Strategi Transfer Tim di Tengah Pandemi: Dari Mulai Ngirit hingga Berburu Pemain Pinjaman

Foto: Dimitri Houtteman on Unsplash.

Banyak rencana amburadul gara-gara COVID-19, tak terkecuali rencana klub-klub Eropa di bursa transfer pemain.

Banyak rencana amburadul gara-gara COVID-19, tak terkecuali rencana klub-klub Eropa di bursa transfer pemain.

COVID-19 merusak tatanan yang sudah disusun sedemikian rupa di kompetisi Eropa. Ajang Piala Eropa 2020 yang sejatinya digelar pada Juni dan Juli harus ditunda ke tahun 2021. Bukan cuma itu, pelaksanaan kompetisi liga sepak bola Eropa juga harus ditangguhkan selama beberapa bulan.

Memang, setelah melalui berbagai diskusi, terutama terkait protokol kesehatan yang mesti diterapkan saat liga berlangsung, pada akhirnya kompetisi sepak bola Eropa berlanjut. Musim 2019/20 kebanyakan rampung pada Juli. Namun, efek dari COVID-19 ini tidak hanya sebatas pada penangguhan jadwal semata.

Akibat COVID-19, klub-klub Eropa harus pandai-pandai dalam memutar uang. Pemasukan yang minim akibat laga yang digelar tanpa penonton atau hanya sekitar 50% kapasitas stadion yang terisi, ditambah tersendatnya penjualan merchandise, membuat klub mesti bijak dalam menggunakan uang.

Alhasil, beberapa kebijakan untuk menjaga kondisi keuangan pun dilakukan klub. Salah satu kebijakan yang marak diterapkan adalah pemotongan gaji. Barcelona, Real Madrid, Juventus, dan Chelsea adalah beberapa klub yang melakukan kebijakan potong gaji pada musim 2019/20 lalu.

Selain pemotongan gaji, salah satu kebijakan lain yang dilakukan klub adalah hemat belanja di bursa transfer. Nah, bicara kebijakan hemat transfer ini, ada dua tiga klub yang layak mendapatkan sorotan. Mereka adalah Paris Saint-Germain (PSG), Real Madrid, dan AC Milan.

Seperti apa kebijakan transfer yang mereka terapkan?

Real Madrid

Sebagai klub yang gemar mengumpulkan pemain bintang, kebiasaan jor-joran Real Madrid di bursa transfer sudah bukan barang baru. Pada musim 2019/20, mereka menghabiskan total dana sekitar 352,20 juta euro (per Transfermarkt) untuk membeli pemain-pemain macam Eden Hazard, Luka Jovic, Eder Militao, Rodrygo, serta Reinier.

Namun, pada musim 2020/21 ini, Madrid sama sekali tidak berbelanja di bursa transfer. Tercatat, mereka hanya memulangkan beberapa pemain macam Martin Odegaard, Takefusa Kubo, Sergio Reguilon, serta Alvaro Odriozola.

Namun, Kubo dan Reguilon langsung dilepas lagi. Kubo dipinjamkan ke Villarreal, sementara Reguilon dijual ke Tottenham Hotspur dengan klausul-beli kembali.

Selain merelakan Kubo dan Reguilon, Madrid juga melepas Achraf Hakimi (dijual ke Inter), James Rodriguez (dijual ke Everton), Gareth Bale (dipinjamkan ke Tottenham), dan Reinier (dipinjamkan ke Borussia Dortmund).

Padahal, sebelumnya Madrid dikaitkan dengan nama-nama tenar macam Paul Pogba, Kylian Mbappe, maupun Erling Haaland. Perkara kebijakan irit transfer ini, Presiden Real Madrid, Florentino Perez, membeberkan alasannya.

“Ya, situasi saat ini sangat buruk. Sulit juga bagi kami untuk meminta para pemain agar mau memotong gajinya lagi supaya kami bisa mendatangkan pemain bagus. Kami masih akan menunggu. Kami akan merekrut pemain lagi jika saatnya sudah tepat,” ujar Perez, dilansir ESPNFC.

