Whooaah, Diego Forlan

Ilustrasi: Arif Utama.

Sampai hari ini, para pendukung Manchester United masih kerap menyanyikan nama Diego Forlan. Semuanya karena apa yang ia lakukan pada suatu hari di Anfield.

Dunia mengenal dan memuja-muja satu orang Diego, tetapi para pendukung Manchester United mengenal dan memuja-muja Diego lainnya.

Hari itu, para suporter tandang United bersikap seperti biasanya. Nyanyian lantang dan sorak-sorai tak kunjung henti terus mereka gaungkan. Mereka memang punya kebanggaan tersendiri yang seolah-olah harus dipertahankan bagaimanapun caranya, yakni reputasi sebagai salah satu kelompok suporter yang cukup bising di kandang lawan.

Mereka menyebut-nyebut sebuah nama dalam nyanyian itu: “Diego, whooaah… Diego, whooaah… He came from Uruguay, he made the Scousers cry.”

Pelatih United kala itu, Jose Mourinho, tak bisa menyembunyikan keheranannya. Ia tentu sudah banyak mendengar nyanyian pendukung United, tapi rasa-rasanya baru kali itu ia tidak bisa mengetahui siapa orang yang menjadi orang dalam nyanyian tersebut.

Mourinho lantas menoleh dan bertanya kepada Michael Carrick, asistennya yang duduk di belakangnya. “Siapa yang mereka nyanyikan?” tanya Mourinho. Carrick lantas menjawabnya dengan amat singkat:

“Forlan.”

Namun, jawaban tersebut belum cukup membuat Mourinho puas. Ia tampak berulang kali bertanya mengapa orang itu menjadi cukup penting buat pendukung United, membuat Carrick harus mengeluarkan jawaban yang lebih panjang.

***

Akun Youtube Manchester United melabeli Diego Martin Forlan Corazzo, atau yang lebih dikenal dengan Diego Forlan saja, sebagai ‘cult hero’. Untuk mendapatkan label tersebut, tentu kamu tidak bisa melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Dalam Bahasa Indonesia, cult berarti kultus, sebuah penghormatan yang teramat sangat terhadap seseorang atau sebuah benda. Menjadi sesuatu yang dikultuskan, seperti halnya Diego yang lainnya—Diego Armando Maradona—, membuat kamu seolah-olah abadi dan tak akan pernah lekang.

Forlan memang tidak berada dalam jajaran penyerang-penyerang subur dalam sejarah Manchester United. Kamu sulit untuk membandingkannya dengan Denis Law, Andy Cole, Ruud van Nistelrooy, Wayne Rooney, atau Ole Gunnar Solskjaer sekalipun.

Tiga setengah musim bermain untuk United, Forlan hanya mencetak 17 gol—dari total 98 penampilan. Jumlah golnya untuk ‘Iblis Merah’ di Premier League tidak pernah mencapai dua digit. Boleh dibilang, kariernya bersama United tidak sampai pada level luar biasa.

Forlan justru baru dikenal sebagai penyerang kelas satu ketika ia pindah ke Villarreal, lalu kemudian Atletico Madrid. Perjalanannya sebagai striker yang tak cuma dikenal oportunis, tetapi juga punya teknik bagus dan dinamis kemudian mengantarkannya jadi salah satu pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 2010.

Namun, perjalanan Forlan dalam menjejak puncak dunia berawal dari kisahnya yang teramat biasa di United. Datang ke Old Trafford pada Januari 2002, Forlan melewati 26 pertandingan pertamanya bersama United tanpa mencetak gol sama sekali.

Sorotan pun datang. Label flop menempel di punggungnya. Namun, Sir Alex Ferguson masih percaya padanya. Yang jadi soal hanya kepercayaan diri Forlan saja, apakah tergerus atau bakal tetap utuh.

Untuk mendapatkan gol pertamanya—dari 17 gol yang kelak bakal ia kumpulkan—, Forlan harus menunggu selama delapan bulan. Pada 18 September 2002, dalam pertandingan melawan Maccabi Haifa di Liga Champions, Forlan akhirnya membuka rekening golnya untuk United. Namun, alih-alih membanggakan, momen tersebut justru malah bikin iba.

