Venezia F.C Menyapa Serie A dengan Keindahan

Venezia F.C saat merayakan keberhasilan promosi ke Serie A musim 2021/2022. Foto: @veneziafc

Jersi kandang Venezia F.C musim 2021/2021 menjadi perbincangan. Selain menyuguhkan model yang indah dan elegan, jersi tersebut merekam ikon-ikon Kota Venesia. Venezia F.C pun siap bangkit usai terpuruk dan bangkrut.

Nomor punggung bukan sekadar angka yang identik dengan olahraga. Ragam warna jersi kesebelasan bukan hanya pembeda di lapangan bola. Semuanya mengandung cerita, identitas, dan ekspresi para penggilanya.

Komedian Jerry Seinfeld pernah membuat lelucon mengenai loyalitas kepada tim olahraga tidak bisa dibenarkan. "Para pemain selalu berubah, tim bisa saja pindah ke kota lain. Kita cuma bersorak menyemangati jersi-jersi itu saja."

Kelakar Seinfeld mungkin terdengar masam dan menusuk orang-orang yang mengilai klub sepak bola, tetapi guyonan tersebut mengemukakan satu gagasan yang kerap diabaikan bahwa jersi adalah komponen penting klub.

Direktur Desain Adidas Inigo Turner menceritakan, desain jersi ketiga Manchester United musim 2020/2021 dibuat dengan waktu lama. Setelah teknologi yang akan digunakan sudah ditetapkan, tim desain melakukan observasi.

Mereka, kata Turner, mengunjungi Manchester untuk melihat simbol-simbol yang mengingatkan fans kepada Setan Merah. Sesi wawancara dengan klub dan penggemar dilakukan. Hingga akhirnya garis-garis hitam berlatar putih yang dipilih.

"Kami melakukan perjalanan observasi, di mana kami mencoba untuk menggali cerita baru dari banyak orang," kata Turner kepada The Athletic.


Jersi tidak melulu berbicara soal mode. Malcolm Barnard dalam buku Fashion as Communication menulis, pakaian, termasuk jersi, akan menyampaikan pesan kepada orang-orang.

Fashion dapat menjadi sarana di mana individu mengirim pesan kepada orang lain mengenai identitas dirinya sendiri. Identitas sendiri menurut Chris Barker berkaitan dengan kesamaan dan perbedaan mengenai aspek personal/individu dan sosial, kesamaan individu dengan individu lainnya dan
perbedaan individu dengan individu lainnya merupakan pengertian singkat mengenai identitas.

Selain itu, Barker memaparkan tiga bentuk identitas. Pertama, identitas budaya yang merupakan ciri yang muncul karena individu menjadi anggota dari suatu etnis tertentu. Hal ini meliputi tentang penerimaan nilai-nilai, norma, tradisi, agama dan kebudayaannya. Kedua, identitas sosial yang menjadikan individu masuk ke dalam suatu kelompok kebudayaan tertentu. Bentuk identitas ini meliputi usia, gender, jenis kelamin, pekerjaan dan kelas sosial.

Identitas sosial merupakan identitas yang didapatkan individu melalui proses pencarian dalam waktu yang panjang. Ketiga, identitas pribadi yang memiliki karakteristiknya sendiri, seperti kemampuan, bakat, ataupun pilihan hidup.

Tidak hanya identitas diri yang terpancar dari jersi. Terdapat banyak pesan yang tersampaikan secara tidak langsung. Namun, kata Barnard, orang-orang selalu punya kehendak untuk apa jersi digunakan.

Ada yang mengenakan jersi untuk mengekspresikan diri. Ada pula yang menjadikan jersi sebagai medium pengingat momen-momen indah dalam hidup. Ada juga klub sepak bola yang menghadirkan jersi untuk merayakan keindahan kotanya. Klub sepak bola itu bernama Venezia F.C.

***

Venezia F.C bukan klub antah berantah. Mereka sudah berdiri sejak 14 Desember 1907. Awalnya, Venezia hanya bertanding melawan awak-awak kapal yang tiba di pelabuhan Venesia. Saat itu, Venezia tidak memiliki rumah. Mereka bermain dari satu tempat ke tempat lain.

