Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Hampa Tottenham Tanpa Kane dan Son

Foto: Twitter @SpursOfficial.

Kane dan Son begitu brilian. Mereka memikul tuntutan gol Tottenham dengan becus. Sialnya, itu tidak berlaku untuk para pemain lainnya.

Akhir November lalu kami telah berusaha membela Tottenham Hotspur. Khususnya, perkara ketergantungan mereka kepada Harry Kane dan Son Heung-Min. Betul bahwa peran keduanya begitu dominan, tetapi 'kan ada pemain lain yang layak jadi sorotan. Paling kentara, sih, Pierre-Emile Hojbjerg dan Sergio Reguilon--dua andalan Jose Mourinho di sektor berbeda.

Hojbjerg merupakan tipikal gelandang favorit Jose Mourinho. Jadi peredam serangan bisa, sebagai pelindung back-four pun oke. Kemampuan Hojbjerg terbilang komplet karena ia juga mahir mendistribusikan bola.

Sementara itu, Reguilon mampu menghapus keresahan Tottenham di sektor full-back kiri. Selain rajin membantu serangan, pemain berusia 24 tahun itu juga punya aksi bertahan yang oke. Rata-rata tekelnya berada di empat besar seluruh pemain Tottenham. Begitu juga dengan rata-rata intersepnya yang lebih tinggi daripada bek sentral reguler macam Toby Alderweireld dan Eric Dier.

[Baca: Siapa Bilang Tottenham Cuma Harry Kane dan Son Heung-Min Doang?]

Yang jadi soal, sepak bola ujung-ujungnya soal gol juga. Siapa yang lebih banyak bikin gol, merekalah yang menang. Sialnya buat Tottenham, mereka tak bisa mendapatkan garansi itu selain dari Kane dan Son.

Lihat saja, 26 dari total 36 gol Tottenham di Premier League diproduksi oleh keduanya. Artinya, cuma 10 gol yang bisa dibuat para personel The Lilywhites lainnya. Rinciannya, 3 gol dari Tanguy Ndombele, 2 dari Serge Aurier, lalu masing-masing sebiji via Gareth Bale, Giovani Lo Celso, Lucas Moura, Hojbjerg, dan Alderweireld.

Masalah? Sudah tentu. Candu terhadap satu-dua pemain bisa berakibat fatal. Iya kalau mereka selalu gacor dan bebas cedera, kalau tidak? Bubar jalan.

Liga adalah turnamen maraton yang membutuhkan konsistensi. Itu tak bisa didapat dari segelintir pemain saja. Syukur-syukur seluruh starting XI dan para pemain cadangannya sama bagusnya. Kalaupun sulit, setidaknya para pelatih wajib punya figur alternatif selain bintang andalannya. Dalam kasus Tottenham, ya, pelapis Kane dan Son sebagai pemasuk gol utama.

Ambil contoh sang pemuncak klasemen sementara, Manchester City. Mereka punya 5 pemain yang mengoleksi lebih dari 3 gol. Uniknya, topksorer gerombolan asuhan Pep Guardiola itu malah lahir dari sektor gelandang: Ilkay Guendogan dengan 9 gol.

Kemudian Manchester United yang tak lagi bersandar ke pundak Bruno Fernandes. Masih ada Marcus Rashford, Edinson Cavani, dan Anthony Martial yang sudah mengoleksi 18 gol bila dikalkulasi. Belakangan ini Scott McTominay juga menjadi alternatif goal getter 'Iblis Merah'.

Leicester City juga sama. Betul kalau Jamie Vardy masih mengemban tugas divisi produksi gol. Namun, topskorer Premier League 2019/20 itu tak sendirian. Dia ditemani Harvey Barnes, James Maddison, dan Youri Tielemans yang total berhasil menyumbang 18 gol. Itulah mengapa The Foxes mampu menjaga konsistensi dan menembus pos tiga besar sejak akhir Desember.


Tren negatif Tottenham dimulai saat berduel dengan Liverpool akhir Januari. Kane cedera dan mesti ditarik ke luar selepas rehat. Lini depan pasukan Mourinho pun tumpul. Dari tiga gol yang dibikin Liverpool, cuma satu berhasil mereka balas. Parahnya lagi, expected goals (xG) Tottenham di laga itu cuma menyentuh 0,10. Jauh tertinggal dari Liverpool yang mengumpulkan 2,59.

