Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Cahaya Asia

Ilustrasi: Arif Utama.

Berkat Son, anak-anak Asia boleh bermimpi untuk jadi pesepak bola top, kaliber dunia.

Dari musim ke musim, Son Heung-min selalu menunjukkan bahwa benua Asia tak cuma bisa menelurkan pebulu tangkis top, tapi juga bisa menghasilkan pesepak bola kelas dunia.

20 sampai 15 tahun lalu, Park Ji-sung sudah menunjukkan bahwa pesepak bola Asia juga bisa jadi kepingan penting dalam sebuah tim besar. Park, lewat kegigihannya, mampu menembus Manchester United dan di sana ia meraih empat gelar Premier League, satu trofi Liga Champions, serta berderet piala lainnya.

Bertahun-tahun sebelumnya, Hidetoshi Nakata juga sudah menunjukkan bahwa pemain dari Asia bisa dihargai mahal. Pada tahun 2001, Parma memboyong Nakata dari Roma dengan mahar 28,4 juta euro. Bayangkan harga segitu di tahun itu untuk seorang pemain berpaspor Jepang. Butuh waktu 14 tahun sebelum akhirnya ada pemain Asia yang ditransfer lebih mahal dari Nakata.

Dan orang itu, ya, Son. Pemain yang menyempurnakan perjalanan Park, Nakata, serta pemain-pemain Asia lain di dunia sepak bola. Son, secara trofi, memang tak segemilang Park. Ia juga tak punya pengaruh sebesar Nakata. Namun, secara capaian dan performa individu, Son menunjukkan bahwa ia berada di tangga yang lebih tinggi.

Son mampu menyejajarkan dirinya dengan pemain-pemain kelas dunia lain yang berasal dari Eropa atau Amerika Selatan. Tengoklah bagaimana ia mampu menembus 22 besar Ballon d'Or 2019. Itu adalah capaian terbaik yang pernah diraih pemain Asia. Dalam daftar 100 pesepak bola terbaik 2021 versi The Guardian, Son juga ada di urutan 39.

Son juga begitu konsisten. Sejak musim 2016/17, ia selalu membukukan dua digit gol di Premier League bersama Tottenham. Tak pernah tidak. Musim lalu bahkan catatan assist-nya juga menyentuh dua digit. Catatan-catatan itu jelas tak sembarangan. Itu raihan pemain top.

***

Gol ke gawang Everton awal pekan kemarin membuat Son sudah membukukan 11 gol di Premier League musim ini. Lagi-lagi Son mencetak lebih dari 10 gol di Premier League. Sejauh ini ia juga sudah menciptakan lima assist. Capaian yang terus menunjukkan konsistensinya.

Secara individu, Son memang punya beragam atribut yang bisa membuatnya jadi pencetak gol ulung. Ia punya penyelesaian akhir yang dingin, bisa menyelesaikan peluang lewat tendangan keras atau sundulan ciamik, punya kecepatan luar biasa, dan pandai menggocek lawan.

Namun, ada satu hal lain yang jadi penyebab mengapa ia bisa begitu tajam: Tepat dalam memilih klub. Ya, Tottenham memang bukan klub yang tepat jika berbicara soal trofi. Datang ke Manchester City, Liverpool, atau Chelsea bisa jadi pilihan yang lebih baik buat Son.

Akan tetapi, jika berbicara soal wadah yang tepat untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dari seorang Son, Tottenham adalah pilihan jitu. Kenapa? Karena gaya main tim asal London Utara ini cocok dengan atribut yang dimiliki Son, sejak ia bergabung di tahun 2015 hingga sekarang ini.

Ketika Son datang ke Tottenham, orang yang duduk di kursi manajer adalah Mauricio Pochettino. Pria Argentina itu adalah sosok pelatih yang gemar bermain direct, atau singkatnya ingin anak asuhnya mengalirkan bola secepat mungkin ke depan. Ketika berhasil merebut bola dari lawan via pressing, Tottenham-nya Pochettino akan langsung melancarkan serangan kilat.

