Turbulensi Chelsea

Foto: @chelseafc.

Chelsea punya cela dan mengalami turbulensi. Tapi, kans untuk menggamit Premier League masih cukup besar. Tinggal bagaimana Tuchel menyusun formula untuk menjawab permasalahan yang ada.

Thomas Tuchel gusar soal keputusan Premier League. Tak seharusnya laga Chelsea vs Wolverhampton Wanderers di Molineux Stadium berjalan. Kesehatan dan keselamatan skuad harus diutamakan; itulah narasi yang ia bangun.

Tidak ada yang salah dengan narasi itu. Tujuh pemain Chelsea terkonfirmasi positif COVID-19. Daya tular virus SARS-CoV-2 yang cepat dikhawatirkan akan menginfeksi pemain lain meski hasil tes negatif.

Belum lagi cuaca. Kabut tebal menyelimuti Molineux. Otomatis jarak pandang pemain terganggu. Itu berpotensi mengancam keselamatan pemain. Namun, apa-apa yang terjadi, tidak meyakinkan Premier League untuk memakbulkan permohonan penundaan laga.

"Premier League punya pendapat. Kami memiliki pendapat yang berbeda. Kami sepakat untuk tidak setuju (dengan Premier League). Namun, kami banyak berbicara tentang keselamatan dan bagaimana melindungi pemain," ucap Tuchel usai Chelsea bermain imbang tanpa gol dengan Wolves.

Hasil imbang tersebut membuat Chelsea goyah di tabel klasemen. Mereka kini terpaut enam poin dengan pemuncak klasemen, Manchester City. Jalan menggamit trofi kian terjal dan berat.

Bagi Tuchel, satu poin di Molineux tidak buruk-buruk amat. Skuad The Blues pincang. Mereka tidak dapat turun dengan skuad terkuat. Di bangku cadangan, hanya ada enam pemain, dan dua di antaranya penjaga gawang.

N'Golo Kante yang belum fit pun bermain sejak menit pertama. Selepas laga, Tuchel mengaku bahwa memainkan Kante selama 90 menit bukan keputusan bijak, bahkan tidak bertanggung jawab. Namun, mau bagaimana lagi. Toh, performa Kante cukup impresif.

Pemain berkebangsaan Prancis itu berperan penting menjaga keseimbangan Chelsea. Mengacu WhoScored, Kante mencatatkan lima dribel sukses. Catatan itu tertinggi di antara pemain Chelsea maupun Wolves.

"0-0 di Wolves, clean sheet lagi....banyak hal positif," kata Tuchel. "Kami bisa saja memenanginya dengan sedikit lebih berkualitas (dalam finishing). Kehilangan poin kali ini bukanlah masalahnya. Yang merugikan kami, saat kehilangan poin di kandang."

***

Chelsea versi Tuchel adalah Chelsea yang pakem dengan skema tiga bek. Turunannya, 3-4-2-1, 3-4-3, atau 3-4-1-2. Laiknya formasi tiga bek, dua wing-back mengampu peran krusial dalam fase defensif dan fase ofensif.

Dalam skema Tuchel, atribut ofensif wing-back menjadi yang utama. Itu karena wing-back kudu bergerak menuju half-space sekaligus menciptakan overload di depan. Semakin banyak pemain di pertahanan lawan, semakin banyak kans berbahaya yang bisa mereka hadirkan.

Daya ledak wing-back turut ditopang oleh pergerakan dinamis tiga pemain depan. Mason Mount, Kai Havertz, maupun Hakim Ziyech, bergerak dengan leluasa. Begitu juga penyerang tengah yang akan berperan sebagai false nine dengan bergerak ke berbagai sisi untuk membuka ruang.

Pergerakan tersebut menghadirkan ruang bagi wing-back Chelsea untuk meneror gawang. Nilai plusnya, wing-back Chelsea, khususnya Reece James dan Ben Chilwell, punya kemampuan shooting yang oke. Jika dikalkulasi, kedua pemain itu sudah merangkum 7 gol di Premier League.

Namun, hasil imbang dengan Everton di Stamford Bridge merepresentasikan bahwa skema tersebut masih ada cela. Repetisi serangan dengan mengandalkan wing-back sudah bisa ditebak The Toffees.