Absennya Kane terus menggerus produktivitas Tottenham. Dua kali dia absen, dua kali pula mereka kalah--nihil gol pula.

Salah satu faktornya, ya, karena Tottenham tidak memiliki striker yang selevel dengan Kane. Carlos Vinicius tak lebih dari sekadar penyeling Kane, khususnya, saat Tottenham manggung di Liga Europa dan Piala FA. Sekalinya dipasang jadi starter di Premier League, eks Napoli itu gagal moncer. 

Toleh saja saat Hugo Lloris cs. keok 0-1 dari Chelsea dan saat takluk dari Brighton and Hove Albion. Yang membuat kekalahan dari Brighton makin pahit, xG Tottenham hanya mencapai 0,37, sedangkan Brighton unggul jauh dengan 1,77 xG.

[Baca: Mengukur Ekspektasi Lewat xG]

Sebaliknya, angka harapan gol Tottenham meningkat drastis saat Kane kembali tampil versus West Bromwich Albion. Mereka menorehkan xG 1,93. Tottenham pun menang dua gol tanpa balas. Sepasang lesakan mereka lahir dari Kane dan Son.

See? Maaf saja, Tottenham memang enggak bisa ngapa-ngapain kalau Kane absen.


Tingginya urgensi Tottenham kepada Kane terkait dengan evolusi perannya sebagai seorang penyerang. Di bawah rezim Mourinho sekarang, Kane bukan sekadar striker tajam tetapi juga seorang playmaker ulung. Apalagi karena Tottenham memang tak punya gelandang yang bisa mengemban peran playmaker lagi setelah Christian Eriksen hengkang.

Penempatan posisi Kane tak melulu nangkring di garis terdepan lini depan. Topskorer Premier League dua kali itu juga dituntut bergerak ke tengah untuk menjemput bola. Lebih dalam ketimbang Son, malah.

Menyitat Sportlogiq, Kane juga menjadi pemain depan Tottenham yang sering menerima direct pass dari lini belakang. Dari situ kemudian dia menggelontorkan bola ke area-area strategis.

Pelebaran peran Kane itu terlihat dari rata-rata umpan kuncinya yang mencapai 1,6 per laga. Jumlah itu nyaris 2 kali lipat dari musim lalu yang hanya 0,9 di tiap pertandingannya.

Bila kurang yakin, toleh saja jumlah assist Kane yang menyentuh angka 11. FYI, Kane belum pernah meproduksi assist sebanyak ini sepanjang mentas di Premier League. Mentok-mentok cuma 7, itu pun pada periode 2016/17.

Simpelnya, sih, tugas Kane adalah menjemput bola kemudian menyalurkannya kepada Son di depan. Jadi bukan kebetulan kalau 9 dari 13 gol Son dibidani oleh Kane.

Sementara Son tak kalah pentingnya buat Tottenham. Dia adalah komponen vital Mourinho untuk melancarkan skema serangan balik. Kecepatan, kemampuan dribel, plus finishing yang oke jadi nilai jual pemain Korea Selatan itu.

Malah soal konversi peluang, Son lebih baik dari Kane. Total 13 gol dia bikin dari xG yang "cuma" 8,07. Dengan kata lain, Son mencetak 5 gol lebih banyak dari angka harapan golnya.


Sebenarnya Tottenham telah berusaha mengantisipasi ketergantungan Kane dan Son. Pada awal musim mereka meminjam Bale serta Vinicius dari Real Madrid dan Benfica. Secara tipikal, gaya main mereka mirip-mirip dengan duo jagoan itu meski faktanya amat jauh dari ekspektasi.

Steven Bergwijn, Erik Lamela, dan Lucas Moura juga tak diberikan jam terbang yang memadai. Lebih-lebih lagi Dele Alli yang cuma dipasang sekali.

Musim sudah lewat lebih separuh jalan. Tottenham masih nyangkut di peringkat delapan, terpaut 14 poin dari City. Kalau masih begini-begini saja, jangankan jadi juara, bisa-bisa mereka finis di luar empat besar nantinya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now