Karena Liverpool Bisa Jadi seperti The Beatles

Foto: LFC.

Kepergian Michael Edwards bisa membuat Liverpool berada pada situasi seperti yang dialami The Beatles saat kehilangan Brian Epstein.

Orang-orang boleh menyebut banyak hal ketika berbicara soal penyebab bubarnya The Beatles: Kehadiran Yoko Ono, dominasi Paul McCartney, munculnya George Harisson sebagai penulis lagu yang produktif, sampai fenomena Beatlemania.

Namun, jika ada satu hal yang jadi dasar kuat di balik bubarnya The Beatles, itu adalah meninggalnya manajer mereka, Brian Epstein.

Agustus 1967, Epstein ditemukan tewas di rumahnya di London akibat overdosis obat penenang. Ia diduga mengalami depresi. Tak lama setelahnya, situasi The Beatles mulai kacau. Band asal Liverpool itu krisis kepemimpinan.

Muncullah hal-hal yang disebutkan di atas: McCartney yang bertingkah seolah ia adalah pemimpin hingga John Lennon yang melanggar peraturan band karena membawa istrinya, Ono, ke proses rekaman.

Di The Beatles, Epstein memang bertugas sebagai manajer. Akan tetapi, pengaruhnya sangat besar kepada band ini. Ia adalah sosok yang, mengutip Mikal Gilmore dalam tulisannya di Rolling Stone, membuat The Beatles membumi. Epstein bisa mengendalikan empat personel yang punya watak berbeda-beda ini.

Ia pula yang pada awalnya memperkenalkan The Beatles ke banyak pihak, menawarkan rekaman demo ke pelbagai studio rekaman Inggris. Epstein pula yang memberi ide bahwa sebaiknya The Beatles mengenakan jas dan dasi saat manggung, sesuatu yang kemudian jadi ikonik.

Bahkan saking besar pengaruh Epstein terhadap The Beatles, banyak orang yang menyebutnya sebagai "the fifth Beatle".

Dan yang menarik, pengaruh Epstein terhadap musik tidak hanya di The Beatles saja. Ia juga layak dibilang sebagai salah satu sosok paling berpengaruh dalam perkembangan musik Liverpool era 1960-an.

Lewat North End Music Stores (NEMS), toko musik yang kemudian jadi manajemen artis, Epstein turut andil dalam mengembangkan karier beberapa band. Salah satu yang masyhur adalah Gerry and the Pacemakers, band yang dikenal dengan lagu "You'll Never Walk Alone"-nya.

Selain itu, Epstein juga membesarkan The Big Three, Billy J. Kramer, The Dakotas, sampai Cilla Black. Kontribusinya terhadap musik di Liverpool tak perlu diragukan lagi.

***

Pekan lalu, David Ornstein di The Athletic mengabarkan bahwa Michael Edwards berniat mundur dari jabatannya sebagai Direktur Olahraga Liverpool pada musim panas tahun depan. Kebetulan, kontrak Edwards memang akan habis ketika musim ini selesai.

Mendengar kabar itu, terbesit di benak saya bahwa kepergian Edwards bisa menimbulkan efek yang begitu besar buat Liverpool, mirip seperti kepergian Epstein dari The Beatles.

Oke, kita memang mengetahui bahwa kesuksesan Liverpool dalam beberapa tahun terakhir adalah buah revolusi Juergen Klopp. Namun, jangan lupakan bahwa Edwards-lah sosok yang menyediakan berbagai macam hal agar Klopp mampu mengerjakan tugasnya dengan baik.

Bukan kebetulan pula bahwa ia adalah sosok yang berhasil meyakinkan FSG untuk memilih Klopp sebagai manajer anyar saat Liverpool tengah mencari pengganti Brendan Rodgers. Tanpa masukannya, The Reds mungkin akan berakhir di tangan Eddie Howe atau Carlo Ancelotti.

Anda bisa membaca tulisan ini untuk mengetahui siapa Michael Edwards dan apa saja yang ia kerjakan di Liverpool:

[Michael Edwards: Guru Sekolah yang Mengubah Liverpool dengan Moneyball]

Jika sudah, mari kita lanjutkan.

Seperti yang tertulis dalam artikel itu, Edwards adalah sosok penting di balik transfer-transfer Liverpool. Roberto Firmino, Mohamed Salah, Virgil van Dijk, Alisson Becker, Andy Robertson, sampai Diogo Jota adalah pemain-pemain yang datang pada eranya. Saat pengaruhnya begitu besar buat tim.

Hebatnya, para pemain itu didatangkan dengan harga yang tidak berlebihan. Alisson berhasil diboyong 56 juta pounds ketika Roma mematoknya dengan banderol 77 juta pounds. Robertson hanya dibeli dengan harga 8 juta pounds. Salah dan Sadio Mane masing-masing didatangkan dengan harga tak lebih dari 50 juta pounds.

Grafis: Raqil Hidayat

Belum kalau kita masuk ke urusan jual pemain. Edwards juga jagonya. Bayangkan saja, pemain macam Dominic Solanke bisa dijual dengan harga lumayan. Pun dengan nama-nama seperti Danny Ward atau Dejan Lovren, atau pemain muda semacam Rhian Brewster.

