Vallecano: The Resistance

Foto: Instagram @oscar8trejo

Jika orang-orang berkata bahwa badai pasti berlalu, badai di Vallecano justru berlalu-lalang. Namun, entah bagaimana caranya Vallecano bertahan, bahkan bangkit dan menjadi salah satu yang mengancam.

Sedikit demi sedikit, inci demi inci, jarak antara Vallekas dan Madrid melebar.

Seolah-olah dengan tinggal di Vallekas, orang-orang telah menerima takdir khusus. Tempat itu memberikan rasa yang tidak dapat dibagi kepada orang lain, memberikan emosi yang tidak dapat disesap oleh mereka yang tidak ada di tempat itu.

Kehidupan orang-orang Vallekas begitu luhur, murni, dan keren. Itu bermanivestasi menjadi sebentuk emosi yang tak satupun dari orang-orang Madrid, yang berjuang sekuat tenaga untuk memaksakan suatu bentuk kehidupan ketika kehidupan itu sendiri tak berbentuk, dapat mulai memahami.

Vallekas adalah kawasan permukiman kelas pekerja di selatan Kota Madrid. Secara garis besar, Vallekas dibagi menjadi dua distrik: Puente de Vallekas dan Villa de Vallekas. Sebelum pemerintah Spanyol memasukkannya dalam area administrasi Kota Madrid, Vallekas adalah sebuah kota kecil yang independen. Konon keputusan tersebut dipicu oleh krisis kesejahteraan di Spanyol yang membuat orang-orang berurbanisasi ke Madrid. Akan tetapi, tak ada tempat yang bisa mereka huni selain Vallekas. Karena lonjakan arus urbanisasi tersebut, Vallekas akhirnya menjadi bagian dari Kota Madrid.

Namun, Vallekas tidak pernah benar-benar bersatu dengan Madrid. Pada era kekuasaan Jenderal Franco sekalipun, Vallekas adalah kantong perlawanan terhadap fasisme. Orang-orang Vallekas begitu mengagungkan kesetaraan dan keadilan sosial. Barangkali, itu pulalah yang membuat mereka membuka diri terhadap arus urbannisasi. Bagi orang-orang Vallekas, tanah mereka terbuka bagi siapa pun yang terdepak, bagi siapa pun yang terbuang.

Orang-orang Vallekas bahkan menulis wilayah mereka dengan menggunakan huruf K, bukannya C. Mungkin itu adalah bentuk perlawanan terhadap bahasa Spanyol yang menggunakan huruf C untuk pengucapan K. Baru dalam bahasa Inggrislah, Vallekas ditulis menjadi Vallecas.

*****
Tidak ada yang benar-benar dapat menjawab siapa yang sebenarnya menjadi keajaiban: La Liga 2021/22 atau Rayo Vallecano. Menuntaskan 20 laga, Vallecano berdiri di posisi tujuh klasemen sementara La Liga, hanya berjarak dua angka dari Barcelona. Jangan lupa bahwa Barcelona sudah berlaga 20 kali. Itu artinya, kesempatan Vallecano untuk berlaga di kompetisi Eropa masih terbuka lebar. Bisakah dibayangkan, Vallecano yang merupakan tim ketiga di Madrid, berlaga di kompetisi Eropa?

Tribune mana pun yang disesaki oleh suporter Vallecano bergemuruh musim ini. Gemuruhnya berbeda, intensitasnya jauh lebih sering daripada musim-musim selanjutnya. Sid Lowe dalam kolomnya di The Guardian menulis bahwa klub ini adalah sarang masalah. Pemain-pemain tanpa kontrak di tim muda tidur di lantai, tim perempuan tidak memiliki dokter sehingga pemain mereka dirawat oleh dokter tim lain saat pertandingan, status mereka sebagai klub terkecil di Primavera, kekurangan uang, tanah yang berantakan. 

Jika orang-orang berkata bahwa badai pasti berlalu, badai di Vallecano justru berlalu-lalang.

Oscar Trejo, sang kapten, bahkan berkata, seandainya jadi suporter, ia bisa mengamuk dan bersumpah serapah di bangku tribune karena Vallecano adalah klub tempat tumpukan masalah. Terlepas dari segala macam masalah yang seolah tidak ada habisnya itu, Vallecano bangkit, bahkan menjadi salah satu yang paling menakutkan di La Liga 2021/22. Poor but proud: Miskin, tetapi punya harga diri. Begitu slogan yang kerap dibawa oleh Vallecano dan para pendukungnya.

Pada umumnya, klub-klub La Liga bertanding sebagai representasi kota. Real Madrid dan Atletico Madrid mewakili Madrid. Namun, Vallecano adalah representasi Vallekas, sebuah area di dalam kota, terlebih lagi, sebuah komunitas.

