Manchester United vs Liverpool: Peran Krusial para Full-Back

Luke Shaw ketika berduel dengan Mohamed Salah. Foto: Planet Football.

Full-back, baik untuk Manchester United maupun Liverpool, mendapatkan peran yang amat penting. Bukan tidak mungkin juga para full-back bisa menjadi penentu pada duel antara kedua tim.

Membahas duel Manchester United dan Liverpool, tetapi alpa menyebut bagaimana para full-back acap mengambil peran penting di dalamnya, bagaikan memanggang brisket pelan-pelan selama berjam-jam, tetapi lupa membumbuinya. Hambar dan mubazir.

Tidak sulit, tentu saja, menyebut para full-back yang pernah ambil bagian dalam duel ini. Gary Neville dan Denis Irwin adalah dua di antaranya. Lalu, ada juga Mikael Silvestre yang mendapatkan debutnya bersama United pada laga melawan Liverpool. Ada juga Patrice Evra yang loyalitasnya membabibuta.

Dari kubu Liverpool, mudah untuk menyebut Steve Finnan, Jon Flanagan, hingga Jamie Carragher. Yang disebut terakhir memulai karier sebagai full-back sebelum mendapatkan hidup (dan karier) yang lebih baik sebagai seorang bek tengah.

Carragher sendiri pernah mengeluarkan kelakar soal full-back. “Tidak ada,” kata Carragher, “yang tumbuh besar dan bercita-cita jadi full-back. Tidak ada yang tumbuh besar dan bercita-cita menjadi Gary Neville.”

Carragher melanjutkan kelakarnya dengan mengatakan bahwa mereka yang menjadi full-back adalah seorang bek tengah atau winger yang gagal. Neville sendiri mengakui bahwa ia awalnya memang seorang bek tengah, tetapi kemudian menjadi full-back. Dari kesaksian lain milik Sir Alex Ferguson, Neville diketahui gagal menjadi bek tengah karena kurang tinggi.

Sedemikian insignifikannya seorang full-back kalau dilihat dari deretan olok-olok itu sampai kita melupakan bahwa Cafu dan Roberto Carlos bertahun-tahun menghibahkan karier mereka di posisi itu. Ironisnya, kita pun menikmatinya dengan seksama.

Pada akhirnya, taktik sepak bola berkembang dan mengalami siklus. Dalam beberapa musim terakhir, kita melihat betapa krusialnya peran full-back. Ketika tren taktik berkembang pada permainan via sayap, di situlah para full-back tersorot dan mendapatkan aplaus kembali.

Liverpool paham betul soal yang satu ini. Ketika duet full-back mereka, Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson, bercanda di media sosial soal jumlah assist siapa yang paling banyak, mereka tidak sedang bersikap pongah atau hendak pamer. Kenyataannya, peran keduanya memang krusial dalam skema Liverpool.

Foto: Twitter @TrentAA.

Dalam dua musim, dari 2018/19 hingga bulan Juli pada musim 2019/20, duet Robertson dan Alexander-Arnold bisa membukukan total 45 assist di Premier League. Melihat angkanya, Liverpool beruntung karena seolah-olah punya dua playmaker sekaligus dari sisi sayap.

Pada musim 2020/21, kedua sisi sayap itu masih menjadi andalan Liverpool dalam melakukan serangan. Sampai pekan ke-33 Premier League musim ini, WhoScored mencatat bahwa 36% serangan Liverpool berasal dari sisi kanan, 36% berasal dari sisi kiri, dan 27% dari tengah. Catatan lain juga menunjukkan bahwa peran Robertson dan Alexander-Arnold masih krusial dalam proses serangan Liverpool.

Statistik area serangan Liverpool. Foto: WhoScored.

Dari data yang dihimpun oleh Understat, Alexander-Arnold membukukan rata-rata 2,02 umpan kunci per 90 menit. Sementara itu, Robertson membuat 1,62 umpan kunci per 90 menit. Kedua catatan ini menjadikan Alexander-Arnold dan Robertson masuk dalam lima besar pencipta umpan kunci terbanyak di Liverpool.

Tentu ada anggapan bahwa performa Alexander-Arnold menurun ketimbang musim lalu. Anggapan ini wajar kalau melihat bagaimana jumlah assist-nya tak sebaik musim lalu. Sampai pekan ke-33 musim ini, dari total 2.583 menit bermain, Alexander-Arnold baru membuat 5 assist. Bandingkan dengan musim lalu ketika ia membuat 12 assist dari total 3.176 menit bermain.

Ada beberapa faktor, tentu saja, yang membuat catatan tersebut menurun. Belakangan, para pemain bertahan lawan sudah mulai sadar bahwa Alexander-Arnold adalah salah satu kunci serangan Liverpool. Oleh karena itu, mereka lebih telaten dalam mengawalnya.

Hal tersebut lantas berdampak pada jumlah crossing, yang merupakan salah satu senjata Alexander-Arnold, yang menurun. Jika pada musim 2019/20 diia bisa melepaskan 2,1 crossing per laga, musim ini rata-rata dia hanya bisa melepaskan 1,6 crossing per laga.

