Ketidakseimbangan Skuad, Tantangan Xavi di Barcelona

Foto: FC Barcelona.

Skuad Barcelona saat ini memang jauh dari kata sempurna, tetapi bukan berarti tidak bisa dimaksimalkan. Tugas Xavi Hernandez-lah untuk mengangkat performa individu pemain, sesuatu yang sebelumnya gagal dilakukan oleh Ronald Koeman.

Ada saja pendukung FC Barcelona yang beranggapan bahwa masalah utama di Barca saat ini adalah skuad. Mereka merasa skuad kurang kompetitif dan siapa pun pelatihnya hasilnya akan sama saja. Opini tersebut ada baiknya kita bedah.

Sebelum jauh-jauh menyimpulkan bahwa skuad Barca kurang kompetitif, ada sejumlah hal yang perlu kita tinjau. Kami mengakui bahwa skuad yang Barca miliki saat ini memang masih memiliki sejumlah kekurangan, tetapi bukan berarti skuad saat ini perlu mendapatkan perombakan total.

Dengan skuad yang masih memiliki kekurangan tersebut, Barca semestinya masih bisa bersaing jikalau bicara soal masuk ke zona Liga Champions dan menembus babak 16 besar kompetisi terelite antarklub Eropa tersebut. Artinya, sekalipun compang-camping, skuad yang ada saat ini sebetulnya masih bisa dimanfaatkan.

Sebelum membahas bagaimana cara memanfaatkannya, kami merasa komposisi skuad ideal sebuah klub semestinya terbagi menjadi tiga. Yang pertama adalah ‘Young Guns’. Kelompok skuad ini berisikan pemain-pemain berusia maksimal 22 tahun. Kami beranggapan bahwa mereka mereka masih berada dalam proses berkembang mengingat pemain sekelas Lionel Messi saja--menurut sebuah studi--baru memperlihatkan kemampuan terbaik pada usia 22 tahun. Sementara, Andres Iniesta pada usia 24 tahun, sedangkan Xavi Hernandez dan Carles Puyol justru lebih tua lagi.

Yang kedua adalah ‘Prime’. Kelompok yang ini berisi pemain dengan usia 23-31 tahun, usia terbaik untuk kebanyakan pemain sepak bola. Mereka yang berada dalam kelompok ini seharusnya sudah cukup matang dalam segala hal di sepak bola; skill prima, fisik prima, dan mental prima. Mereka yang tidak mencapai level tersebut meski sudah berada dalam rentang usia 23-31 sebaiknya masuk daftar jual saja.

Yang ketiga adalah ‘Veteran’, yakni mereka yang berusia maksimal 32 tahun. Seharusnya pemain yang berada dalam kelompok ini sudah tidak lagi menghuni posisi inti karena alasan regenerasi pemain. Jika memiliki beberapa pemain veteran yang masa mudanya berisi dengan beragam gelar juara, boleh dibilang klub tersebut mendapatkan kemewahan. Pasalnya, mereka bisa menjadi role model bagi pemain muda.

Jika mengacu pada pembagian tersebut, kami berpikir bahwa idealnya sebuah klub harus disangga oleh pemain yang masuk kategori ‘Prime’. Setidaknya setengah skuad inti (minimal 5 orang) harus diisi pemain ‘Prime’.

Hal yang mendasari pemikiran ini adalah klub akan seimbang di lapangan: Ada anak muda yang sedang memantapkan karier, ada juga veteran yang sedang memastikan taktik berjalan dengan baik karena para veteran inilah yang sejatinya memberi contoh. Bila seluruh skuad diisi oleh ‘Young Guns’, umumnya akan ada kondisi mental yang belum siap; mereka memang masih memiliki speed (dan ada juga yang memiliki skill menjanjikan) tetapi biasanya belum matang dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya, bila didominasi veteran, siap-siap saja klub hanya bermain bagus maksimal hingga 60-70 menit, setelah itu stamina mulai terkuras. Lawan pun akan memanfaatkan. Kekurangan utama seorang veteran adalah fisik yang biasanya sudah tidak prima. Berdasarkan hal di atas, kombinasi ‘Young Guns’, ‘Prime’, dan ‘Veteran’ adalah solusi untuk konsistensi permainan sebuah klub, semuanya memiliki peran masing-masing, tetapi tetap ‘Prime’ adalah tumpuan utama.

Sekarang mari kita rincikan skuad Barca saat ini dengan kategori pemain:

  1. ‘Young Guns’: Gavi (17), Alejandro Balde (18), Yusuf Demir (18), Pedri (18), Nico Gonzalez (19), Ansu Fati (19), Eric Garcia (20), Sergio Dest (21), Oscar Mingueza (22), Riqui Puig (22), Ronald Araujo (22), dan Inaki Pena (22). Catatan: Gavi, Balde, dan Nico masih berstatus pemain Barca B.
  2. ‘Prime’: Ousmane Dembele (24), Frenkie De Jong (24), Clement Lenglet (26), Memphis Depay (27), Samuel Umtiti (27), Marc-Andre ter Stegen (29), Philippe Coutinho (29), Sergi Roberto (29), Martin Braithwaite (30), dan Luuk De Jong (31).
  3. ‘Veteran’: Neto (32), Jordi Alba (32), Sergio Busquets (33), Sergio Aguero (33), dan Gerard Pique(34).