Ketika United mendapatkan penalti pada menit ke-89, Forlan datang meminta bola, berharap ia mendapatkan izin untuk menjadi eksekutornya. Bagi United, yang malam itu sudah mencetak empat gol, gol kelima dari penalti hanyalah bonus belaka. Namun, buat Forlan, itu berarti lebih dari sebuah gol saja.

Ia kemudian diizinkan mengambil penalti tersebut. Setelah menarik napas dan mengambil ancang-ancang, Forlan mengarahkan tendangannya ke pojok bawah—ke arah yang berlawanan dari lompatan kiper. Gol pertamanya pun tercipta, tapi tidak ada selebrasi berlebihan.

Forlan tahu bahwa gol tersebut hanya sedikit melepaskan beban di pundaknya—bahwa kini akhirnya ia sudah mencetak gol untuk United. Namun, bagaimana jadinya apabila itu satu-satunya gol yang ia cetak selama berkostum merah?

***

Yang menarik dan bikin tengik dari sepak bola adalah betapa mudahnya kamu menjadi pahlawan dan pesakitan cuma karena satu momen. Skuad Yunani 2004 jadi pahlawan seantero negeri, sedangkan pada lain kesempatan Andres Escobar kehilangan nyawa.

Bagi Forlan, momen itu datang di Anfield pada 1 Desember 2002. Setelah membuat impresi bagus pada beberapa pertandingan selepas laga melawan Haifa—dengan cara mencetak dua gol beruntun pada laga melawan Aston Villa dan Southampton—, kesempatan datang lagi pada pertandingan melawan Liverpool.

Di rekeningnya, kini sudah ada tiga gol. Namun, mencetak gol di Anfield adalah urusan berbeda. Juan Mata, bertahun-tahun kemudian, pernah ditahbiskan sebagai pahlawan ketika mencetak brace di kandang Liverpool tersebut. Semuanya cuma karena urusan siapa yang menjadi lawan, bukan gol seperti apa yang kamu cetak.

Dalam sejarah rivalitas United dan Liverpool, siapa pun pemain yang bisa mempermalukan lawan dengan sebaik-baiknya, niscaya ia akan diabadikan. Buat Forlan, pengabadian itu datang dalam bentuk nyanyian dan ingatan akan momen-momen pada hari pertama bulan Desember 19 tahun silam.

“Aku cuma bermain pada pertandingan itu karena beberapa pemain cedera. Awalnya tidak mudah; babak pertama begitu sulit dan aku tidak banyak mendapatkan bola—aku pikir, aku bakal segera diganti,” kata Forlan dalam sebuah kolomnya di The National pada 2015.

“Semuanya begitu intens. Namun, semuanya jadi tak sama pada babak kedua. Intensitas pertandingan menurun—memang tidak mungkin untuk tampil se-intens itu sepanjang laga—dan keadaan pun berubah.”

Kita bisa saja menyebut Forlan sebagai orang yang beruntung. Sebab, sudah banyak pemain United mencetak gol di Anfield, tetapi tak pernah mendapatkan pengabadian lewat sebuah nyanyian.

Namun, melihat apa yang terjadi pada Forlan pada hari itu di Anfield, rasa-rasanya lebih tepat untuk menyebutnya menciptakan keberuntungan itu sendiri.

Saya sempat menyebut pada tulisan ini bahwa Forlan, meskipun punya teknik bagus dan sering mencetak gol lewat sepakan dari luar kotak penalti, adalah striker yang cukup oportunis. Mereka, para striker oportunis, biasanya punya kemampuan mengendus pada waktu dan tempat seperti apa peluang bakal muncul.

Buat Forlan, yang terpenting adalah ia harus selalu siaga. Sadar bahwa ia kesulitan mendapatkan bola, yang perlu ia lakukan hanyalah menunggu momen—dan memanfaatkan sebaik-baiknya manakala momen itu datang.

