No Distance Left to Run

Foto: @HarryMaguire93.

Harry Maguire, Luke Shaw, dan Aaron Wan-Bissaka memang mengalami penurunan performa, tetapi problem lini belakang dan cara Manchester United bertahan lebih dari sekadar jebloknya penampilan individual.

Damon Albarn menyanyikan ‘Tender’ dengan amat lembut dan ‘No Distance Left to Run’ dengan amat getir. Keduanya, bersama ‘Coffee and TV’, adalah single jagoan dari album keenam Blur, ’13’. Dari rahim yang sama, keduanya lahir dengan rupa mirip tapi sifat berbeda.

‘Tender’ dan ‘No Distance Left to Run’ adalah lagu patah hati. Namun, sementara kamu bisa menikmati ‘Tender’ dengan khidmat karena iringan choir gerejawi yang mewah, ‘No Distance Left to Run’ terasa menyeret-nyeret. Ia dinyanyikan dengan suara serak yang nyaris tak bernyawa dengan iringan gitar yang sama sendunya.

Bagi Albarn, ‘No Distance Left to Run’ adalah lagu menyebalkan. Pada sebuah wawancara, ia mengakui bahwa untuk menyanyikannya saja ia harus mengumpulkan keinginan kuat terlebih dahulu. “Lagu itu betul-betul mengesalkan buatku untuk menyanyikannya,” katanya.

Padahal, Albarn sendiri yang menyusun liriknya. Lagu itu ia tulis sebagai wadah untuk menumpahkan kekesalan sekaligus tangis karena hubungannya dengan Justine Frischmann, mantan frontwoman dari Elastica, berakhir. Albarn dan Frischmann adalah power couple dari era Britpop; keputusan mereka berpisah setelah menjalin hubungan begitu lama betul-betul membuat Albarn hancur.

Tidak ada yang lebih memilukan daripada melihat mimpi dan ekspektasi yang sudah kamu bangun indah-indah hancur di tengah jalan. Dalam sudut pandang lain, ‘No Distance Left to Run’ adalah perwujudan dari bagaimana perpisahan Ole Gunnar Solskjaer dan Manchester United terjadi. Mereka yang bermimpi melihat Solskjaer sukses mesti menerima bahwa impian itu sudah lebur.

Yang tersisa adalah pertanyaan: Pada aspek apa United salah dan bagaimana cara menyikapi serta membenahinya? Tidak ada jalan lagi untuk menghindar. United mesti menghadapi persoalan itu dan mengakui bahwa mereka seburuk-buruknya klub besar yang sedang kacau.

***

Untuk menyelamatkan sedikit harga diri, United terbang jauh ke selatan. Tugas mereka antara mudah dan tidak mudah: Meraih tiga poin atas Villarreal untuk memastikan diri lolos ke babak 16 besar. Persoalannya, pertandingan melawan The Yellow Submarine tidak pernah berjalan mudah buat mereka.

Villarreal adalah kota kecil. Penduduknya tidak lebih dari 50.000-an. Kalau kandang Villarreal, El Madrigal, terisi sepenuhnya oleh penduduk, setengah kota bakal kosong. Bahkan, kapasitas Stadion Old Trafford saja—74.140 tempat duduk—bisa menampung orang lebih banyak dari seluruh penduduk Villarreal.

Biarpun begitu, catatan menunjukkan bahwa Villarreal tak pernah inferior di hadapan United. Empat pertemuan pertama seluruhnya berakhir dengan skor 0-0. Pertemuan kelima, pada final Liga Europa 2021, United kalah lewat adu penalti. Lantas, pada laga berikutnya di fase grup Liga Champions musim ini, United harus menunggu gol pada menit-menit akhir untuk bisa menundukkan tim besutan Unai Emery tersebut.

Pada pertemuan selanjutnya, di El Madrigal, Rabu (24/11/2021), United meraih kemenangan 2-0 atas Villarreal. Raihan tiga poin berkat kemenangan itu memang membuat ‘Iblis Merah’ lolos ke babak 16 besar—sebagai juara grup pula karena pada laga lain Atalanta dan Young Boys bermain imbang 3-3—, tetapi bukan berarti mereka tanpa catatan.

