini memang sarat akan idealisme, perlawanan terhadap perubahan, serta pergolakan sosial di AS pada era 1920-an. Meski tak populer di awal rilisnya, ‘The Great Gatsby’ kemudian meledak setelah Perang Dunia II.

Well, pink bukanlah warna mutlak bagi perempuan. Laki-laki pun bisa mengenakannya tanpa kehilangan maskulinitasnya. Kira-kira demikian maksud Fitzgerald.

***

Dan May, selaku Direktur Mr Porter, pernah mengatakan bahwa pengkotak-kotakan warna tak lagi relevan sekarang. Mengenakan warna tertentu, baik laki-laki maupun perempuan, tak selalu merepresentasikan sesuatu.

Warna hitam tak melulu soal berkabung dan putih-merah juga enggak merepresentasikan seragam sekolah. Termasuk juga pink, bukan warna yang secara eksklusif jadi milik perempuan. Hanya butuh kepercayaan diri serta penataan yang tepat untuk bisa mendobrak stigma warna pink.

"Kekhawatiran utama bagi kebanyakan pria adalah mereka bisa terlihat banci dalam balutan warna pink. Namun, tidak ada warna yang terlarang. Itu hanya bagaimana cara Anda menatanya dan kepercayaan diri yang Anda punya," ucap May dilansir Itsamansclass.

Tak perlu ambil pusing soal penataan, merek-merek kondang sekarang ini telah 'mendukung' men in pink dengan desain minimalis. Streetwear beken macam Supreme, Thrasher, atau Off White yang sudah banyak merilis pakaian kasual berwarna pink.

Sama halnya dengan seragam sepak bola. Sejak pertengahan 2000-an apparel telah meluncurkan jersey pink dengan berbagai motif.

Pada musim 2007/08 Sevilla merilis jersey ketiganya yang berwarna pink-putih. Lyon 2011/12 tampil lebih elegan. Dengan apparel Adidas mereka meluncurkan jersey kombinasi warna pink dengan garis biru yang futuristik. Kemudian ada Juventus 2012/13 yang ikonik dengan motif bintang di bagian depan.

Sementara klub Inggris cenderung minimalis. Mereka tak banyak menuangkan motif di jersey para pemainnya. Ada Everton, Leicester, dan Manchester United pernah memakai warna pink sebagai jersey tandang beberapa periode ke belakang. Pada musim 2020/21 ini, giliran Sheffield United yang mengadopsi jersey pink sebagai alternatif seragam putih-merah mereka.

Dari segi estetika, pink juga tak banyak memengaruhi tampilan pemain. Sergio Ramos masih terlihat oke-oke saja dengan balutan jersey pink. Lionel Messi juga tak tampak cupu dengan seragam merah jambu. Pun dengan Andrea Pirlo yang tetap berkelas meski memakai jersey pink.

Jadi bagaimana, sudah siap untuk memakai jersey pink? 

[BPH]

====

*Buat yang mau tahu lebih banyak soal jersey, lengkap dengan panduan fashion dan lifestyle-nya, bisa main-main ke KultureKit. Cek Instagram mereka di: @kulturekit.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.