Hingga pada 1913, Stadion Pier Luigi Penzo dibangun lengkap dengan tribun berkapasitas 500 penonton. Ia lantas menjadi stadion tertua kedua di Italia. Untuk mengunjungi stadion, kita harus menyusuri kanal-kanal kecil atau berjalan kaki karena tidak ada akses bagi kendaraan darat melaju.

Butuh waktu 31 tahun bagi Venezia untuk berlaga di Serie A. Namun, debut Serie A tidak membuat gagap. Venezia mampu bersaing dengan tim-tim hebat saat itu. Pelan dan pasti, Venezia memperbaiki penampilan dari musim ke musim. Pemain-pemain berbakat didatangkan, seperti Ezio Loik dari AC Milan. Keputusan tersebut membuat Venezia diperhitungkan oleh lawan-lawan.

Puncaknya, Venezia merengkuh trofi Coppa Italia pada musim 1940/1941. Pemain dan fan merayakan keberhasilan itu di atas gondola yang merupakan perahu dayung tradisional asal Venesia. Semua orang bersorak-sorai. Pemain berjingkrak-jingkrak hingga perahu berlabuh di dekat Stadion Pier Luigi Penzo.

Keberhasilan itu memicu ambisi klub untuk meraih scudetto pada musim berikutnya. Setelah Loik, Venezia merekrut Valentino Mazzola. Kedua pemain itu menjadi kunci permainan Venezia. Hasilnya, Venezia menempati posisi ketiga pada musim 1941/1942.

Ambisi Venezia meraih trofi Serie A tidak pernah padam sampai Perang Dunia II berlangsung. Sepak bola dihentikan sementara waktu, dan dimulai kembali pada tahun 1945. Sialnya, Venezia harus memulai kompetisi dari Serie B. Butuh waktu tiga tahun untuk kembali menjejak Serie A.

Promosi ke Serie A ternodai. Harapan untuk bertempur di kompetisi teratas hancur karena klub dilanda krisis finansial. Venezia mendeklarasikan bangkrut. Mereka pun mesti turun kasta ke Serie C.

Sejak itu, Venezia berkawan dengan kegagalan dan kebangkrutan. Sepak bola pun tidak pernah menjadi topik pembicaraan yang menarik bagi warga Venesia.

Banyak pengusaha datang dan mengambil alih klub. Kedatangan pemodal selalu menyalakan harapan. Namun, perjalanan Venezia seperti menikmati wahana roller coaster. Menanjak per lahan. Sampai puncak. Terus menukik tajam. Ada kalanya jalur landai, tapi kembali menanjak dan menukik lagi.

Ya, setelah pengusaha baru masuk, Venezia mampu pentas di Serie A. Namun, tidak bertahan lama. Satu atau dua tahun kemudian, mereka berlaga kembali di kasta kedua atau bahkan ketiga kompetisi Italia.

Masa tersulit Venezia terjadi musim 1976/77 manakala harus berlaga di Serie D. Promosi ke Serie C pun sulitnya bukan main. Sampai akhirnya pengusaha bernama Friulian Maurizio Zamparini mengakuisisi klub pada 1986.

Di bawah Zamparini, Venezia berbenah dan perlahan bangkit. Mereka mendatangkan pemain-pemain berbakat. Salah satunya adalah Paolo Poggi. Hanya butuh empat tahun bagi Zamparini untuk membawa Venezia berlaga di Serie B.

Berbekal tangan dingin Zamparini, Venezia dapat promosi ke Serie A musim 1997/98 setelah 31 tahun. Supaya tidak terseok-seok di papan bawah klasemen, Venezia mendatangkan Beppe Marotta sebagai Direktur Olahraga sekaligus merekrut Fillippo Maniero dari AC Milan.

Selain dua orang itu, Venezia meminjam Alvaro Recoba dari Inter Milan untuk menambah daya ledak klub.

