Tempat untuk Chilwell

Foto: @chelseafc.

Sempat dipinggirkan oleh Thomas Tuchel, Ben Chilwell akhirnya kembali dipercaya dan reguler bermain sebagai pemain inti.

Ben Chilwell masih tidak percaya. Di perjalanannya menuju lorong ruang ganti Etihad Stadium, usai pertandingan Leicester City vs Manchester City, Mei 2019, ia didatangi oleh Pep Guardiola dan mendengar manajer asal Spanyol tersebut berkata.

“Ia berbisik dan berkata bahwa saya pemain yang berbakat. Ia ingin saya mempertahankan penampilan yang saya lakukan saat ini,” kata Chilwell menirukan ucapan Guardiola.

Ucapan Guardiola secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan Chilwell. Pada musim 19/20, ia jadi salah satu penampil terbaik Leicester. Tiga gol dan tiga assist yang ia buat pada musim tersebut jadi catatan terbaiknya selama berkarier sebagai pesepak bola.

Musim 20/21 berjalan serupa untuk Chilwell. Ia selalu menjadi pilihan utama di sektor kiri pertahanan Chelsea. Pergantian pelatih dari Frank Lampard ke Thomas Tuchel seakan tidak berpengaruh padanya.

Situasi mulai berubah bagi Chilwell saat Marcos Alonso mulai dipercaya pada awal musim 21/22. Semula, Tuchel mengatakan bahwa ini perkara kondisi fisik. Alonso dinilai lebih bugar ketimbang Chilwell saat memasuki awal musim.

Namun, lama kelamaan, Alonso mulai mengunci posisi sektor wing back kiri. Pada enam pekan awal, Alonso nyaris selalu turun sebagai pemain inti dan bermain selama 90 menit. Laga melawan Crystal Palace pada pekan perdana jadi satu-satunya Alonso tidak bermain 90 menit.

***

Enam pekan perdana Premier League 21/22 jadi pembuktian Alonso yang mulai tergeser oleh Chilwell. Meski demikian, kesempatan tersebut tidak selalu diakhiri dengan penampilan solid. Ada kalanya Alonso bermain jauh di bawah standar.

Laga melawan Aston Villa jadi momen pertama Alonso bermain biasa saja. Meski berhasil membawa Chelsea menang, ia minim kontribusi, terutama saat menyerang. Dari 20 sentuhan di sepertiga akhir pertahanan Villa, hanya empat yang berakhir dengan operan ke kotak penalti dan satu percobaan ke gawang.

Angka yang didapatkan oleh Alonso terbilang kecil untuk ukuran attacking wing back. Dengan berada di posisi tersebut, tugas utama Alonso adalah mengalirkan bola ke kotak penalti lawan dan melepas tembakan.

Kekecewaan Tuchel berangkali mencapai puncak saat Chelsea bersua Manchester City. Pada pertandingan tersebut, ia hanya mampu melepaskan enam umpan ke sepertiga akhir pertahanan City.

Tidak hanya minim kontribusi menyerang, Alonso juga bermasalah saat bertahan. Ia gagal membuat satu pun intersep, hanya berhasil melepaskan satu tekel dan memenangi satu duel udara, serta kehilangan bola lima kali.

Dari masalah tersebut, Chilwell akhirnya mendapatkan kesempatan. Pertandingan melawan Southampton jadi kesempatan pertama.

Chilwell tidak memulai laga ini dengan apik. Pada babak kedua, ia bahkan memberikan Southampton hadiah penalti usai menekel Valentino Livramento. Hukuman tersebut ia balas dengan sebuah sepakan voli yang berujung gol.

Penampilan Chilwell mulai menanjak signifikan saat menghadapi Brentford. Di laga tersebut, ia mencetak satu-satunya gol Chelsea lewat sebuah tendangan voli usai memanfaatkan kemelut di depan gawang Brentford.

Di laga melawan Brentford pula, tampak bagaimana Chilwell diberi tugas tambahan untuk masuk ke half space lawan. Kebebasan ini membuatnya punya ruang bermain yang semakin luas dan kesempatan untuk mengirimkan umpan ke lebih banyak area.

Secara aspek bertahan, Chilwell juga amat dominan. Empat tekel yang ia lepaskan memiliki akurasi 100%. Ia juga memenangi dua duel udara, menciptakan satu intersep, dan kehilangan bola tiga kali.

Chilwell juga cepat saat melakukan transisi bertahan. Aksi ini membuat Brentford, yang musim ini 34% serangannya diciptakan lewat sisi kiri lawan, kesulitan. Mereka bahkan hanya mampu menciptakan dua dribel di area kiri lawan--mereka punya rata-rata 3,2 dribel per pertandingan di sisi kiri lawan.

Penampilan apik Chilwell jatuh pada laga melawan Norwich City. Tampil selama 90 menit, ia berhasil mencetak satu dari tujuh gol kemenangan Chelsea. Lewat gol ini, ia menjadi bek asal Inggris pertama yang mencetak tiga gol pada tiga pertandingan di level klub secara beruntun.

14 sentuhan di sepertiga akhir pertahanan lawan jadi bukti bagaimana Chilwell jadi salah satu tumpuan Chelsea saat menyerang. Makin menarik karena lima di antaranya ia lakukan di half space lawan.

Hal menarik lain, Chilwell minim mencatatkan umpan pendek dan umpan silang, ia hanya menciptakan tiga umpan pendek dan dua umpan silang. Ini disebabkan Tuchel amat memanfaatkan pandainya ia bergerak untuk mengisi ruang kosong di kotak penalti lawan, yang berujung dua percobaan.

Penampilan Chilwell melonjak signifikan dalam tiga pertandingan terakhir. Peran attacking wing back yang diberikan oleh Tuchel sesuai dengan kemampuan Chilwell. Sebagai bek sayap, Chilwell memang amat rajin naik membantu serangan dan mencari ruang di pertahanan lawan.

Namun demikian, kita tidak dapat melupakan peran pemain-pemain lain dalam perkembangannya. Bek tengah sebelah kiri Chelsea, Antonio Rudiger, adalah salah satu pemain yang punya peran terhadap perkembangan Chilwell.

Inisiatif Rudiger untuk menutup lawan dengan cepat membuat Chilwell (kadang) tidak perlu repot untuk membantu pertahanan. Saat menyerang, Chilwell juga bisa fokus mencari ruang karena Rudiger amat rajin membawa bola hingga daerah permainan lawan.

***

Sejauh ini, kesempatan yang diberikan oleh Tuchel kepada Chilwell berhasil dilakukan dengan baik. Dari sisi kiri, ia berhasil membawa dimensi baru untuk Chelsea, baik dari umpan silang hingga penempatan posisi yang berbuah gol.

Patut ditunggu sejauh mana Chilwell bisa terus bermain apik dan mewujudkan ucapan Guardiola, dua tahun lalu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.