Dari klasifikasi pemain tersebut, hanya Ter Stegen, Frenkie De Jong, dan Depay yang hingga saat ini menjadi andalan di skuad utama, itu pun penampilan De Jong dan Depay masih belum di level terbaik masing-masing. Sementara, Ter Stegen justru belakangan menurun. Ditilik dari sudut ini sudah jelas bahwa skuad barca saat ini tidak disangga oleh pemain yang masuk kategori ‘prime’, justru banyak nama pemain yang selama ini dianggap deadwood ada masuk ke dalam kategori ‘prime’, misalnya Coutinho, Lenglet, dan Umtiti.

Untuk pemain ‘veteran’, praktis hanya 3 nama yang sering masuk line-up, yakni Alba, Busquets, dan Pique. Ketiga pemain ini bisa dibilang sudah melewati masa terbaiknya, tetapi harus diakui mereka bertiga masih lebih baik ketimbang pemain yang menempati posisi sama dan masuk dalam klasifikasi ‘prime’. Alhasil, mau tidak mau mereka akan tetap jadi andalan.

Sejauh musim ini berjalan, Alba, Pique, dan Busquets mendapatkan menit bermain yang cukup banyak di liga. Alba sudah bermain 720 menit, sedangkan Pique 747 menit. Sementara itu, Busquets lebih banyak lagi: 1.064 menit. Catatan ini menunjukkan setidaknya ada ketidakseimbangan di dalam skuad Barca.

Di satu sisi, Barca tidak memiliki pilihan lain karena ketidakseimbangan tersebut, di sisi lain ada persoalan mengenai ketidakcakapan pelatih dalam memanfaatkan atau memaksimalkan pemain yang berada dalam klasifikasi ‘prime’. Ini adalah salah satu masalah klasik dalam era Ronald Koeman. Ketidakmampuannya memenangi ruang ganti dan mengangkat performa pemain acap membuat pendukung resah.

Bagusnya buat Barca, pada skuad saat ini ada sejumlah pemain muda (‘young guns’) menjanjikan. Belum selesai Ansu Fati dan Pedri, kini muncul Balde, Gavi, dan Nico. Namun, tentu saja, untuk menjadi pemain yang matang, mereka membutuhkan waktu. Mengasah mereka dengan terus-terusan menjadikan pemain muda seperti mereka sebagai tumpuan bukanlah sesuatu yang ideal.

Mengingat para pemain muda masih membutuhkan jam terbang untuk bisa mencapai level “matang”, inkonsistensi permainan adalah hal yang lazim buat mereka. Maka, menumpukan beban pada pundak mereka untuk menggotong klub bukanlah sesuatu yang bagus.

Lazimnya, para pemain muda bakal mendapatkan bimbingan dari pemain yang berada dalam klasifikasi ‘prime’ atau ‘veteran’. Kedua pemain yang berada dalam klasifikasi tersebutlah yang semestinya menjadi tumpuan. Namun, apa yang terjadi di Barca saat ini, justru para pemain muda yang harus menutup minimnya pemain ‘prime’ yang bisa tampil mumpuni. Para ‘veteran’ pun masih harus turun gunung juga untuk menutupi kekurangan tersebut.

Xavi, sebagai pelatih baru, pun mendapatkan PR. Mengelola skuad sama pentingnya dengan menyusun taktik. Ia harus bisa menentukan prioritas, pemain-pemain mana saja yang bisa menjadi tumpuan tanpa harus membebani secara berlebihan pemain yang lainnya.

PR lain Xavi adalah bagaimana caranya menjaga konsistensi pemain yang berada di klasifikasi ‘prime’. Frenkie de Jong, misalnya, masih dianggap inkonsisten dari satu laga ke laga lainnya. Namun, melihat catatan statistiknya, pemain asal Belanda tersebut masih mampu memberikan 1,30 umpan kunci per 90 menit dari total 760 menit bermain di liga. Artinya, De Jong masih menjanjikan, tinggal bagaimana Xavi menjaganya supaya bisa tetap stabil.

Anggapan bahwa skuad saat ini teramat buruk dan tidak akan mampu dibenahi oleh pelatih mana pun juga menjadi problem lain yang perlu dipatahkan Xavi. Di sisi lain, Xavi masih melihat ada kemungkinan untuk memperbaiki performa pemain. Sebelum bergabung, misalnya, ia menyebut bahwa ada beberapa pemain yang cocok dengan skemanya, salah satunya adalah Dembele.

[Baca Juga: Menanti Tangan Dingin Xavi]

Kendatipun berulang kali masuk ruang perawatan akibat cedera, Xavi menganggap kemampuan pemain asal Prancis itu masih bisa ia maksimalkan. Maka, menarik untuk menantikan bagaimana Xavi mengelola skuad serta memanfaatkan pemain-pemain yang sebelumnya berlaku seolah-olah mereka tak kasatmata di atas lapangan.

Namun, tentu saja semuanya membutuhkan waktu. Seperti yang sudah kami sebut, skuad Barca masih jauh dari kata sempurna. Masih ada ketidakseimbangan. Menstabilkan sebuah kapal yang sedang oleng di tengah ekspektasi yang menghantam bak ombak besar jelas bukan perkara mudah.

===

Editor: Rossi Finza Noor

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.