Pasukan Rafael Benitez bermain lebih dalam dan rapat. Jarak antarpemain di pertahanan dipangkas. Mereka menumpuk pemain di sekitar kotak penalti. Lima pemain berada di dalam kotak 16, empat pemain di depannya.

Hasilnya jitu. Chelsea kesulitan masuk ke area pertahanan, khususnya wing-back. Mengacu WhoScored, James dan Alonso, jika dikalkulasi, hanya menyentuh bola 3 kali di dalam kotak penalti.

Untuk membongkar pertahanan Everton, Chelsea mengalihkan fokus serangan ke area half-space. James bermain lebih ke tengah. Lewat skema itu, Chelsea mampu mencetak satu gol. Setelahnya, Everton bermain lebih dalam lagi dengan compact yang padat.

Itu juga yang membuat pemain Chelsea sulit menemukan ruang tembak yang nyaman. Dalam laga itu, Chelsea melepaskan 23 tembakan. Namun, hanya 1 lesakan yang berujung gol.

Persoalan lain Chelsea adalah transisi dari bertahan ke menyerang. James yang sangat agresif membuat sisi kanan pertahanan Chelsea terbuka cukup lebar. Everton memanfaatkan situasi itu dengan melancarkan serangan balik ke sisi tersebut. WhoScored mencatat 51 persen serangan Everton diarahkan ke sisi kanan Chelsea.

Serangan Chelsea saat lawan Everton. Foto: YouTube Chelsea TV

Dari sisi itu juga, Everton mendapatkan peluang via bola mati yang berujung gol penyama kedudukan pada menit 74. Selepas gol itu, Everton semakin fokus menggalang kekuatan di belakang. Sedangkan Chelsea memegang kendali permainan dengan penguasaan bola 79,5 persen. Namun, tidak ada lagi gol dalam laga itu.

Keadaan serupa terjadi saat melawan Wolves. Chelsea tetap memusatkan serangan di sisi kanan. Kante pun berfokus membangun serangan di sisi tersebut. Yang membedakan, Wolves cukup intens memberikan tekanan kepada dua gelandang bertahan Chelsea. Itu membuat suplai bola ke depan tidak begitu lancar.

Meski begitu, gelandang bertahan Chelsea, khususnya Kante, mampu mengeliminasi pressing ketat Wolves via dribel mumpuni. Dengan begitu, Chelsea bisa meneror gawang Wolves.

Sama seperti Everton, Wolves pun menumpuk pemain di kotak penalti. Ruang gerak dan tembak pemain Chelsea menjadi minim. Jumlah tembakan on target yang hanya satu mengonfirmasi itu.

Persentase serangan Chelsea di sisi kanan menyentuh 49 persen. Terlalu bertumpu di sisi kanan, lagi-lagi, menimbulkan cela di belakang. Wolves mengeksploitasi itu dengan serangan balik cepat.

Serangan Wolves di sisi kiri pertahanan Chelsea. Foto: YouTube Wolves

Melalui skema itu, Wolves acap membuat jantung fan Chelsea berdebar-debar. Apalagi, Daniel Podence sempat menggetarkan jala gawang Chelsea, sebelum lesakan itu dianulir karena offside.

Pada akhirnya, dua hasil imbang dalam dua laga Premier League terakhir tidak cuma tentang COVID-19 dan satu poin. Tapi, ada cela yang harus menjadi atensi Tuchel, seperti terlalu menitikberatkan serangan di sisi kanan dan minim opsi membongkar pertahanan lawan. Belum lagi transisi dari fase ofensif ke fase bertahan yang kerap menggagalkan kemenangan.

Ya, Chelsea punya cela dan mengalami turbulensi. Meski posisi mereka sedikit gontai di papan klasemen, tapi kans untuk menggamit Premier League masih cukup besar. Tinggal bagaimana Tuchel menyusun formula untuk menjawab permasalahan-permasalahan Chelsea di lapangan.

Tentu saja, itu bukan perkara mudah. Apalagi, Tuchel sempat berkata bahwa Premier League merupakan, "Liga terberat di dunia."

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.