Kekerasan dan Label ‘Anak Emas’: Bagaimana Leeds dan Man United Saling Membenci

Foto: Yorkshire Evening Post.

Perseteruan lebih dari 500 tahun lalu terbawa sampai zaman modern; inilah perseteruan antara Leeds United dan Manchester United.

Ada banyak alasan mengapa Leeds United dan Manchester United saling membenci. Alasan paling tua adalah perkara perebutan kekuasaan antara House of York dan House of Lancaster pada abad ke-15.

York mewakili mawar putih, sementara Lancaster mewakili mawar merah. Pada era modern, warna tersebut mewakili jersi masing-masing kesebelasan, seolah-olah sejarah enggan berpaling dari takdir.

Namun, Leeds dan United berseteru bukan karena kentalnya takdir. Sedari awal, selayaknya York dan Lancaster, kota Leeds dan kota Manchester memang menyimpan rasa tidak suka satu sama lain.

Anda mungkin sudah sering mendengar cerita serupa, soal bagaimana kedua kota yang berdekatan saling bermusuhan. Biasanya, ceritanya tidak jauh-jauh dari motif ekonomi dan bisnis. Liverpool dan Manchester begitu, demikian pula Leeds dan Manchester.

Pada abad ke-18 dan ke-19, termasuk pada era Revolusi Industri, Leeds dan Manchester bersaing sebagai kota pengrajin. Leeds menghasilkan wol, Manchester katun. Bahkan sampai sekarang, menurut situs resmi United, kedua kota masih bersaing dalam hal mendatangkan investor.

Jika sepak bola bukan permainan belaka dan, seperti kata Bill Shankly, lebih genting daripada urusan hidup dan mati, kita bisa memahami perseteruan antara Leeds dan United ini. Ia, perseteruan itu, sudah hidup lebih lama daripada banyak pendukung kedua tim saat. Ia diwariskan turun-temurun.

Maka, ketika Don Revie dan Matt Busby sama-sama membangun tim yang mereka kira bisa menaklukkan Inggris, itu adalah hal yang tidak terelakkan. Leeds dan United seperti sudah digariskan untuk berebut dominasi.

Leeds dan Manchester sesungguhnya tidak bertetangga. Namun, jarak yang cukup berdekatan membuat keriuhan di satu rumah bisa terdengar sampai pekarangan rumah yang lainnya.

Jika yang satu baru membeli mobil mewah, ada kemungkinan yang lain iri dan ingin membeli barang serupa atau bahkan lebih bagus. Jika ada yang mengisi rumahnya dengan perabot mahal, yang lainnya mengisi dengan yang sama atau lebih mewah.

Begitulah yang terjadi di antara Leeds dan United. Jika Matt Busby memilih untuk mengumpulkan pemuda-pemuda berbakat yang bisa ia asah, Don Revie memilih membangun skuad penuh pemain badung yang tidak segan bermain keras.

Caranya beda, tetapi niatnya sama. Baik Busby maupun Revie ingin membangun tim yang lebih baik dari siapa pun. Keduanya pun mendapatkan berkah melimpah.

Pada 1960-an, United diperkuat oleh Bobby Charlton, George Best, Denis Law, Nobby Stiles, hingga Paddy Crerand. Sementara itu, Leeds diperkuat saudara Bobby, Jack Charlton, Billy Bremmer, Norman Hunter, hingga Johnny Giles yang ironisnya, bergabung ke Leeds setelah enam tahun memperkuat United.

Foto: The Busby Babe.

Karena permainannya yang keras, Leeds punya banyak musuh. Tidak cuma United saja, tetapi juga Chelsea. Berulang kali para pendukung Chelsea kesal karena Leeds seperti tidak berniat main dan terlihat lebih ingin baku hantam saja.

Sebagai rival, United jelas emoh tunduk pada permainan keras itu. Kalau bisa, mereka menghadapinya dengan sama sengitnya. Maka, pertemuan kedua tim pada era 1960-an bukan cuma menghadirkan laga-laga yang intens, tetapi juga kasar.

Pada semifinal Piala FA 1965, misalnya. Keduanya harus melakoni laga replay setelah bermain imbang 0-0 pada pertemuan di Hillsborough. Laganya boleh berakhir tanpa gol, tetapi pemain kedua kesebelasan berkubang dalam aksi tekel dan adu badan. Stiles sempat menghajar winger Leeds, Albert Johanneson, dengan tekel brutal, sementara Jack Charlton tak henti-hentinya bersitegang dengan Law.