“Kami banyak kehilangan pemasukan saat ini, terutama dari penjualan tiket pertandingan. Kurang lebih, dari situ, kami kehilangan pemasukan sebesar 25%. Saya harap, pemain mau mengerti dan jika kelak kami menerapkan kebijakan pemotongan gaji lagi, mereka mau menerimanya. Demi keselamatan klub,” tambahnya.

Apa yang diungkapkan oleh Perez bukan omong kosong. Dilansir AS, Madrid berpotensi kehilangan 195 juta euro gegara pandemi COVID-19. Lazimnya, Los Blancos memiliki tiga sumber pendapatan utama: Hak siar, penjualan tiket pertandingan, dan sponsor.

Nah, semestinya, jika laga berlangsung di Bernabeu dengan kehadiran penonton, Madrid bisa mendapatkan kurang lebih 822 juta euro. Namun, pendapatan mereka bisa berkurang hingga 627 juta euro akibat ketiadaan penonton.

Alhasil, Los Merengues memutar otak. Alih-alih melepas pemain begitu saja, mereka acap menaruh buy-back clause kepada pemain yang dijual ke klub lain. Ini, tentu saja, lebih menguntungkan ketimbang meminjamkan pemain ke klub lain.

Dengan menaruh buy-back clause, Madrid tetap bisa mendapatkan pemasukan sekaligus meringankan beban gaji --sesuatu yang mustahil didapat kalau cuma meminjamkan si pemain. Selain itu, Madrid masih mungkin untuk membeli si pemain lagi kalau ia bermain apik di klubnya sekarang.

Dari praktik seperti ini, mereka disinyalir bisa mendapatkan sekitar 100,2 juta euro.

Setidaknya, dengan kebijakan transfer ini, Madrid bisa menutupi sedikit kehilangan pemasukan akibat ketiadaan penonton yang hadir di pertandingan. Strategi ini berkelindan dengan strategi-strategi lain, seperti pemotongan gaji pemain, pelatih, dan staf klub, yang membuat Madrid mampu mengamankan dana setidaknya 25 juta euro.

PSG

Setali tiga uang dengan Madrid, PSG juga menjadi klub yang terbilang irit di bursa transfer kali ini. Per Transfermarkt, total Les Parisiens cuma menghabiskan dana sekitar 61 juta euro saja di bursa transfer. Itu pun kebanyakan hanya tersedot untuk mempermanenkan Mauro Icardi sekitar 50 juta euro.

PSG tidak mendatangkan nama-nama besar. Mereka hanya mendaratkan Sergio Rico, Alessandro Florenzi (pinjaman dari Roma), Moise Kean (pinjaman dari Everton), dan Rafinha (free transfer dari Barcelona). Uniknya, mereka justru melepas nama-nama besar yang selama ini jadi tulang punggung klub. Thiago Silva, Thomas Meunier, Eric Maxim Choupo-Moting, dan Edinson Cavani tak diperpanjang kontraknya. Mereka kemudian bergabung dengan klub masing-masing saat ini secara gratis.

Alhasil, Pelatih PSG, Thomas Tuchel, berselisih dengan Direktur Olahraga, Leonardo Araujo. Tuchel bisa mengerti kebijakan yang diterapkan oleh PSG, apalagi finansial klub juga terdampak COVID-19. Namun, ia juga ingin klub bertindak ketika pemain-pemain penting pergi.

“Saat ini, saya bisa bilang jika kualitas tim menurun. Jangan harap kami dapat meraih hasil yang sama seperti musim 2019/20 silam jika kekuatan tim cuma seperti ini. Ya, saat ini, kami hanya bisa terus berjuang bersama pemain-pemain macam Julian Draxler, Juan Bernat, dan Angel Di Maria,” ujar Tuchel, dikutip dari The Guardian.