Begitu intensitas pertandingan menurun, Forlan mulai sering berdiri rapat dengan kotak penalti lawan. Lantas, peluang itu muncul: Sebuah backpass dengan kepala dari Jamie Carragher gagal ditangkap dengan sempurna oleh kiper Jerzy Dudek.

Forlan tengah berdiri tanpa pengawalan ketika Carragher membuat backpass tersebut. Ia pun mengikuti instingnya untuk bergerak sesuai arah operan itu. Siapa sangka, nasib berujung baik. Bola itu lepas dari tangkapan Dudek, lalu Forlan menyambarnya dan menceploskan bola ke gawang yang sudah kosong.

Tiga menit berselang, ia mendapatkan sebuah ruang kosong di sisi kiri pertahanan Liverpool. Kali ini, ia tak lagi mengandalkan momen cuma-cuma—tapi ia sendiri yang menciptakan momen. Setelah membuat ancang-ancang sesaat, Forlan melepaskan sepakan keras yang masih sempat mengenai tangan Dudek, tetapi akhirnya bola tetap masuk juga ke dalam gawang.

Kedua momen tersebut makin sempurna karena terjadi tepat di depan tribune pendukung United. Forlan masih ingat betul tiap jengkal kejadian pada hari itu. Ketika para pemain United menghambur dan berpelukan dengan fans di tribune, para steward langsung datang untuk memisahkan. Namun, Ryan Giggs mengingatkan mereka untuk tidak menghalang-halangi perayaan itu.

“Aku akan mengulangi apa yang Giggs katakan hari itu: Tidak seorang pun bisa menghalangi kami menikmati momen itu. Tidak seorang pun,” kata Forlan.

***

Forlan lahir dan besar di Montevideo, belasan ribu kilometer dari Manchester. Sekalipun ia pemain United, ia mengaku bahwa ketika itu tidak betul-betul menyadari betapa pentingnya pertandingan antara United dan Liverpool.

Ia baru menyadari betapa besar arti laga itu ketika para pendukung United mulai menyanyikan namanya. “Mungkin kamu tidak menyadari apa yang baru saja kamu lakukan, tetapi mereka tidak akan pernah melupakanmu karena itu,” ucap Forlan lagi, menirukan perkataan Gary Neville tidak lama setelah pertandingan di Anfield itu berakhir.

Forlan sendiri punya sejarah menarik dengan Anfield. Delapan tahun setelah mencetak brace bersama United, ia datang kembali datang ke stadion itu tetapi sebagai pemain Atletico Madrid. Sepanjang pertandingan, para pendukung Liverpool menyorakinya dan Forlan bisa memahaminya.

Hari itu, Liverpool dan Atletico bertemu pada leg II semifinal Liga Europa. Setelah berakhir dengan agregat 1-1 (Atletico menang 1-0 di Madrid, sedangkan Liverpool sedang unggul 1-0 pada leg II tersebut) selama 90 menit, pertandingan berlanjut ke babak tambahan.

Liverpool mencetak gol lebih dulu lewat Yossi Benayoun pada menit ke-95. Skor berubah menjadi 2-0 dan agregat berubah menjadi 2-1. Atletico belum tamat. Bila mencetak satu gol tandang, merekalah yang berhak melaju ke final.

Lantas, pada menit ke-102, Forlan datang sebagai pahlawan. Gol yang ia cetak membuat pendukung Atletico berlompatan merayakannya. Di sisi lain, tribune The Kop—menurut pengakuan Forlan—makin kencang menyorakinya.

Untuk membuat The Reds makin pedih, kedua gol Atletico pada pertemuan itu, baik di Madrid maupun di Liverpool, semuanya dicetak oleh Forlan. Musuh delapan tahun silam itu, kembali datang menghantui tapi kali ini datang dengan wajah sedikit berbeda.

“Aku merayakannya dengan kegilaan, tapi tidak berlebihan. Mencetak gol seperti itu memang penting. Para pendukung mereka merundung saya, tapi pada akhir pertandingan mereka malah memberikan aplaus. Ribuan dari mereka, meskipun mereka sedang merasa sakit. Mereka sebaik-baiknya pendukung sepak bola dari sebuah klub bersejarah. Aku menghormati mereka,” kata Forlan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.