Perseteruan itu meluas sampai ke tribune dan luar stadion. Yang bertanding Leeds dan United, yang rugi kota Sheffield. Begitu pertandingan beres, muncul berbagai laporan kerusakan dan perkelahian yang disebabkan atau melibatkan para suporter Leeds dan United.

Cerita serupa juga terjadi pada pertandingan replay di Nottingham, bahkan lebih parah. Tak lama setelah Leeds memenangi pertandingan dengan skor 1-0, para penonton menyerbu lapangan. Dalam kejadian tersebut, seorang suporter United yang berusia 16 tahun, memukul wasit Dick Windle sampai pingsan.

Perkelahian, baik di dalam maupun luar lapangan, adalah hidangan utama tiap kali Leeds dan United bertemu. Kendati begitu, yang satu seperti tidak bisa hidup tanpa yang lainnya.

Tidak peduli seperti apa pun kondisi sang lawan, yang lainnya tidak bisa tidak mengindahkan begitu saja. Banyak pendukung Leeds beranggapan bahwa media bias kepada United. Tidak peduli seburuk apa pun United, mereka mengganggap The Red Devils selalu mendapatkan keistimewaan.

Label “anak emas media” pun mereka sematkan pada United. Para pendukung Leeds tidak akan heran apabila highlight pertandingan United selalu ditayangkan lebih dulu pada program milik BBC, Match of The Day.

Ketika Leeds berjaya pada pertengahan 1970-an, dengan menjuarai Piala FA pada 1972, Liga Inggris pada 1974, dan tampil di final European Cup (sekarang Liga Champions) pada 1975, United justru terdegradasi pada 1974.

Nasib nahas United tidak lantas membuat Leeds menjadi cuek. Buktinya, pada 1976, ketika United sudah mentas lagi di divisi teratas, persaingan itu tetap panas. Yang satu tidak bisa tidak mengindahkan yang lainnya.

Ini mirip dengan apa yang terjadi pada musim 2020/21 ketika Leeds akhirnya kembali lagi ke Premier League. United, yang sudah menjalani 16 tahun perjalanan di divisi teratas tanpa kehadiran Leeds, nyatanya menyambut dengan tangan terbuka, lengkap dengan segudang olok-olok, begitu berhadapan dengan musuh bebuyutan mereka.

Ketika United menang 6-2 pada pertemuan pertama di Old Trafford, para pendukung mereka dengan entengnya berkata: “Mereka absen 16 tahun cuma buat kembali dan dipermalukan di Old Trafford.”

***

Kabarnya, warna merah dibenci di Leeds. Dan ini tidak hanya sebatas kebencian pada United saja, tetapi terhadap seluruh warna merah. Don Revie bahkan pernah menyindir baju merah yang dikenakan istri wartawan Yorkshire Evening Post, Don Warters, karena mengingatkannya pada Liverpool.

Ironisnya, Leeds tidak sekali atau dua kali saja menjadi penyuntik darah—yang juga berwarna merah—kepada United.

Leeds selamanya akan dikenang sebagai juara terakhir Liga Inggris sebelum beralih format ke Premier League. Ketika mereka menjadi kampiun pada 1991/92, ada seorang pemain yang turut serta di dalamnya. Namanya Eric Cantona.

Eric Cantona, bersama Alex Ferguson, ketika baru bergabung dengan Man United.

Pada musim itu, Leeds finis di posisi pertama, sedangkan United, yang tertinggal empat poin, finis di urutan kedua. Musim berikutnya, Cantona dijual ke United dan tampuk kekuasaan berganti. Lantas, sisanya adalah sejarah.

Cantona bukanlah yang pertama dan bukanlah yang paling akhir. Di belakangnya, ada dua pemain yang mengikuti dengan seksama: Rio Ferdinand dan Alan Smith. Kini, Raphinha kabarnya juga digoda untuk bergabung dengan United.

[Baca Juga: Elegi O’Leary Babes]

Yang pindah dari United ke Leeds lebih banyak lagi: Johnny Giles, Brian Greenhoff, Gordon Strachan, Lee Sharpe, hingga almarhum Liam Miller. Namun, nyaris tidak ada di antara pemain-pemain ini yang mendapatkan perlakuan kejam dari mantan suporter.

Lain cerita dengan Joe Jordan dan Gordon McQueen. Pada 1978, ketika persaingan Leeds dan United masih sama panasnya seperti era 1969-an, keduanya hengkang dari Leeds ke United dengan nilai transfer mencapai 850 ribu poundsterling.

Pada musim berikutnya, ketika Jordan dan McQueen kembali bermain di Elland Road—tetapi kali ini dengan balutan kostum merah—Anda bisa bayangkan sendiri makian seperti apa yang mereka terima.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.