Tuchel meminta penguatan di sektor depan, tengah, dan belakang. Ia ingin PSG menghadirkan satu penyerang, satu bek tengah, serta satu gelandang. Hal itu untuk mengkompensasi kepergian Silva, Cavani, dan beberapa pemain kunci lainnya. Tujuannya, agar PSG tetap bisa bersaing di kompetisi domestik dan Eropa.

Namun, menurut laporan PSG Talks, COVID-19 juga memengaruhi pendapatan dari PSG. Disinyalir, mereka diprediksi akan kehilangan pendapatan sebesar 300 juta euro pada 2020. Apalagi, tidak seperti kompetisi Eropa lain, Ligue 1 2019/20 benar-benar dihentikan akibat pandemi COVID-19.

Jadi, jika diakumulasi, PSG akan kehilangan pendapatan dari dua pos, yakni hak siar dan juga penjualan tiket pertandingan pada tahun 2020. Alhasil, mereka memutuskan untuk tidak banyak belanja demi menyelamatkan keuangan klub. Atas alasan ini pula, Leonardo sedikit berang kepada Tuchel. Ia pun memina Tuchel menghormati keputusan manajemen.

“Kata-katanya itu tidak saya sukai, demikian juga manajemen. Jika memang masih ingin di sini, hormati saja keputusan dari manajemen,” ujar Leonardo.

AC Milan

Ketika klub-klub besar Italia lain macam Inter Milan maupun Juventus menghabiskan banyak dana di bursa transfer, AC Milan justru hanya menghabiskan 22,98 juta euro saja. Mengapa demikian?

Pernah terjerat hukuman akibat melanggar Financial Fair Play, Milan jadi lebih bijak soal belanja pemain. Kebanyakan, Milan lebih banyak meminjam pemain muda potensial. Mereka menakar kemampuan pemain itu. Jika memang dinilai pas untuk tim, maka pemain itu akan dibeli.

Hal itulah yang pernah Milan coba lakukan untuk Simon Kjaer dan Alexis Saelemakers. Sempat mengalami masa peminjaman, akhirnya pada musim 2020/21 ini, keduanya dipermanenkan oleh Milan. Kini, Milan sedang mencoba peruntungan lain dengan meminjam Sandro Tonali, Brahim Diaz, dan Diogo Dalot.

Terlepas dari jerat Financial Fair Play, manajemen Milan memang Cuma menganggarkan dana sebesar 30 juta euro untuk belanja pemain di musim 2020/21. Hal ini tak lepas dari dampak COVID-19 yang menyerang keuangan Milan. Alhasil, mereka lebih banyak meminjam pemain.

Namun, dengan meminjam banyak pemain muda potensial, setidaknya itu jadi investasi tersendiri bagi Milan. Asal, mereka harus menyiapkan strategi untuk mempermanenkan pemain tersebut jika kelak masa peminjaman mereka habis dan mereka jadi andalan klub.

[Untuk pembahasan lebih mendetail soal kebijakan transfer Milan, Anda bisa membaca artikel berikut: Membangunkan Raksasa Tidur Bernama AC Milan]

***

Ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA), Andrea Agnelli, menyebut bahwa kebijakan klub dalam rangka penghematan biaya transfer merupakan hal yang lumrah. Ia mengungkapkan bahwa saat ini, klub mengemban tanggung jawab yang besar untuk mempertahankan stabilitas di tengah pandemi.

“Klub-klub harus sesegera mungkin memulai dialog bersama, karena luka dari krisis akibat pandemi ini bisa menjadi lebih dalam. Klub harus saling bekerja sama untuk mempromosikan diri, bersama para pemangku kebijakan, serta memiliki satu suara yang sama. Kami harus memastikan jika klub bisa tetap hidup,” ujar Agnelli.

Menilik pernyataan Agnelli, bisa disebut bahwa langkah yang dilakukan oleh manajemen Madrid, PSG, dan Milan sudah tepat. Untuk menjaga roda keuangan klub, penghematan di bursa transfer mesti dilakukan. Apalagi, klub juga kehilangan pendapatan dari beberapa sektor, terutama penjualan tiket pertandingan dan hak siar.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.