Tentang Lubang-lubang di Lini Pertahanan Chelsea Itu

Foto: Facebook ChelseaFC

Pertahanan yang rapuh adalah petaka buat Chelsea. Berulang kali kemenangan mereka terenggut akibat persoalan ini.

Pada suatu titik, pelatih Chelsea, Frank Lampard, pernah merasa kesal. Ia pusing bukan kepalang melihat lini pertahanan timnya yang gampang ditembus lawan.

“Melihat catatan kebobolan kami, saya sedikit khawatir. Kami memang mampu membuat lawan kesulitan menembak ke gawang kami. Akan tetapi, kami terkadang membiarkan lawan membobol gawang kami dengan mudah,” ujar Lampard, dikutip dari The Guardian.

Mungkin perkara lubang di lini pertahanan itu tidak jadi masalah besar jika pada akhirnya Chelsea mampu memenangi laga. Apes, buruknya lini pertahanan berimbas negatif pada tim. Kemenangan yang sudah di depan mata sirna. Malah terkadang Chelsea jadi bulan-bulanan lawan.

Pada musim 2019/20 situasi demikian acap terjadi. Di awal musim, mereka dibekuk Manchester United 0-4 di Premier League akibat pertahanan yang menganga. Hal serupa juga terjadi saat mereka menghadapi Southampton dan Sheffield United. Pertahanan berlubang membuat mereka kalah 0-2 dan 0-3.

Di Liga Champions, masalah pertahanan itu juga memberikan efek buruk buat Chelsea. Ajax mampu memaksakan hasil imbang 4-4 di Stamford Bridge akibat celah di pertahanan. Di babak 16 besar, mereka juga harus menyerah dari Bayern Muenchen dengan total agregat yang kentara, yakni 1-7, dengan alasan yang tak jauh beda.

Chelsea kebobolan 54 kali di Premier League 2019/20. Catatan ini menjadikan mereka tim ke-10 dengan kebobolan terbanyak. Mereka bahkan kalah dari Sheffield yang cuma kebobolan 39 kali dan Wolverhampton Wanderers yang kemasukan 40 kali.

Apes buat Lampard, apa yang terjadi pada musim lalu, nyatanya masih terjadi pada musim 2020/21. Pertahanan mereka masih menjadi sorotan.

***

Chelsea memulai musim 2020/21 dengan meyakinkan. Mereka membukukan kemenangan 3-1 atas Brighton and Hove Albion. Namun, selepas laga itu, inkonsistensi pertahanan kembali merundungi mereka. Mereka cuma bermain imbang 3-3 dengan West Bromwich Albion dan Southampton.

Di atas kertas, West Brom dan Southampton semestinya tidak sulit dijinakkan. Saat melawan The Saints, Chelsea bahkan sempat unggul 3-2. Namun, The Blues malah gagal mempertahankan keunggulan tersebut.

Dalam tulisannya di laman The Guardian, Jacob Steinberg memaparkan bahwa secara sistem, pertahanan Chelsea memang belum menyatu. Jika kita bicara sistem pertahanan, tentu penjaga gawang, bek, dan gelandang bertahan menjadi poin-poin yang terlibat di dalamnya.

Penjaga Gawang yang Kerap Blunder

Nah, mari soroti penjaga gawang terlebih dulu. Kepa Arrizabalaga menjadi pesakitan sejauh ini. Sebenarnya, angka xGA (expected goals against) Chelsea musim lalu itu sedikit, yakni sebesar 41,09. Mereka hanya kalah dari Liverpool, Manchester United, Wolves, dan Manchester City yang punya angka xGA lebih sedikit.

Dari catatan itu, terlihat bahwa Chelsea mampu menyaring serangan lawan dengan baik. Namun, penampilan buruk Arrizabalaga membuat gol masih kerap terjadi. Musim lalu, persentase save per laga sosok asal Spanyol itu cuma 54,5%. Jumlah itu jadi yang terkecil di antara penjaga gawang klub papan atas Premier League.

Musim ini, Arrizabalaga juga masih dekat dengan eror dan blunder. Paling nyata terjadi saat Chelsea menghadapi Liverpool. Kesalahannya mampu dimanfaatkan Sadio Mane untuk menambah keunggulan ‘Si Merah’ di pertandingan tersebut.

Alhasil, Chelsea sampai mendatangkan Edouard Mendy dari Rennes untuk mengatasi masalah ini. Hal itu sekaligus menjadi alarm bagi Arrizabalaga. Jika ia masih tampil buruk, bukan tidak mungkin Mendy akan menggusur posisinya. Apalagi, ketika Mendy bermain, yakni saat lawan Crystal Palace dan Sevilla, gawang Chelsea aman dari kebobolan.

Gelandang Bertahan yang Gagal Jadi Pelapis

Gelandang bertahan semestinya mampu menyaring serangan lawan sejak dari tengah. Mereka lazimnya dilengkapi kemampuan intersep atau tekel mumpuni, ditambah dengan keahlian dalam membaca permainan. Nah, sebenarnya Chelsea memiliki sosok gelandang bertahan macam ini: N’Golo Kante dan Jorginho.

Jorginho, selain memiliki kemampuan distribusi bola yang baik, andal intersep. Musim lalu, ia mencatatkan total 64 intersep, terbanyak ke-11 di antara para pemain Premier League yang lain. Sementara, Kante memang sudah dikenal sebagai gelandang dengan tekel andal.