Setelah menjalani babak pertama yang lesu, United tampil lebih baik pada paruh kedua laga. Proses dua gol yang mereka cetak pada babak kedua, masing-masing lewat Cristiano Ronaldo (78’) dan Jadon Sancho (90’), sesungguhnya memperlihatkan kelebihan sekaligus kekurangan United selama ini.

Gol pertama berawal dari operan ngawur kiper Geronimo Rulli yang kemudian diintersep oleh Fred. Gelandang asal Brasil tersebut mendapatkan pujian karena berani melakukan pressing terhadap lawan sehingga bola terebut. Namun, cara United melakukan pressing itulah yang menjadi masalah mereka selama ini—kita akan membahasnya nanti.

Sementara gol kedua diawali oleh serangan dari sayap, operan dengan satu-dua sentuhan, serta pergerakan vertikal para pemain yang tak menguasai bola. Cara ini memancing para pemain Villarreal yang bermain disiplin dan rapat ke satu sisi sehingga meninggalkan ruang di area sentral.

Proses gol kedua United, para pemain Villarreal tertarik ke satu sisi lapangan.

Sesungguhnya, ini adalah gaya United yang ingin Solskjaer terapkan, lengkap dengan pergeraka cair para pemain depan. Persoalannya, seperti banyak problem United lainnya, gaya tersebut tampak tak pernah betul-betul diasah dan dipraktikkan dari satu laga ke laga lain secara konsisten.

Persoalan tersebut menunjukkan satu hal: United memang memiliki ide/niat yang bagus, tetapi tak tahu bagaimana cara mengeksekusinya dengan ideal. Pada tulisan yang The Flanker bahas sebelum ini, Solskjaer seperti kesulitan mengoneksikan titik-titik dengan garis yang rapi.

Untuk bisa mempraktikkan gaya seperti yang United tunjukkan pada proses gol kedua ke gawang Villarreal, tentu dibutuhkan otomatisasi soal pola pergerakan dan penempatan posisi pemain—terutama mereka yang sedang tidak menguasai bola. Ini, tentu saja, dibutuhkan supaya aliran bola cepat tersebut tidak terhenti di tengah jalan.

Namun, otomatisasi tersebut yang tidak ada dalam permainan United selama ini. Bahkan kamu juga bisa melihatnya dari cara mereka melakukan aksi defensif, termasuk melakukan pressing di sepertiga akhir lapangan.

Lebih dari Sekadar Menurunnya Performa Individu

Mudah untuk menyebut bahwa para pemain belakang United, mulai dari sang kapten, Harry Maguire, hingga Luke Shaw dan Aaron Wan-Bissaka, mengalami penurunan performa. Maguire dan Shaw yang tampil oke sepanjang musim kemarin—termasuk juga di Piala Eropa 2020—seperti tergantikan oleh versi parodi terburuk diri masing-masing.

Maguire sering hilang fokus, penempatan posisinya juga acapkali buruk. Kartu kuning kedua yang ia terima pada pertandingan melawan Watford, Sabtu (20/11/2021), berawal karena ia canggung ketika menguasai bola. Imbasnya, ketika bola lepas, ia bersikap reaktif dengan melakukan tekel sembrono.

Penurunan Maguire juga terlihat dari catatan statistik. Jika pada musim sebelumnya, ia masih bisa membuat rata-rata 1,8 intersep per 90 menit, kini catatannya menurun jadi 0,7 intersep per 90 menit. Maguire memang masih bisa membuat rata-rata 1,3 tekel sukses (peningkatan dari rata-rata 0,9 tekel musim sebelumnya), tetapi penurunan intersep tersebut menunjukkan bahwa kesigapan dan caranya membaca arah bola/permainan menurun.

Maguire, tentu saja, tidak sendirian. Shaw dan Wan-Bissaka juga acap bertahan dengan bersikap reaktif. Ini yang kemudian membuat mereka bertiga acap terpancing keluar dari posisi masing-masing, meninggalkan ruang menganga di lini belakang.

Buat Wan-Bissaka, ini juga jadi persoalan laten. Karena terbiasa berduel satu lawan satu—dan dia memang bagus dalam hal ini—ia jadi terbiasa untuk maju dan menantang lawan yang membawa bola tanpa memerhatikan posisinya sendiri. Ini belum termasuk dengan kelemahannya mengawal tiang jauh ketika menghadapi umpan lambung dari sisi yang berseberangan.

