Kemewahan Ollie Watkins

Foto: Instagram @olliewatkins.

Ollie Watkins membuat lini serang Aston Villa dan Timnas Inggris makin kaya. Dia adalah kemewahan tersendiri untuk kedua tim.

Anda tidak akan terlihat bodoh jika menyebut Thierry Henry merupakan penyerang yang komplet. Kemungkinan besar, ada banyak kepala bakal mengangguk atau sebagian lainnya mengangkat alis sambil berkata, “Lho, bukannya itu sudah jelas, ya?”

Semasa bermain untuk Arsenal, Henry sering betul dibanding-bandingkan dengan striker kelas satu Premier League lainnya, Ruud van Nistelrooy. Bedanya, Van Nistelrooy adalah seorang finisher, sementara Henry lebih dari itu: Ia tak cuma klinis, tetapi juga bisa membuka ruang supaya kawan-kawannya bisa masuk ke kotak penalti lawan.

Henry juga tak ajeg bermain di pos penyerang tengah. Di Barcelona, Henry malah kerap dimainkan sebagai penyerang sayap dalam pakem 4-3-3. Karena pada dasarnya punya kemampuan komplet, perubahan posisi ini tak membuatnya kendur.

Pasalnya, bukan gol saja yang bisa Henry ciptakan; ia kerap menjadi pemberi assist untuk kawan-kawannya. Semasa bermain untuk Arsenal, Henry sukses menciptakan 228 gol dan 104 assist di lintas ajang.

Kompletnya Henry membuat banyak anak terinspirasi. Mereka mengidolai Henry sampai ingin meniru gaya bermainnya. Salah satunya adalah Ollie Watkins.

Watkins besar lahir dan besar di Torquay, Devon, sebuah kota kecil di tepi pantai yang berjarak 300-an kilometer dari London. Meski begitu, Watkins adalah pendukung Arsenal yang berbasis di London.

"Saya pendukung Arsenal dan juga Thierry Henry. Saya pernah menyaksikan aksinya di lapangan saat melakukan cut inside dan menempatkan bola ke tiang jauh," ucap Watkins. "Saya selalu mencoba bermain seperti Henry. Itulah mengapa saya ingin melewati pemain belakang dan melakukan sesuatu ketika mendapatkan bola.”

Watkins kemudian tumbuh menjadi pesepakbola dan, meskipun belum mencapai level seperti Henry, ia menunjukkan bersama Aston Villa musim ini mengapa ia layak diperhatikan.

***

Karier sepak bola Watkins tak berjalan mulus. Apalagi, orang tuanya juga menginginkan Watkins menempuh pendidikan formal saja. Tak usah repot-repot berkecimpung di dunia sepak bola.

Sudah mendapatkan sedikit tentangan dari orang tua, Watkins juga mesti berhadapan dengan penolakan. Pada usia 9 tahun, keinginannya untuk bergabung dengan Exeter kandas. Setelah menjalani trial, Watkins ditolak oleh klub yang juga berbasis di Devon itu.

“Kami menolaknya bukan karena persoalan teknis. Bergabung dengan kami berarti berlatih tiga kali dalam seminggu dan masing-masing latihan berdurasi satu setengah jam. Selain itu, kami juga melakukan perjalanan jauh untuk bertanding. Saya pikir, dia belum siap menjalankan komitmen itu ketika seusianya,” ucap Manajer Exeter kala itu, Simon Hayward.

Watkins tak menyerah begitu saja. Ia tetap bertekad untuk bisa menjadi pemain sepak bola profesional. Pada akhirnya, yang dibutuhkan Watkins memang cuma waktu. Sebab, setahun berikutnya, ia masuk ke dalam akademi Exeter. Konsistensi dan kerja keras Watkins semakin mempertebal bakatnya yang memang sudah ada dari sananya.