Alih-alih melapisi pertahanan, keduanya malah kerap maju terlalu tinggi. Bukannya saling melengkapi, keduanya justru sama-sama bergerak ke area pertahanan lawan. 

Memang ada sedikit perubahan pada Kante, terutama sejak Maurizio Sarri menangani tim. Ketika didatangkan pada masa kepelatihan Antonio Conte, Kante ditugaskan untuk memberikan rasa aman bagi lini pertahanan. 

Kala itu, tekel-tekelnya kerap jadi pemutus kreasi lawan di lini tengah. Alhasil, meski Conte menggunakan skema dasar tiga bek, keberadaan Kante menjadikan pertahanan tampak begitu berlapis.

Kedatangan Sarri yang berbarengan dengan Jorginho membuat Kante bertransformasi. Alih-alih menjadi pengawal lini pertahanan, Kante jadi lebih sering maju ke depan. Total shots yang ia lepaskan juga bertambah, dari yang awalnya hanya 27 (musim 2016/17) dan 25 (musim 2017/18), menjadi 29 (musim 2018/19).

Tidak cuma itu, Kante juga mampu menorehkan 4 gol dan 4 assist pada musim 2018/19. Pada musim 2019/20, agresivitasnya di lini serang tetap terasa. Ia sukses mencetak 3 gol.

Namun, transformasi Kante membuat lini tengah Chelsea gampang diekspos lawan. Ketiadaan sosok yang berpatroli di depan bek membuat para pemain lawan leluasa berkreasi di area sepertiga akhir Chelsea. Terlebih, Jorginho juga kerap gagal kembali ke posnya selepas menyerang.

Tidak heran ‘Si Biru’ begitu menggebu ingin mendatangkan Declan Rice. Sosok asal Inggris itu juga punya catatan bertahan ciamik: 77 intersep di Premier League 2019/20 (terbanyak kelima), serta 116 tekel di Premier League 2019/20 (terbanyak keempat).

Pemimpin di Lini Pertahanan

Lampard sadar bahwa Chelsea butuh pemimpin di lini pertahanan. Menghadirkan Thiago Silva—dengan segala pengalaman yang ia punya—jadi salah satu solusi. Selepas John Terry pergi, Chelsea tidak lagi memiliki pemain menakutkan dan penuh kharisma di lini pertahanan.

Silva diharapkan dapat jadi pemegang komando lini pertahanan. Pada 2019/20, ketiadaan sosok pemimpin di lini belakang membuat garis pertahanan Chelsea kelewat tinggi. Hal ini membuat lawan dengan mudah mampu mengekspos pertahanan Chelsea.

Sayangnya, Silva masih harus menyesuaikan diri. Satu kesalahannya berakibat fatal di laga lawan West Brom.

Dengan pengalamannya, Silva punya bekal untuk jadi pemegang komando pertahanan. Namun, masalah bahasa—ternyata Silva belum lancer berbahasa Inggris—menjadi salah satu sebab Silva kesulitan melakukan koordinasi di pertahanan. Sejauh ini, ia masih ditolong oleh Cesar Azpilicueta untuk berkomunikasi.

***

Jose Mourinho, eks pelatih Chelsea, pernah mengungkapkan bahwa Lampard sebenarnya memiliki tim yang bagus. Namun, Mourinho berharap Lampard bisa memberikan pendekatan berbeda di setiap pertandingan. Bagaimanapun, memadukan pemain muda dan senior saja belum cukup.

“Saya ingin melihat apakah mereka akan menemukan jalan tengah di antara sepak bola apik yang mereka mainkan dan pragmatism yang hadir ketika sesame tim besar saling bertemu,” ujar Mourinho.

Pragmatisme yang dimaksud Mourinho berkaitan dengan skema pertahanan yang rapi. Lini pertahanan yang tidak mudah ditembus hadir dari kerapian organisasi pertahanan tim. Pertahanan yang baik akan menghadirkan rasa tenang.

Liam Twomey dalam tulisannya di The Athletic, mengungkapkan bahwa dalam laga Liga Champions lawan Sevilla, Rabu (21/10/2020), Chelsea sudah mampu menerapkan skema pertahanan yang baik. Mereka memaksa Sevilla hanya mampu mencatatkan empat tembakan (dua mengarah ke gawang), dengan angka xG (expected goals) yang hanya 0,24.

Masalahnya, terlalu fokus di pertahanan membuat Chelsea juga minim peluang. Mereka hanya menorehkan total enam tembakan (dua mengarah ke gawang), dengan angka xG mencapai 0,36, terburuk sejak Lampard mulai menangani Chelsea 15 bulan silam.

Ya, sesuai yang diucapkan Mourinho, Lampard dan Chelsea harus mulai mencari jalan tengah untuk menjembatani sepak bola menyerang yang mereka mainkan, plus kuatnya lini pertahanan. Laga lawan Manchester United pada akhir pekan ini, Sabtu (24/10) mestinya jadi momen yang tepat bagi Chelsea untuk mewujudkannya.

====

Catatan editorial: Sebelumnya ditulis bahwa Silva turut bermain di laga melawan Liverpool. Yang benar, ia belum bertanding di duel tersebut. Demikian kesalahan tersebut sudah diperbaiki, kami memohon maaf atas kesalahan redaksional ini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.