Shaw juga tidak jauh berbeda. Selain belakangan terlihat lamban dalam menutup ruang, ia juga memperlihatkan problem yang sama: Sering terpancing keluar dari posisi sehingga meninggalkan ruang di belakangnya. Gol kedua Watford terjadi ketika ia meninggalkan posisinya demi menutup pergerakan lawan yang juga lepas dari kawalan pemain United lainnya.

Luke Shaw (kanan bawah) terpancing keluar dari posisinya untuk melakukan tekel, membuat Ismaila Sarr berdiri tanpa pengawalan di kotak penalti United.

Namun, kelemahan atau kesalahan-kesalahan individual ini bukan satu-satunya persoalan. Kebiasaan bersikap reaktif itulah yang mesti dibenahi oleh United sebagai sebuah tim. Ini bisa dilihat dari bagaimana mereka melakukan pressing dari sepertiga akhir lapangan, yang artinya dimulai dari lini depan.

Sebelum pertandingan melawan Liverpool, Solskjaer mengatakan bahwa timnya wajib bermain dengan intensitas tinggi. Oleh karena itu, mereka bakal melakukan pressing mulai dari lini depan. Tentu saja ini merupakan niat dan rencana yang bagus, tetapi—seperti yang sudah ditulis di atas—United sering betul kesulitan mengeksekusi rencana dengan baik.

Cara United melakukan pressing cenderung reaktif alih-alih proaktif. Ini terlihat dari bagaimana proses gol pertama Liverpool di Old Trafford, 24 Oktober silam. Cara melakukan pressing yang tak tepat menimbulkan efek domino, berdampak pada munculnya ruang-ruang di lini belakang United.

Karena melakukan pressing dengan reaktif, para pemain United tidak bergerak sebagai sebuah unit. Mereka hanya mengejar pemain lawan yang sedang menguasai bola tanpa memikirkan bagaimana menutup ruang atau jalur operan ke pemain lainnya. Padahal, pressing yang baik mesti dilakukan sebagai sebuah unit, bukan individual.

Dengan pressing sebagai sebuah unit, tiap-tiap pemain bakal melakukan tugasnya masing-masing; satu orang akan mengejar bola, sementara yang lainnya bisa menutup jalur operan. Dengan begitu kemungkinan pemain tertarik keluar dari posisi menjadi lebih kecil.

Fred memang layak untuk mendapatkan kredit atas usahanya merebut bola pada gol pertama United ke gawang Villarreal. Namun, melihat prosesnya, pressing yang pemain Brasil itu lakukan lebih mirip sebagai aksi reaktif seorang individu mencecar lawan yang menguasai bola ketimbang sebagai sebuah aksi kolektif terencana.

Para pemain United (biru) terpaku pada bola.
Karena pemain United (biru) terpaku pada bola, tidak ada yang melihat pergerakan Trigueros. Ia berdiri tanpa pengawalan dan siap menembakkan bola.

Selain cara melakukan pressing, para pemain belakang United juga acap terpaku pada lawan yang menguasai bola. Peluang gelandang Villarreal, Manu Trigueros, bisa menjadi contohnya. Sebelum sepakan Trigueros ditepis oleh David de Gea, barisan pemain United terpaku pada aksi di area sebelah kanan kotak penalti mereka. Imbasnya, begitu bola muntah, ada ruang kosong yang dieksploitasi Trigueros dan tidak ada seorang pun yang mengawalnya.

Lagi, adegan tersebut menunjukkan bagaimana cara United bertahan begitu reaktif. Menghadapi lawan yang cerdas dan disiplin, serta bagus dalam melakukan switch play, United tentu saja bakal kerepotan jika terus bersikap reaktif.

Menyebut United (terutama pada era Solskjaer) tak punya taktik memang tidak tepat. Yang jadi soal adalah detail atau arahan untuk mengeksekusi taktik tersebut dengan baik yang tampak nihil. United tampak seperti sebuah film yang memiliki premis menjanikan, tetapi kedodoran dalam eksekusi plotnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.