Pada musim 1999/2000, Venezia menunjuk Luciano Spalleti sebagai pelatih. Kedatangan Spalletti sangat menggairahkan. Venezia mampu melaju ke babak final Coppa Italia. Namun, mereka gagal merengkuh trofi kedua setelah keok dari Lazio. Di akhir musim, Venezia kembali terdegradasi.

Musim berikutnya, Venezia merekrut Cesare Prandelli sebagai pelatih. Di bawah kepelatihan Prandelli, Venezia langsung promosi ke Serie A. Saat klub sedang dalam performa lumayan, Zamparini mundur dari Venezia.

Kepergian Zamparini tidak hanya membuat Venezia turun kasta ke Serie B, tetapi juga memaksa mereka kembali mendeklarasikan bangkrut. Cerita soal keberhasilan berlaga ke Serie A, terdegradasi dan bangkrut terjadi juga pada musim 2008/2009. Setelah itu, Venezia hilang dari radar Serie A.

Pembenahan Venezia terjadi pada musim 2015. Saat itu, Joe Tacoppina yang pernah menjadi presiden klub Bologna dan vice president AS Roma mulai menyusun kekuatan klub.

Mereka merekrut nama-nama beken untuk mengisi jajaran manajemen setelah lolos dari Serie D pada 2016. Salah satunya adalah Filippo Inzaghi untuk mengarsitek klub musim 2016/17.

Meski gagal menjadi pelatih AC Milan pada 2014, Inzaghi mampu mengantarkan Venezia melaju ke Serie B. Setelah keberhasilan itu, Inzaghi pergi ke Bologna. Fans pun kecewa bukan main dengan hengkannya Inzaghi memupuskan harapan besar untuk berlaga di Serie A.

Kekecewaan fan Venezia membesar manakala Tacoppina mengambil keputusan serupa dengan Inzaghi. Tidak ada manusia di dunia ini yang berharap akan kehilangan setelah impian hanya beberapa centimeter lagi di depan mata.

Kedatangan Duncan Niederauer pada Februari 2020 sebagai presiden klub tidak lantas meredam kekecewaan fan Venezia. Toh, Niederauer datang pun Venezia mengakhiri musim 2019/2020 di posisi 11 Serie B.

Kendati berbalut keraguan, Niederauer tetap berambisi membenahi Venezia. Ambisi Eks Kepala Eksekutif New York Stock Exchange pun berbuah manis. Venezia kembali berlaga di Serie A setelah absen selama 19 tahun.

Saat pemain dan fan merayakan keberhasilan dengan bersorak-sorai di kanal-kanal Kota Venesia dengan perahu dayung, Niederauer menyusun rencana besar untuk mengubah Venezia menjadi perusahaan komersial.

“Tujuan kami adalah menjalankan ini sebagai bisnis, dengan anggaran yang tepat, menyeimbangkan kesuksesan di lapangan dengan tanggung jawab fiskal,” kata Niederauer kepada Bloomberg. “Kami membuat rencana keuangan dan mematuhinya. Ego kita tidak akan menghalangi.”

Ambisi Niederauer mula-mula dibuka dengan peluncuran jersi kandang musim 2021/2021. Jersi tersebut menjadi perbincangan pencinta sepak bola di dunia. Selain menyuguhkan model yang indah dan elegan, jersi tersebut merekam ikon-ikon Kota Venesia.

Mengamati jersi Venezia seperti menelusuri keindahan Kota Venesia. Di bagian bawa jersi, ada tekstur dinding trompe l'oeil Venetian. Jersi berwana hitam itu pun dihiasi dengan elemen emas yang mengesankan. Elemen emas itu menggambarkan gereja dan monumen-monumen Venesia. Yang paling menonjol dari jersi Venezia adalah bintang-bintang emas berbentuk "V".

Keindahan jersi tersebut akan menjadi penanda Venezia kembali berlaga di kasta tertinggi sepak bola Italia, Serie A, setelah 19 tahun berbalut kegagalan, kekecewaan, dan kebangkrutan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.