Makanya, tak usah heran kalau sejak musim 2015/16 sampai 2020/21 kemarin, Liverpool tercatat mengalami tiga kali untung di bursa transfer. Untung terbesar tentu saja diraih saat mereka berhasil menjual Philippe Coutinho ke Barcelona dengan harga 137 juta pounds pada musim 2017/18.

Grafis: Raqil Hidayat

Kemampuan negosiasi Edwards dalam menjual maupun membeli pemain memang salah satu yang terbaik di Premier League. Itulah yang membuat banyak pendukung Liverpool khawatir. Jika ia pergi, tim tak punya lagi sosok yang jitu dalam negosiasi transfer dan pada akhirnya membuat kondisi keuangan memburuk.

Selain itu, Edwards juga merupakan sosok yang kritis dalam perekrutan pemain. Ia bisa berdebat dengan Klopp--tentu saja dalam hal baik--soal mana pemain yang layak direkrut. Tentu saja ini karena Edwards memerhatikan beberapa aspek: Analisis data dan statistik, serta urusan ekonomi.

Soal konsep Moneyball dengan mencari pemain berdasarkan data dan analisis, Liverpool memang masih memiliki Ian Graham selaku Direktur Riset dan Barry Hunter selaku Direktur Pemandu Bakat. Namun, pengambilan keputusan Edwards dan keberaniannya dalam mempertahankan argumen akan jadi kehilangan besar buat Liverpool.

Terlebih pada musim depan, Liverpool akan menghadapi salah satu bursa transfer paling penting dalam perjalanan mereka. Ini, sebagaimana diungkapkan salah satu sosok senior di klub kepada James Pearce, merupakan fase penyegaran dan regenerasi dari skuad yang ada sekarang.

Calon penggantinya, Julian Ward, memang punya latar belakang yang sama. Ia pernah jadi analis tim, pencari bakat, dan manajer peminjaman pemain sebelum akhirnya jadi Asisten Direktur Olahraga.

Ward, seperti dituliskan Simon Hughes di The Athletic, punya penilaian baik terhadap pemain. Ia juga seorang negosiator yang efisien. Namun, ia memang belum punya banyak pengalaman dalam berhubungan dengan tim-tim besar seperti Edwards.

Sejauh ini, Ward lebih banyak berkomunikasi dan bekerja sama dengan klub-klub Championship karena ke sanalah biasanya Liverpool meminjamkan pemain. Soal ini, ia sempat mendapatkan pujian dari Liverpool karena pemain yang pulang dari masa peminjaman meningkat kemampuannya.

Selain itu, Ward juga baru sekali diberi kesempatan untuk mengatur transfer pemain senior. Pemain itu adalah Ben Davies, yang didatangkan Liverpool dari Preston pada Januari silam. Kebetulan Ward ditugaskan karena Edwards fokus pada transfer lain (dalam hal ini kemudian Ozan Kabak) dan ia mengenal medan (Preston adalah tim Championship).

Hasil transfer itu sebenarnya tak buruk: Davies didapatkan dengan harga murah, Ward juga berhasil membawa Liverpool mengalahkan Celtic dalam perburuan ini. Namun itu tadi. Ini adalah transfer kecil yang belum bisa jadi tolok ukur. Wajar kalau fan Liverpool waswas.

Kepergian Edwards jelas meninggalkan lubang besar, karena Liverpool akan kehilangan pengalamannya yang selama ini sudah terbukti luar biasa. Ini bisa membuat Liverpool mengalami krisis kepemimpinan, sebagaimana yang dialami The Beatles saat Epstein berpulang.

Kepemimpinan di tim memang bisa diatasi lewat kehadiran Juergen Klopp dan para pemain senior, tapi mereka juga butuh pemimpin dari manajemen seperti Edwards selama ini. Terlebih, pengambilan keputusan Liverpool sejauh ini memang dipegang oleh Klopp, Edwards, dan Presiden FSG Mike Gordon.

Belum lagi Edwards juga mempermudah perkembangan tim.Yang teranyar, ia jadi sosok di balik kamp latihan baru Liverpool di Kirkby. Berbagai macam hal di kamp latihan kelas dunia itu hadir atas permintaan Edwards, tentu saja dengan tujuan untuk membuat Liverpool lebih baik.

Edwards sejauh ini sudah menciptakan cetak biru yang cemerlang. Konsistensinya dalam banyak hal (transfer, analisis, perkembangan tim) membuat Liverpool meraih berbagai macam gelar, termasuk trofi Premier League.

Dengan kepergiannya, Liverpool akan menghadapi era yang benar-benar baru. Arah Liverpool bisa berubah, mungkin berbelok dari apa yang sudah dijalankan Edwards sejauh ini. Dan kita jangan lupa juga bahwa kontrak Klopp akan habis pada 2024 dan bukan Edwards yang akan mencari penggantinya.

Jika sudah begini, para pendukung Liverpool akan berharap bahwa Ward bisa matang dan cemerlang lebih cepat. Sebab di tangannyalah nasib Liverpool akan bergantung: Bakal kolaps seperti The Beatles atau tetap menanjak di lajur yang tepat.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.