[Baca Juga: Harap Maklum Kalau Jumlah Assist Alexander-Arnold Menurun]

Repotnya, sisi yang akan dihadapi Alexander-Arnold pada laga melawan United di Old Trafford, Minggu (2/5/2021), justru merupakan sisi yang sedang panas-panasnya belakangan ini.

Berseberangan dengan Alexander-Arnold, ada Luke Shaw yang menemukan gairah bermain sepak bola lagi musim ini. Ada sejumlah faktor yang membuat Shaw—yang aslinya memang berbakat—berpendar dan menjadi salah satu pemain penting buat United musim ini. Salah satunya adalah kebugaran yang lebih baik.

[Baca Juga: Bukan Neverland untuk Luke Shaw]

Ketika baru datang ke Old Trafford sebagai caretaker, Ole Gunnar Solskjaer mengeluhkan level kebugaran pemain-pemain United. Pada banyak kesempatan, Solskjaer melihat pemain-pemain United dengan mudahnya dilibas oleh lawan.

The Athletic lantas menyebut bahwa problem tersebut muncul karena terjadi perombakan pada departemen sports science pada era Jose Mourinho. Karena lebih percaya pada pengamatan, Mourinho memilih untuk merombak ruang yang tadinya didedikasikan untuk departemen sports science menjadi ruang untuk memijat para pemain.

Dampaknya besar. Data mengenai perkembangan kebugaran pemain yang tadinya terekam dengan baik akhirnya terhenti begitu saja. Begitu Solskjaer dan tim kepelatihannya mengambil alih, mereka harus membangun dan merekam ulang level kebugaran para pemain.

Ketika level kebugaran yang diinginkan itu berhasil dicapai, dampaknya pun amat signifikan. Musim ini, United cuma satu kali mendapatkan libur pertandingan pada midweek, yakni sebelum pertandingan melawan Leeds United di Elland Road. Namun, di tengah jadwal yang padat itu, para pemain ‘Iblis Merah’ relatif bisa mempertahankan konsistensi permain mereka.

Shaw adalah salah satu yang mengambil manfaatnya. Sekalipun punya teknik bagus, ia sering berkutat dengan cedera. Musim ini, ia sudah bermain 29 kali di Premier League dari total 33 laga yang bisa ia mainkan. Sebagai perbandingan, ia hanya tampil 24 kali sepanjang musim 2019/20.

Per catatan Understat, Shaw bisa mengkreasikan 2,49 umpan kunci per 90 menit di Premier League musim ini. Di skuad United, jumlah tersebut hanya kalah dari Bruno Fernandes yang membukukan 2,82 umpan kunci per 90 menit.

Heatmap Luke Shaw. Foto: Sofascore.

Karena level kebugaran yang lebih baik juga, work rate Shaw meningkat. Data heatmap yang diperlihatkan Sofascore menunjukkan bahwa ia tidak melulu menyisir tepi lapangan, tetapi juga seringkali menusuk ke tengah, entah itu di own third (sepertiga lapangan tim sendiri), middle third, ataupun final third. Shaw sering mengisi ruang di tengah ketika lawan berhasil merebut bola di final third, memastikan pressing United di lini depan tetap terjaga.

Belakangan Shaw cukup terbantu dengan kehadiran Paul Pogba sebagai false winger di sisi kiri. Keputusan Solskjaer untuk memainkan Pogba di sisi kiri dalam formasi 4-2-3-1, memang membuka banyak kemungkinan.

Berbeda dengan Marcus Rashford ataupun Anthony Martial yang memilih untuk menaklukkan lawan dengan dribel menusuk, Pogba memilih untuk melakukan passing dan melakukan kombinasi operan dengan Fernandes ataupun Edinson Cavani. Cara lain yang biasa ia lakukan adalah bergerak ke tengah atau mengeksploitasi halfspace.

Gol pertama United ke gawang AS Roma pada leg I semifinal Liga Europa adalah contohnya. Pada prosesnya, Pogba, yang mengusai bola di kiri, memilih bergerak ke tengah alih-alih melakukan dribel menusuk ke dalam kotak penalti. Ia kemudian melakukan operan kombinasi dengan Cavani dan Fernandes, yang kemudian berujung pada gol pemain yang disebut terakhir itu.

Pemosisian Pogba di kiri juga membuat Shaw lebih leluasa. Kini, ia bisa mendapatkan ruang ketika gelandang asal Prancis tersebut menarik lawan dengan bergerak ke tengah.

Impak lain dari posisi baru Pogba adalah bagaimana full-back kanan United, Aaron Wan-Bissaka, kini lebih leluasa untuk naik hingga ke kotak penalti lawan. Gol kedua Cavani pada laga melawan Roma bisa menjadi contoh. Pada prosesnya, gol itu berawal dari sepakan Wan-Bissaka yang berdiri tak terkawal di kotak penalti I Lupi. Bola rebound hasil sepakan sang bek kemudian disambar oleh Cavani.

Dahulu ketika Pogba bermain sebagai salah satu pivot di lini tengah, harus ada satu orang yang mengisi ruang yang ia tinggalkan ketika ia bergerak naik. Tugas itu biasanya dijalani oleh Wan-Bissaka. Kini ketika Pogba bisa bermain lebih tinggi tanpa ada kekhawatiran meninggalkan ruang di area sentral lapangan, Wan-Bissaka pun lebih leluasa untuk maju.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.