Pada April 2014, Exeter memberinya kontrak profesional. Meski begitu, kontrak profesional tersebut tak langsung membuat Watkins menjadi bagian dari skuad utama. Pemain kelahiran 30 Desember 1995 itu mesti bersusah-susah mengasah diri lagi ke Weston Super Mare yang mentas di divisi enam kompetisi sepak bola Inggris.

Buat Watkins, ini bukan masalah. Bermain di mana pun jadi selama ia bisa terus memperbaiki diri. Tekad dan ketekunan ini lantas terbayar lunas ketika akhirnya dia mencetak 10 gol dalam 25 penampilan untuk Weston.

Untuk pemain pinjaman mana pun, tampil bagus di klub peminjaman bisa berarti dua hal: Tiket pulang ke klub induk tergaransi atau menarik minat dari klub lain. Buat Watkins, perjalanannya bersama Weston berujung pada opsi yang pertama.

Exeter mengakui bahwa Watkins memang cocok untuk bermain di skuad utama. Namun, selayaknya perjalanan penuh kerikil yang sudah ia lalui sejauh itu, Watkins mendapatkan tantangan lainnya. Exeter melihatnya bukan sebagai winger, melainkan sebagai full-back.

Buat pemain yang bermimpi menjadi seperti Henry suatu hari nanti, ini bukanlah sesuatu yang diidam-idamkan. Kendati begitu, Watkins lagi-lagi memilih untuk menunduk dan menerima nasib tanpa keluhan. Buatnya, ini adalah jalan yang bagus untuk memperdalam kemampuan.

Oleh para staf pelatih Exeter, Watkins diakui memiliki kemampuan ofensif yang baik. Namun, dia juga punya atribut lain yang juga tidak bisa diabaikan; Watkins adalah tipikal pemain yang ngotot dan mau bekerja keras untuk merebut bola. Oleh karena itu, mereka memainkannya sebagai full-back.

Kelak, seluruh pergulatan selama masih bermain di divisi bawah ini membuat Watkins menjadi pemain yang lebih komplet. Kemauannya untuk belajar dan emoh buat mengeluh pada akhirnya bakal terbayar lunas.

Setelah menghabiskan empat musim bersama Exeter—dua musim di antaranya sebagai anggota reguler—di League Two, Watkins akhirnya hengkang ke Brentford pada 2017-18. Bagi banyak orang, Brentford, dengan sistem moneyball mereka, adalah klub paling cerdas di Inggris. Di sini, trajektori karier Watkins melesat naik.

Pada musim perdananya, Watkins mencetak 10 gol dan 5 assist. Capaian tersebut menunjukkan bahwa ia bisa melakoni perannya, sebagai penyokong penyerang tengah, dengan baik.

Brentford ketiban untung ketika mereka membayar 1,8 juta poundsterling kepada Exeter. Torehan gol dan assist itu menunjukkan bahwa Watkins adalah pemain komplet yang bisa bermain di sejumlah posisi dan peran—persis seperti Henry.

Maka, ketika Neal Maupay pindah ke Brighton and Hove Albion pada 2019/20, Brentford tidak kelimpungan. Watkins mampu menggantikannya sebagai penyerang tengah dan membayar lunas kepercayaan itu. Pada akhir musim, Watkins mampu mencetak 25 gol dalam 46 penampilan di Championship. Catatan tersebut masih menjadi catatan tersuburnya sampai saat ini.

Ketika akhirnya Brentford gagal promosi ke Premier League, laju karier Watkins tidak ikut-ikutan mandek. Dengan torehan gol sebanyak itu, ia tetap mendapatkan peminat. Aston Villa kemudian datang mengetuk dan meminangnya. Brentford kemudian setuju melepasnya dengan mahar yang cukup mahal: 28 juta pounds.

Watkins yang tadinya sempat bermain di divisi enam itu kemudian menjadi pemain Premier League. Di Villa, ia bereuni dengan Dean Smith, pelatih yang pernah menanganinya pada musim perdananya di Brentford.