Kebanggaan yang dibawa ke setiap pertandingan itu pula yang membuat Vallecano kerap memantik perhatian. Pada 2015, misalnya, ketika berlaga dengan jersi pelangi yang melambangkan dukungan mereka untuk membela 7 perkara. Merah untuk pengidap kanker, oranye untuk integrasi penyandang disabilitas, kuning untuk mereka yang kehilangan harapan, hijau untuk lingkungan, biru untuk perlawanan terhadap penganiayaan anak, dan merah muda untuk korban kekerasan rumah tangga. Seluruh warna tersebut membentuk pelangi yang merupakan dukungan mereka terhadap teman-teman LGBTQ.

Benar bahwa di dalam cerita Vallecano sekarang ada kekalahan 1-2 dari Real Madrid dan 0-2 dari Atletico Madrid, tetapi dalam cerita yang sama pula, ada kemenangan 1-0 atas Barcelona. Bagi sepak bola Spanyol, Barcelona adalah simbol perlawanan. Jika mereka berhasil mengalahkan Barcelona, itu artinya--yang pertama--mereka berhasil mengalahkan perlawanan yang beranak cucu. Yang kedua, bisa saja kekacauan di Barcelona jauh lebih hebat daripada di Vallecano.

Kunci kemajuan--jika 'kebangkitan' dinilai berlebihan--Vallecano terletak pada cara sang pelatih,  Andoni Iraola, bersikap fleksibel terhadap permainan lawan. Melawan tim dengan struktur pertahanan solid dan kompak, Vallecano akan kesulitan untuk menggiring bola ke sepertiga akhir lapangan meskipun unggul dalam penguasaan bola. 

Untuk menghadapi situasi demikian, Iraola menginstruksikan timnya bermain diagonal alih-alih vertikal. Keputusan tersebut masuk akal. Berhadapan dengan pertahanan rapat, akan sulit untuk menggerakkan bola secara vertikal ke depan. Meski demikian, sepak bola tidak hanya bicara tentang ruang saat kau menguasai bola, tetapi juga ruang non-bola. Bergerak diagonal adalah kunci yang digunakan oleh Iraola untuk keluar dari zona tekanan lawan.

Progresi bola dengan pergerakan vertikal--dalam sejumlah kasus--mudah dihentikan dengan tekel karena tim menekan di area penguasaan bola. Dengan bergerak secara diagonal, pemain-pemain Vallecano apat menjelajah ruang vertikal dan horizontal secara bersamaan. Dengan begini, serangan lebih sulit untuk ditebak lawan.

Pola ofensif tersebut dimulai ketika pemain tengah dalam skema 4-2-3-1 melepas umpan diagonal untuk menemukan penyerang tengah, entah Radamel Falcao maupun Andres Martin, yang juga bergerak secara diagonal. Situasi ini akan menimbulkan dilema bagi lawan. Jika pemain lawan yang bertugas untuk mengawal Martin/Falcao memutuskan untuk melakukan trackback, akan muncul ruang kosong di sisi sayap. Sebaliknya, jika memutuskan untuk tidak melakukan trackback, Martin/Falcao akan menerima bola tanpa tekanan berarti.

Daya ofensif Vallecano juga ditopang oleh kreativitas pemain seperti Oscar Trejo. Kualitas dribel dan playmakingnya benar-benar menguntungkan tim. Ia tahu persis kapan harus mendribel bola dan kapan harus melepas umpan diagonal sehingga serangan tim tidak deadlock. Dalam 20 laga La Liga 2021/22, Trejo sudah membuat 38 dribel sukses. Catatan itu merupakan yang tertinggi di antara rekan-rekannya. 

Pemain asal Argentina tersebut juga pemain yang gemar menghadirkan peluang buat pemain lain. Jika menengok catatan shot creating actions (SCA)—yang mengukur kontribusi seorang pemain (via aksi ofensif seperti umpan, tembakan, atau dribel) untuk peluang sebuah tim—angkanya adalah 59 atau 4,6 tembakan per 90 menit buat tim. Catatannya berada di urutan ketiga terbaik. 

Persoalan Vallecano yang belakangan cukup kentara adalah bagaimana lini tengah mereka ikut menggalang pertahanan. Karena salah satu gelandang akan tertarik untuk menekan bola, ruang di belakangnya tidak dilindungi secara efektif oleh dua gelandang lainnya. 

Dengan demikian, lawan dapat memanfaatkan ruang ini dengan berbagai cara. Mereka bisa mengerahkan pemain lini depan ke ruang untuk bergabung atau menggunakan ruang itu sebagai saluran umpan penetrasi karena celah antara bek sayap dan bek tengah tidak dilindungi dengan baik oleh gelandang. Persoalan ini mungkin bisa menjadi jawaban mengapa penampilan Vallecano dalam beberapa laga ke belakang tidak bisa dibilang stabil dan masih sering tersandung saat melawan tim-tim kuat meskipun posisi di klasemen cukup menjanjikan. 

****

Terlepas dari segala masalah yang belum selesai, Vallecano adalah ceruk istimewa. Ia bercerita bahwa yang kecil juga bisa menjadi kuat. Vallecano berkisah bahwa daya bukan pemberian cuma-cuma. Ia adalah buah dari keberanian untuk melawan, dari kegigihan untuk mengejar kemenangan walau kemewahan tidak dimiliki.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.