Dalam serangan kilat itulah sosok cepat yang juga bagus dalam menahan bola seperti Son amat dibutuhkan. Pria kelahiran Chuncheon ini biasanya akan ditempatkan gantung di atas saat Tottenham diserang, sehingga ketika mereka melancarkan serangan balik, Son akan jadi target umpan. Lalu, dengan kecepatannya, ia diharapkan bisa menghajar lini belakang lawan dengan sempurna.

Foto: Youtube The Football

Ketika kemudian Pochettino angkat kaki dan Tottenham dilatih oleh Nuno Espirito Santo, situasinya pun sama. Entah ini disengaja atau tidak, tapi Tottenham terus merekrut pelatih yang lebih senang memainkan sepak bola direct ketimbang bertele-tele dengan penguasaan bola. Antonio Conte sekarang pun begitu.

Karena itulah pelatih-pelatih tersebut sukses bekerja sama dengan Son, jika ukurannya adalah pundi assist dan gol yang ditelurkan oleh sang pemain. Son memang jagonya sepak bola direct, jagonya transisi menyerang cepat, mengingat ia adalah lulusan akademi dan klub Jerman.

Bundesliga, sebagai tempat belajar dan bermain sebelumnya, adalah surga buat pemain yang bagus dalam memanfaatkan kecepatan progresif dan punya kebuasan untuk memanfaatkan ruang seperti Son. Karena itu, ketika pindah liga dan memilih klub yang juga mengedepankan hal serupa, Son tidak kepayahan untuk beradaptasi.

Belum lagi pemain-pemain yang berada di sekelilingnya juga mendukung. Ia punya Harry Kane yang bisa memberinya umpan memanjakan dalam fase menyerang balik, juga sebagai penerima dari umpan-umpannya. Tak heran kalau keduanya jadi pasangan dengan kombinasi gol terbanyak dalam sejarah Premier League. Son kini juga punya Dejan Kulusevski yang bisa jadi partner "lari"-nya.

Dengan terus berada di lingkungan tepat, Son bisa mengeluarkan potensi terbaiknya. Bahkan ia terus berkembang jadi lebih baik. Sebagai contoh, lama kelamaan Son jadi jauh lebih efektif dalam melepas tembakan. Ia tak asal lari dan kemudian menyelesaikan serangan balik asal-asalan. Tengok saja angka persentase tembakan tepat sasarannya.

Pada musim 2017/18 lalu, misalnya, angka persentase tembakan tepat sasaran Son per 90 menit ada di angka 45,9%. Namun, dalam dua musim terakhir ini, catatannya selalu lebih dari 50%. Itu artinya, Son berhasil membuat satu dari dua tembakan yang ia lepaskan mengarah tepat ke gawang lawan.

Son juga terus klinis. Catatan gol yang ia bukukan selalu lebih tinggi dari ekspektasinya, yang diukur via expected goals (xG). Dalam arti meski mendapat peluang yang tak terlalu berkualitas, Son bisa tetap memanfaatkannya untuk jadi gol.

Tak cuma itu, Son juga makin kreatif. Melihat dari angka kualitas umpan berbuah peluang, yang diukur via statistik expected assist (xA) per 90 menit, catatan Son terus meningkat dari musim ke musim. Bila di musim lalu angkanya 0,26, musim ini bahkan catatan xA-nya berada di angka 0,29 per 90 menit.

Karenanya jangan heran bila di akhir musim catatan Son melebihi catatannya musim lalu, saat ia mencetak 17 gol dan 11 assist. Pertandingan Premier League buat Tottenham masih tersisa 12 lagi, dan mencetak tujuh gol dan tujuh assist tambahan jelas bukan sesuatu yang mustahil dan sulit buat eks pemain Hamburg ini.

***

Son sudah berusia 29 tahun dan mungkin di tahun ini atau tahun depan ia masih bisa menyentuh puncak karier, baik dari capaian individu maupun trofi (pindah dari ke klub lain bisa dipertimbangkan jika sudah buntu, Son). Son masih bisa jadi pesepak bola yang lebih baik, yang lebih komplet.

Kalaupun tidak, sampai titik ini pun Son sudah berhasil jadi kebanggaan, cahaya Asia. Ia adalah bukti bahwa anak-anak Asia boleh bermimpi untuk jadi pesepak bola top, kaliber dunia yang bisa bersaing dan setara dengan pemain-pemain dari belahan dunia lainnya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now