***

Liverpool datang ke Villa Park pada 4 Oktober 2020 dengan dada membusung. The Reds layak jemawa mengingat mereka adalah juara bertahan dan sukses meraih tiga kemenangan dalam tiga pertandingan pertama musim ini.

Lawan yang Liverpool bekap pada di tiga laga tersebut juga tak main-main: Leeds United, Chelsea, dan Arsenal. Itulah mengapa, Liverpool difavoritkan untuk menang atas Villa.

Namun, sepak bola bukan ilmu pasti. Menang tiga kali beruntun tidak serta-merta pasti meraih kemenangan keempat. Punya skuad penuh bintang bukan berarti tidak mungkin dijegal oleh liliput. Hari itu, Liverpool dihajar Aston Villa dengan skor 2-7. Bintangnya siapa lagi kalau bukan Watkins.

Bermain sebagai penyerang tengah, Watkins mencetak perfect hattrick—mencetak gol dengan kaki kanan, kaki kiri, dan kepala. Tiga gol itu diikuti dengan sembilan gol lainnya di Premier League. Sampai April 2021, Watkins sudah mencetak 12 gol dan merupakan pencetak gol terbanyak The Villans di liga.

Namun, mengapresiasi Watkins sebagai pencetak gol saja rasanya tak lengkap. Betul bahwa ia cukup agresif dengan torehan 2,7 tembakan per laga, tetapi simak juga catatannya dalam memberikan umpan.

Sejauh ini, Watkins rata-rata membuat 1,2 umpan kunci per pertandingan. Angka itu lebih baik dari John McGinn dan Bertrand Traore, dua pemain yang berposisi sebagai gelandang di Villa.

Pergerakan Watkins amat dinamis, ia tidak terbiasa berdiam diri di dalam kotak penalti. Hal ini bisa dibuktikan dari angka sentuhan bolanya di seperti pertahanan lawan yang mencapai 635. Catatan tersebut jauh mengungguli angka sentuhannya di kotak penalti yang “cuma” 188.

Pergerakan dinamis Watkins ini membantu para pemain lainnya—dengan begitu ia menciptakan ruang bagi para gelandang seperti Jack Grealish, Anwar El-Ghazi, dan Traore untuk dieksploitasi. Sampai sejauh musim ini berjalan, ketiganya total telah mencetak 17 gol.

Jika catatan gol, jumlah operan kunci, dan pergerakan masih belum cukup untuk menunjukkan kontribusi Watkins untuk Villa, simak juga aksi defensifnya. Dari 30 penampilan, rata-rata ia membukukan 0,8 tekel sukses, 0,4 intersep, dan 0,5 sapuan per laga. Jumlah tekel suksesnya bahkan menyamai Tyrone Mings yang berposisi sebagai bek tengah.

***

Kegemilangan bersama Villa lantas membawa Watkins masuk ke dalam skuad Timnas Inggris. Gareth Southgate menyertakan namanya dalam daftar pemain saat Inggris melakoni laga Kualifikasi Piala Dunia melawan San Marino, Albania, dan Polandia, akhir Maret 2021.

Kepercayaan itu, lagi-lagi, dibayar tuntas oleh Watkins. Masuk pada menit ke-63 saat Inggris melawan San Marino, Watkins langsung membuat gol. Gol itu menjadi gol perdana dalam debutnya berseragam The Three Lions.

Watkins membuat lini serang Inggris menjadi makin kaya. Kansnya untuk masuk dalam skuat Piala Eropa juga terbuka lebar. Apalagi, Watkins merupakan pemain serbabisa dan punya atribut yang komplet.

Buat Watkins, ini adalah kemewahan tersendiri. Kemewahan yang tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan ia dapatkan dengan berpeluh keringat. Buat Inggris dan Villa, ini juga sebuah kemewahan: Kapan lagi memiliki pemain yang mau bekerja keras dan punya segudang atribut?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.