The Making of Cristante

Foto: Twitter @Cristante

Dari pemain yang dipinjamkan ke berbagai klub dan menjadi penghangat bangku cadangan, Cristante menjadi elemen penting bagi permainan Roma.

Sepak bola menuntut Bryan Cristante untuk menjadi dewasa. Masalahnya, Cristante tidak tahu apa artinya menjadi dewasa. Sampai akhirnya ia menemukan AS Roma. Di tempat inilah ia menanggalkan segala kekanak-kanakan yang masih melekat.

Sepak bola dalam dunia Cristante dimulai dari AC Milan. Ia mengecap pengalaman berlaga bersama klub dengan historis megah di sana. Mengawalinya dari Primavera, Cristante menjejak ke tim senior dengan melakoni laga debut di Liga Champions pada 2011.

Setelah menjadi pemain terbaik di turnamen remaja, Torneo di Viareggio 2013, segala sesuatunya mulai melenakan. Barangkali Cristante merasa bahwa ia adalah tokoh sentral dalam sebuah epos. Yang bakal datang padanya hanya kegemilangan demi kegemilangan. Ini hidup baru, periode penting yang akan membuat seorang pemuda 19 tahun ke puncak gunung prestasi. 

Cristante pada akhirnya ditawari kontrak profesional oleh Benfica pada 2014. Tak masalah jika harus berkelana meninggalkan Italia. Toh, pilihan itu pula yang diambil oleh ayahnya sehingga ia memiliki paspor Kanada.


Cristante punya gejolak yang meledak-ledak. Alih-alih menggunakannya untuk melepas sepakan menggebu saat bertanding, emosi itu ia luapkan sejadi-jadinya sehingga memicu pertengkaran dengan orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari pelatih, rekan setim, lawan, hingga staf klub, semua pernah merasakannya.

Maka dalam semusim Cristante hanya berlaga tujuh kali bersama Benfica. Apa boleh buat, tak ada tempat bagi pembangkang di Benfica. Mungkin Cristante tak sedang melawan. Mungkin yang ada padanya bukan aura pemberontak. Barangkali itu hanya bagian dari kegigihan memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran, grit. 

Di satu sisi, hal tersebut terlihat baik, apalagi buat pemain muda sepertinya. Sepak bola adalah tanah yang keras. Siapa yang tak bernyali akan mati terinjak. Di sisi lain, ini adalah malapetaka. Setiap tim membutuhkan jagoan, tetapi tidak ada yang membutuhkan sok jagoan. 

Watak yang entah bagaimana bisa mengendap itu menjadi malapetaka. Cristante terancam dipisahkan dari dunia sepak bola yang begitu dicintainya selama ini. Minimnya menit bermain adalah musibah. Kariermu bisa tenggelam jika kau tak segera mencari sekoci. 

Apa boleh buat, pada 2016 Cristante mengiyakan tawaran untuk dipinjamkan lagi ke klub Italia. Palermo dan Pescara, dua klub itu menjadi tempat persinggahannya. Tentu saja semuanya tetap meredup. Namun dengan remang-remang seadanya, Cristante tetap menendang bola hingga akhirnya ia bertemu dengan Gian Piero Gasperini.

***

Untuk melihat yang terbaik dari mereka yang telanjur dicap buruk, dibutuhkan ia yang pernah merangkak sebagai pesakitan. Dalam cerita Cristante, orang itu adalah Gasperini.

Mirip dengan Cristante, Gasperini pernah terlunta. Pada 2011, ia ditendang dari kursi pelatih Inter Milan walau jabatannya baru berjalan setengah musim. Siapa yang menyangka Gasperini-lah yang pada akhirnya membawa Atalanta berlaga di Liga Champions untuk pertama kalinya?

Cristante hanya bisa berkata 'ya' ketika Gasperini mengubah perannya dari regista menjadi trequartista. Sepak bola Italia mengagungkan peran ini. Pemain yang beroperasi di tiga perempat akhir lapangan alias area pertahanan lawan sering dipandang sakral. Masalahnya, Gasperini memberikan tugas wangi semerbak ini kepada anak muda yang emosinya gampang menggila. 

Pertaruhan Gasperini tak berujung buntung, Cristante berhasil dibentuk menjadi senjata mematikan Atalanta. Emosinya yang meluap-luap itu pun mereda. Kalaupun ada yang menbuatnya naik pitam, Cristante akan meluapkannya dengan tampil menghentak di pertandingan.

Bersama Atalanta ala Gasperini, Cristante memang tidak menimang trofi. Namun, di tempat inilah ia menyadari bahwa ia belum akan dipisahkan dengan sepak bola yang begitu dicintainya itu. Segala hari buruk yang melekatkannya dengan bangku cadangan, cerita-cerita memuakkan yang membuatnya mengutuki sepak bola di masa lampau menjadi kepergian mutlak.

Hanya karena mengemban peran ofensif, bukan berarti Cristante klemar-klemer dalam menekan lawan. Kemampuannya ini pula yang membuat tim perekrutan Roma yang dipimpin oleh Monchi gencar mengincar tanda tangannya. Eusebio di Francesco membutuhkan pemain yang tahu membuat lawan kerepotan dengan pressing. Di mata Di Francesco, Cristante adalah tokoh utama dalam mengimplementasikan skema counterpressing yang kuat dan tangguh.

Bermain sebagai gelandang yang beroperasi lebih dalam adalah tugas yang dilakoni Cristante. Dalam perjalanannya bersama Di Francesco ia tahu betul kapan harus menekan, kapan harus menjaga possession, dan kapan harus men-support rekannya.


Dalam tulisannya untuk laman resmi AS Roma, Samuel Bannister menggambarkan bahwa Cristante adalah gabungan dari kejelasan visi, permainan presisi, dan kreativitas. Ketika menguasai bola, ia tahu persis bagaimana menggunakan tubuhnya untuk melindungi kepemilikan bola. Penggunaan tubuh ini sangat penting karena saat memutar tubuh itulah ia dapat menemukan ruang yang tepat, entah itu untuk melepas umpan atau melesakkan tembakan.

Bagi lawan-lawannya, Cristante adalah pengacau ulung. Untuk memahaminya, kita bisa mengingat seperti apa permainannya saat Italia berlaga melawan Inggris di final Piala Eropa 2020. Ketika itu, Cristante masuk di seperempat babak kedua menggantikan Nicolo Barella. 

Roberto Mancini menugaskan Cristante untuk mengisi ruang di kiri pertahanan Inggris. Karena juga memiliki Berardi, Italia jadi tak kalah-kalah amat dalam jumlah, bisa menghadirkan situasi 4 vs 5, bahkan sekali waktu 5 vs 5.

Selain itu, penempatan Cristante dapat mengeksploitasi ruang antara lini tengah dan belakang Inggris. Jangan lupa bahwa Azzurri diperkuat oleh Lorenzo Insigne yang gesit. Situasi yang muncul saat itu membuat Inggris kebingungan tentang siapa yang akan ditekan, Insigne atau Cristante. Dengan permainan seperti itulah Cristante merengkuh gelar Piala Eropa bersama Italia.

Barangkali apa-apa yang dilakukannya bersama Italia dan Roma kalah seksi dibandingkan kawan-kawannya. Mungkin ia bukan nama utama ya g diharapkan untuk mencetak gol atau memecah kebuntuan. Barangkali Cristante juga bukan pemain yang paling sering memegang bola.

Namun, akan selalu ada mata yang mengamati bahkan saat kau tak merasa layak untuk diperhatikan. Setelah Pellegrini, Di Francesco (lalu Claudio Ranieri dan Paulo Fonseca), dan Mancini, muncullah Jose Mourinho dengan aura nyentrik yang tak dapat dipadamkan.

Bersama Mourinho, Cristante kembali menjadi elemen penting. Sang bos Portugal menawarkan tugas baru kepada Cristante. Lagi-lagi bukan pekerjaan yang membuatnya tampak gemerlap. 

Ketika timnya menyerang, Cristante akan mengambil posisi lebih dalam. Ia seperti menarik diri dari gegap gempita serangan yang membikin entah berapa banyak pemain ingin terlibat. Bersama sang fullback kanan, Rick Karsdrop, Cristante bersiap untuk membuat counterpressing maupun menangkal serangan balik lawan. Tandemnya di lini tengah, Jordan Veretout, maju untuk membantu serangan. 

Keputusan Mourinho ini masuk akal karena Veretout tidak memiliki atribut defensif sebaik Cristante. Jangan lupa bahwa Cristante bahkan pernah bermain sebagai bek saat dilatih Fonseca. Dalam 3 pertandingan awal Serie A 2021/22, Cristante membuat 5 tekel sukses, dengan 3 di antaranya dilakukan di area midfielder. 

Statistik tersebut menunjukkan bahwa Cristante memang pemain yang benar-benar ditunjuk untuk beroperasi dan menjaga kawan-kawannya dia area tersebut. Veretout bukannya tak melepas aksi-aksi defensif. Namun, tidak ada satu pun dari 2 aksi tekelnya yang dibuat di area yang sama dengan Cristante. 

Pun demikian dengan pressing. Mengutip statistik FBRef, dalam kurun yang sama Cristante telah membuat 41 pressing dengan 39% di antaranya sukses. Jumlah ini merupakan yang terbaik di antara seluruh timnya. 

Suatu aksi pressing dinyatakan sukses (menurut statistik FBRef) jika--maksimal--dalam 5 detik, pressing tersebut mampu membuat tim menguasai bola. Serupa dengan tekelnya, sebagian besar pressing Cristante itu pun dilakukan di area midfielder (20), sedangkan 13 pressing di area pertahanan, dan 8 sisanya di sepertiga serangan akhir.

Namun ketika Roma membutuhkan penggebrak, Cristante pun dapat melakukannya. Teranyar, ia mencetak gol pembuka melawan Sassuolo yang mana merupakan  laga ke-1.000 Mourinho sebagai pelatih. 

Dengan kecepatan dan kejeliannya menemukan ruang, Cristante menjadi pembeda. Berbekal segala kualitas itu, tak heran jika berulang kali Mourinho menyebut Cristante sebagai pemain pentingnya. Ialah yang menjadi tonggak penyeimbang permainan Roma.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.